Bajo Derese: Dilema Suku Laut (Ekspedisi Pasarwajo-Wabula 5)


JIKA ada yang bertanya suku apakah yang sesungguhnya menaklukan laut, maka barangkali Suku Bajo adalah jawabannya. Kiprah dan jejak suku ini dalam menantang laut tak perlu dipertanyakan lagi. Laut adalah semesta yang setiap hari diakrabi dan diarungi hingga batas terjauh. Suku Bajo adalah pengelana laut yang paling memahami asinnya air laut dan menjadikan laut sebagai kanvas yang mengasah kehidupan mereka.

Seseorang yang lahir di suku ini sudah diperkenalkan dengan laut dalam usia yang baru beberapa hari. Sebagaimana seorang pelukis, lautan tidak sekedar wadah untuk mengasah kreasi. Lautan adalah kanvas yang digoreskan dengan kuas kehidupan. Laut adalah nyawa yang memelihara eksistensi orang Bajo sebagai pengelana dan penakluk lautan.

Saat melintas di Desa Holimombo, Kecamatan Wabula, saya melihat hamparan perkampungan Suku Bajo yang elok dipandang mata. Warga Bajo di situ menyebut kampungnya sebagai Bajo Berese, untuk membedakan perkampungan itu dengan suku Bajo lain yang banyak tersebar di Buton. Jika dilihat dari ketinggian, maka perkampungan tersebut sangat indah dan kelihatan bersahaja. Suku Bajo menata kampungnya di atas lautan di mana letak semua rumah-rumah itu berdekatan. Mereka seakan mengelilingi jalanan yang dibuat dengan titian dan menghubungkan banyak rumah. Sebegitu indahnya pemandangan yang saya saksikan, sampai-sampai kamera yang kugunakan untuk memotret seakan tak mampu menggantikan mataku yang menangkap keindahan itu.

Bahasa yang sehari-hari dgunakan di sini adalah bahasa Baong Sama. Namun rata-rata wagra Bajo bisa berbahasa Cia-cia, serta Wanci. Makanya, interaksi warga Bajo Berese dengan warga lainnya bisa berjalan lancar. Ada tiga desa yang berdekatan yaitu Desa Tolando yang berbahasa Cia-cia, Desa Dongkala atau Kondowa yang sebagian berbahasa Wanci. Sementara bahasa Wolio hanya dikuasai oleh para tokoh adat, yang dulunya selalu berhubungan dengan Keraton Buton.

Saya pernah membaca sejumlah literatur tentang suku Bajo. Di antaranya dari antropolog asal UGM, Heddy Shri Ahimsa Putra. Sayangnya, analisisnya terlampau memihak ke Sulsel. Katanya, suku Bajo punya relasi erat dengan Kerajaan Wajo di Sulsel. Bukannya saya skeptis dengan analisis ini, namun analisis itu hanya merangkum tafsir dari orang Sulsel saja –yang sejak dulu hegemonik dan merasa dirinya sebagai mata air kebudayaan di Indonesia timur.

Namun, kalau ditanyakan pada orang Bajo sendiri, maka boleh jadi kita akan menemukan variasi jawaban yang berbeda. Dalam bab 2, buku Wild Profusion: Conservation and Biodiversity in Togean Island, yang ditulis ilmuwan Inggris, Celia Loew, dituliskan syair Bajo yang menyebutkan bahwa “ilmu tertinggi orang Bajo bisa ditemukan di Kaledupa.” Penelitian Celia di perkampungan Bajo yang ada di Pulau Togean, SUlawesi tengah, menemukan variasi yang berbeda dengan analisis Ahimsa di atas. Ternyata, ilmu tertinggi –dan boleh jadi nenek moyang Bajo—terletak di Kaledupa. Dan hingga kini belum banyak yang meneliti di Kaledupa. Tampaknya, Celia tidak paham kalau Kaledupa adalah salah satu pulau yang terletak di Kepulauan Wakatobi. Di pulau itu, terdapat banyak perkampungan suku Bajo

Kembali ke soal Bajo Berese. Saya menyaksikan ada jalan yang dibuat dari beton dan menghubungkan daratan Pasarwajo dengan perkampungan Bajo. Jalanan itu dibuat pemerintah yang juga bisa berfungsi sebagai pelabuhan bagi orang Bajo. Menurut orang Bajo yang saya tanyai, pembangunan jalan itu dulunya mengandung kontroversi. Ada sejumlah kalangan di Bajo yang tidak setuju karena jika ada jalan tembus dari darat, maka boleh jadi orang Bajo akan meninggalkan tradisi rumah panggung yang menancap di laut. Mereka bisa berpaling ke rumah batu, sehingga dikhawatirkan akan merusak khasanah kebersahajaan orang Bajo. Namun, banyak juga generasi yang lebih muda di Bajo yang setuju dengan rencana itu. Mereka bilang, meskipun rumah batu, namun rumah itu tetap berdiri kokoh di tengah lautan. Ciri khas Bajo tetap lestari yaitu sebagai bangsa yang berdiri kokoh di atas lautan.

Perdebatan itu adalah dilema yang menunjukkan posisi orang Bajo yang digempur modernisasi. Ketika melihat suku Bajo Berese, temanku Nas dalam posisi membela kelompok tradisional di Bajo. Sementara saya lain lagi. Menurut saya, kebudayaan Bajo jangan diromantisasi. Mereka harus bersentuhan dengan kemajuan dan perubahan, tanpa harus meninggalkan kebudayaan mereka. Dalam bahasa filosofis, Bajo boleh berubah, namun dia tetaplah Bajo. Saya kira demikian.(*)


20 AGustus 2008
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...