Laskar Digital untuk Menaklukkan BRIGITTA LASUT


Hillary Brigitta Lasut

Ketika Hillary Brigitta Lasut memimpin sidang MPR RI, terbersit banyak harapan kalau telah lahir generasi baru yang akan mengelola politik dengan cara-cara milenial, minimal dia akan menggunakan media sosial secara efektif untuk mengelola pesan dan aspirasi politik.

Tapi setelah beberapa bulan berlalu, dia tak selincah anak muda bernama William Aditya Sarana, kader PSI yang menggunakan medsos untuk membuka praktik anggaran di DKI Jakarta. Malah dia tak “bunyi” di media sosial. Suara dan pandangan politiknya seakan tenggelam di dasar laut Bunaken.

Marilah kita memetakan aset digital yang dia miliki. Pertama, dia punya Facebook Fanpage dengan jumlah follower hingga 10K. Bagi politisi yang lolos Senayan, jumlah ini terbilang kecil. Kedua, di Instagram, dia punya 57,3K follower. Ini jumlah yang cukup besar. Tampaknya dia lebih banyak aktif di Instagram. Ketiga, dia punya akun Youtube yang hanya diikuti 947 orang.

BACA: Senjata Digital untuk Aktivis Jaman Now

Kekuatan media sosial bukan dilihat dari jumlah follower, tapi seberapa produktif dia melahirkan konten berkualitas yang kemudian viral. Kekuatannya pada sejauh mana reproduksi gagasan yang kemudian heboh dan menyebar ke mana-mana, tidak hanya dapilnya, tetapi seluruh Indonesia.

Di sinilah letak kelemahan Brigitta Lasut. Dia bukan tipe orang yang rajin menginformasikan melalui media sosial. Di Fanpage Facebook, dia tidak banyak membagi postingan. Sepanjang November, dia tidak memosting apa pun. Dia hanya aktif di bulan Oktober yang tercatat ada 7 aktivitas.

Dia lebih banyak akif di Instagram. But, come on, postingannya kebanyakan selfie dengan sejumlah tokoh, dan selfie saat ada kegiatan. Dia belum bisa memaksimalkan Instagram sebagai kanal yang mengalirkan gagasan.

Bolehlah memajang foto selfie, tapi dia harus menyiapkan banyak ruang untuk mengalirkan gagasan-gagasan yang substansial, yang diolah kembali dengan sederhana, yang bisa dipahami generasinya. Harusnya dia perkuat pada substansi pesan yang berkaitan dengan publik sebab sebagai wakil rakyat dia adalah penyambung lidah dan penyampai pesan yang berkewajiban untuk kembali menyampaikan pesan pada publik.

Mungkin saja dia memang sibuk. Tapi dia bisa saja memercayakan urusan media sosial kepada sejumlah juru bicara (jubir) digital yang dia tunjuk untuk membagikan sejumlah hal bermanfaat yang dilakukannya.  Dia bisa memaksimalkan kerja staf yang bisa menjadi admin sekaligus mengelola sejumlah prajurit digital yang berfungsi untuk menyebarkan informasi tentang dirinya. Dia bisa menaklukkan orang lain melalui konten yang produktif dan bermanfaat.

BACA: Laskar Digital untuk Menangkan Pilkada

Belajar pada pilpres lalu, untuk menjadi politisi milenial yang kuat di dunia digital, dia harus membekali timnya dengan tiga hal. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga perangkat ini digunakan untuk mengontrol semua aliran informasi. Jantung dari aktivitas ini adalah perlunya kreator konten untuk memetakan semua percakapan netizen. Selanjutnya, tim kreator konten akan merancang konten yang bisa viral, meneruskannya kepada para influencer dan laskar media sosial yang akan meneruskannya di lapangan.

Harusnya, tim medsos Brigitta bisa mulai memetakan percakapan netizen dengan mengamati big data. Setelah itu, timnya membuat banyak konten yang kemudian dioptimasi sehingga menyebar ke mana-mana.

Timnya harus paham bagaimana merancang sesuatu yang bisa viral. Harus memahami social currency atau sesuatu yang berlaku universal bagi netizen. Harus menampilkan hal yang menginspirasi dan bermanfaat. Harus paham bagaimana mengelola semua emosi netizen.

