Sepenggal Kisah Ayah NADIEM dalam Disertasi


Nadiem Makarim

Bukan hal yang mengejutkan jika Nadiem Makarim langsung menggebrak. Ayahnya pernah disebut-sebut sebagai “orang tercerdas di masa Orde Baru.” Ayahnya punya latar belakang aktivis dan pernah menumbangkan Sukarno, kemudian menjadi intelektual terpandang, lalu pengacara sukses.

Nadiem bisa saja berkomentar kalau sekolah bukan segala-galanya. Tapi kakek hingga ayahnya berpandangan berbeda. Nadiem tumbuh di tengah keluarga yang menempati kelas menengah mapan dan kritis di masa Orde Baru.

Saya menemukan kiprah ayah Nadiem yakni Nono Anwar Makarim dalam disertasi berjudul Indonesia's New Order, 1966-1998: Its Social and Intellectual Origins yang ditulis Sony Karsono di Ohio University tahun 2013. Disertasi ini membahas para intelektual di masa Orde Baru.

Dalam disertasi itu, Sony Karsono memetakan tiga poros penting intelektual di masa Orde Baru.

Pertama, kelompok intelektual yang membantu Presiden Soeharto untuk modernisasi. Mereka adalah pemikir Widjojo Nitisastro, Ali Murtopo, Daoed Joesoef, Harry Tjan Silalahi, dan Jusuf Wanandi.

Kedua, intelektual yang berdiri di luar kekuasaan dan membangun wacana tanding. Tiga tokoh penting di sini adalah Nono Anwar Makarim, Ismid Hadad, dan Dawam Rahardjo. Mereka mendorong tema-tema keadilan sosial agar pemerintah tidak melulu bicara pembangunan ekonomi. Mereka mendirikan LP3ES yang menjadi garda depan pemikiran kritis di masa itu.

Ketiga, kelompok sastrawan yang menggunakan sastra sebagai medium untuk menyampaikan kritik pada situasi negara. Tiga sosok yang dibahas adalah Motinggo Busye, Yudhistira Massardi dan Teguh Esha.

Baiklah kita fokus pada Nono Anwar Makarim. Nono berasal dari keluarga keturunan Arab. Ayahnya, Anwar Makarim, adalah seorang notaris yang selalu menekankan kerja keras pada anak-anaknya. Anwar sempat mencoba untuk bisnis, tetapi gagal. Dia tidak cocok berbisnis. Dia lebih cocok menjadi intelektual.

BACA: Erick Thohir dalam Catatan Profesor Amerika

Nono mengenang ayahnya adalah sosok yang kritis dan selalu menumbuhkan iklim dialog dengan anak-anaknya. Dia senang berdiskusi. Sedangkan ibu Nono adalah cucu dari Awab Soengkar Aloermei, pendiri perusahaan tekstil terbesar di Solo, serta kawan dekat Pakubuwana X, penguasa tradisional Surakarta. Ibunya sangat menekankan pentingnya kehidupan religius.

Nono dibesarkan dalam dua model pendidikan yakni Islam dan barat. Kakinya memijak dua sisi tersebut sehingga dirinya terbiasa dengan berbagai macam model pemikiran. Nono terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 1959, namun baru dinyatakan lulus tahun 1973.

Dia kuliah selama 12 tahun. Mengapa? Ada dua alasan. Pertama, dia menyebut dirinya seorang bohemian yang hidupnya tidak teratur. Kedua, dia menempuh jalan sebagai aktivis dan bersahabat dengan sejumlah pemikir, di antaranya Arief Budiman, Fikri Jufri, Goenawan Mohamad, dan Salim Said.

“Pada masa itu kami lapar dengan ide-ide baru. Sementara dosen di kampus tidak bisa mengatasi rasa lapar itu. Kami lalu membentuk kelas-kelas kajian di Gang Ampiun, Cikini, dan kadang-kadang di rumah Wiratmo Sukito,” katanya.

Ketika aksi-aksi marak pada tahun 1960-an demi melawan penetrasi Partai Komunias Indonesia (PKI), Nono ikut bergabung dalam pergerakan. Dia pemimpin redaksi harian Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), yang saat itu sangat produktif melahirkan banyak wacana pergerakan.

Hingga akhirnya Orde Baru lahir, dan sejumlah aktivis bergabung ke parlemen.  Di tahun 1971, muncullah lembaga think tank yang menjadi partner pemerintahan Orde Baru untuk merumuskan pembangunan dan modernisasi. Intelektual keturunan Tionghoa yakni Harry Tjan Silalahi dan Jusuf Wanandi lalu menghimpun sejumlah intelektual lain demi mendirikan Center for Strategic of Indonesian Studies (CSIS).

Nono Anwar Makarim, Ismid Hadad, dan Dawam Rahardjo juga membentuk satu kelompok pemikir yang membangun wacana kritis atas kebijakan pembangunan Orde baru.

“Di tahun 1965, saya adalah pemimpin mahasiswa. Saya ikut berdemonstrasi dan menjatuhkan pemerintah karena retorika nation building dari pemerintah tidak bisa menghadirkan harga-harga murah. Rakyat kelaparan. Mereka butuh beras, pakaian, minyak tanah,” katanya dalam disertasi Sony Karsono.

Nono Anwar Makarim semasa muda

Saat Orde Baru tumbuh, datanglah mafia Berkley, sebutan bagi sejumlah ekonom alumnus Berkley yag mendesain kebijakan ekonomi pemerintah. Nono mulai mengalami kegelisahan. Dia senang karena PKI disingkirkan, tetapi dia juga tidak senang melihat bagaimana munculnya dominasi militer dalam percaturan politik Orde Baru.

Di tahun 1971, Nono menikah dengan Atika Algadrie. Atika adalah putri pemimpin PSI, Hamid Algadrie, yang merupakan salah satu tokoh perintis kemerdekaan.

Setelah itu, dia berangkat ke Negeri Paman Sam. Awalnya, ia menjadi fellow researcher di Centre for International Affairs Harvard University, AS. Pengalaman yang paling membekas dirinya ketika itu adalah Harvard begitu dipenuhi oleh orang pintar. Ia merasa kalau ada orang pintar dan arogan, sebaiknya sekolah di Harvard.

Ia yakin setelah bersekolah di sana akan berubah 180 derajat, dan bukan tidak mungkin menjadi rendah diri karena banyak yang jauh lebih pintar dan cemerlang di sana. Ia melihat seorang profesor justru bekerja lebih keras dari mahasiswanya.

Nono menuturkan, buku kuliahnya untuk materi Law International Trade di Harvard bahkan lebih tebal dibandingkan dengan diktat kuliah mulai dari program persiapan sampai sarjana di FHUI.

Suatu waktu ketika masih di Harvard karena merasa begitu banyaknya orang cerdas dan berbakat di sana, ia sampai menulis surat ke ayahnya: Semua hal yang cerdas untuk dikatakan, yang perlu dikatakan, dan yang kalau dikatakan akan merubah pikiran orang, itu sudah dikatakan oleh graduate student dan bukannya oleh profesor.

Tahun 1978 Nono menyelesaikan studinya di Harvard. Disertasinya bertajuk Companies and Business in Indonesia. Apa daya, meski mengantongi gelar master dan doktor juridical science dari Harvard Law School, dia tidak bisa langsung mengajar di FHUI.

Dia terhalang birokasi karena untuk menjadi dosen harus berstatus pegawai negeri. Nono langsung patah hati. Dia banting stir menjadi pengacara, profesi yang belakangan diakuinya bukan profesi dambaannya. Padahal, dia besar karena dunia aktivis, jurnalis, dan politik.

Bahkan banyak teman-temannya menuding Nono mencari uang, ketimbang melanjutkan kerja-kerja aktivismenya. Dia tetap menjadi advokat. Dia ingin mendedikasikan hidupnya untuk membela mereka yang terpinggirkan. Bersama rekannya Frank Taira, dia mendirikan Makarim-Taira Law Firm di tahun 1980 dan menjadi firma hukum yang dicari banyak klien.

Lingkaran keluarga Nono adalah para terpelajar yang sukses di bidang masing-masing. Istrinya Atika Algadri adalah lulusan magister dari Harvard. Atika adalah mantan reporter di harian KAMI, bersama Widarti (istri Goenawan Mohamad).

Atika juga co-founder atau pendiri Femina, majalah yang mengangkat isu-isu perempuan pada masa Orde Baru. Tahun 1987, Atika mendirikan Yayasan Lontar yang berkontribusi pada dunia sastra Indonesia.

Mayjen Zacky Anwar Makarim

Anak-anak Nono dan Atika semuanya menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Mereka sukses di bidang berbeda. Rayya Makarim menjadi salah seorang penulis skenario yang sering mendapat penghargaan. Dia lulus magister dari University of London. Selanjutnya Hana Makarim lulus magister dari Yale University tahun 1987, kini bekerja di BKPM. Terakhir, Nadiem Makarin yang lulus dari Harvard.

Bahkan paman dan bibi Nadiem juga sama hebatnya. Chaidir Anwar Makarim adalah profesor geologi di Univesitas Tarumanagara, Mayjen (Purn) Zacky Anwar Makarim adalah perwira tinggi militer yang pernah menjabat Kepala Badan Intelijen ABRI, Dr Irma Anwar Makarim bekerja sebagai pengajar di UI.

*** 

Saya teringat pada buku Outliers yang ditulis Malcom Galdwell tahun 1980. Kata Galdwell, kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain.

Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Galdwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Galdwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek tertinggi di hutan bukan semata-mata karena dia paling gigih. Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Dukungan lingkungan adalah hal yang sangat ditekankan oleh Galdwell. Secerdas apa pun seseorang, jika tidak tumbuh di lingkungan yang gembur, pasti akan tumbuh meranggas. Sebab dukungan orang tua, lingkungan, dan arena bermain adalah kunci yang menjelaskan kesuksesan seseorang.

Dalam hal Nadiem, kita melihat sesuatu yang tidak instan. Dia bisa besar karena dia tumbuh di rahim keluarga yang juga besar. Sejak belia, dia sudah mendengar kisah hebat ayahnya sebagai intelektual terkemuka di masa itu. Dia dibesarkan oleh ayah dan ibu yang keduanya alumni Harvard, universitas terbaik di dunia.

“Kita memasuki era ketika gelar bukan lagi jaminan kompetensi,” kata Nadiem. Pernyataan ini jelas bertentangan dengan falsafah di keluarganya. Ayah, ibu, hingga kakaknya, lalu paman dan bibi adalah alumnus magister dari kampus-kampus besar. Mereka punya kompetensi di berbagai bidang masing-masing.



Mungkin yang dimaksudkan Nadiem adalah kompetensi sesuai gelar. Misalnya dirinya adalah alumnus Hubungan Internasional, tetapi bekerja di bidang teknologi. Dia hendak berkata bahwa pendidikan harusnya membebaskan. Seorang siswa bebas memilih hendak jadi apa.

Yang dilupakan Nadiem, pernyataan itu bisa membuat orang berpikir bahwa tak perlu kerja keras mengejar gelar. Orang bisa bermalas-malasan ketimbang menerima kewajiban baca dari lembaga pendidikan. Andaikan pernyataan itu dikemukakan Susi Pudjiastuti, publik akan mafhum. Sebab Susi adalah anomali dari manusia Indonesia yang mendamba gelar demi kesuksesan. Susi bisa sukses berkat kecerdasan yang ditempanya dari pengalaman berbisnis.

Pelajaran buat semua orang Indonesia adalah jika ingin punya anak hebat seperti Nadiem Makarim, tidak semudah itu. Anda mesti menjadikan diri Anda hebat, bangun kultur hebat sehingga potensi anak hebat bisa tumbuh subur. Limpahi dengan kasih sayang serta visi yang kuat agar seorang anak mengejar apa yang menjadi mimpinya.




8 comments:

  1. Kenapa hanya saya yang berani berkomentar disini? karena saya hanya tamatan Sekolah Dasar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak penting lulus di mana om. yang penting adaah selalu gembira dan bahagia.

      Delete
  2. Kisah yang menarik, ternyata memang kisah suksesnya bukan sesuatu yang datang dari ketiadaan melainkan perjalanan panjang yang melintas generasi.

    ReplyDelete
  3. Wah tulisannya mantap. Nuh sy berani komentar karena dikawal buaya wkwk

    ReplyDelete
  4. Di artikel ini https://www.forbes.com/sites/angelauyeung/2017/10/17/richest-women-2017-forbes-400/#246929f77f24 juga dibilang kalau kebanyakan org kaya karena warisan dan berpendidikan tinggi. Hanya sebagian kecil yang mulai dari 0 dan berpendidikan rendah. Kesimpulannya, kita bekerja keras untuk anak cucu kita. Namun, jangan apriori dengan mereka yang sukses karena mereka juga cerdas. Punya privilege kalau tak bisa mendayagunakan sama saja boong.

    ReplyDelete
  5. 1959-1973 itu 14 tahun bang..

    ReplyDelete
  6. indah8:41 PM

    Jadi bisa di bilang Kesuksesan atau Jadi Orang Besar itu merupakan Warisan atau Turunan ??? Jadi gimna dong nasib orang2 di luar sana yg tdk punya keberuntungan lahir dari Keluarga yg "Besar", kita tdk bisa memilih dari keluarga mana kita lahir atau berasal.

    ReplyDelete
  7. Anonymous8:42 PM

    Jadi bisa di bilang Kesuksesan atau Jadi Orang Besar itu merupakan Warisan atau Turunan ??? Jadi gimna dong nasib orang2 di luar sana yg tdk punya keberuntungan lahir dari Keluarga yg "Besar", kita tdk bisa memilih dari keluarga mana kita lahir atau berasal.

    ReplyDelete