BACA: Digital Storytelling untuk Menang Pemilu

Jika dia melakukan langkah-langkah itu, dia hanya butuh waktu singkat untuk meraih popularitas. Dia tinggal merawat popularitas dan branding yang dia miliki, dan kelak bisa terus subur sehingga menjadikannya sebagai politisi milenial yang berpengaruh di media sosial.

Tapi, lagi-lagi semuanya berpulang pada politisi itu. Tidak semua politisi paham dan siap mengeluarkan dana untuk menunjang penetrasinya di media sosial. Tidak semua paham karakter “jaman now”, apa yang diinginkan publik sekarang, dan bagaimana mencapainya.

***

Dalam buku The New Digital Age, mantan petinggi Google Eric Schmidt menyebut dunia kini terbagi dua yakni dunia nyata dan dunia maya. Manusia mencurahkan banyak perhatian ke dunia maya demi menjangkau informasi dan membangun koneksi.

Semua strategi bisnis dan strategi politik berusaha untuk menjangkau dua dunia itu. Dalam dunia pemasaran, orang mengenal kombinasi strategi online dan strategi offline. Dua strategi ini saling melengkapi dan memperkuat.

Dinamika di dunia offline (dunia nyata) akan terpantul gemanya di dunia online, demikian pula sebaliknya. Di dunia politik, semua orang sama sepakat bahwa untuk menjangkau jutaan warga, khususnya kalangan milenial, maka dunia online adalah tempat paling strategis.

Di tahun 2007, anak muda Chris Hughes melakukan revolusi di bidang pemasaran politik. Dia membangun platform di media sosial untuk membantu Obama memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat. Dia berhasil menjangkau jutaan warga Amerika hanya dengan menggerakkan jemari di media sosial.



Di belahan bumi lain, anak muda Whael Ghonim menggunakan media sosial untuk menggerakkan revolusi di Tunisia. Dia membakar satu gelombang revolusi yang lalu menyebar ke Timur Tengah.

Di Hongkong, anak muda Joshua Wang juga menggunakan media sosial untuk menggerakkan Umbrella Revolution atau revolusi payung. Melalui Twitter, dia menggedor semangat orang-orang untuk bergerak dan memprotes kebijakan negara.

BACA: Perang Robot di Arena Pilpres

Abad 21 ditandai oleh perubahan yang digerakkan dengan cara-cara milenial, yang cirinya adalah tidak dipimpin oleh satu tokoh revolusi, menekankan partisipasi dan kolektivitas, cepat terorganisir sebab dihubungkan media sosial, serta punya isu-isu bersama yang viral.

Kalangan baby boomer agak susah memahami kecenderungan baru ini. Pengerahan massa, kampanye jalanan dengan ribuan kendaraan, aksi spanduk di semua sudut kota, temu kader hingga ribuan relawan, serta kampanye yang menghadirkan penyanyi dangdut adalah cara-cara lama yang sudah tidak efektif di zaman kekinian.

Kini, cara-cara lama itu akan segera diganti dengan penetrasi media sosial. Makanya, yang harus dibangun adalah infrastruktur media sosial yang kuat, di mana di dalamnya terdapat konten yang kuat, serta penetrasi digital yang juga bagus.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era 4.0

Kerja-kerja media sosial selalu terkait dua hal: produksi konten berkualitas dan viral, dan diseminasi konten itu ke mana-mana. Jika dua aspek ini bisa ditangani dengan baik, maka seorang politisi bisa memaksimalkan kanal media sosialnya untuk berbagi dan menjangkau konstituen.

Contoh paling bagus tentang manajemen pengelolaan media sosial yang efektif adalah Fanpage pribadi Presiden Joko Widodo, Ridwan Kamil, dan Anies Baswedan. Mereka bisa mengelola konten dengan baik, tahu apa yang ingin diketahui publik, serta membangun komunikasi.

Yang kurang dari konten politisi di atas adalah mereka belum bisa menjadikan media sosial sebagai platform untuk berdialog dan merekam aspirasi publik untuk menjadi rekomendasi dalam penyusunan kebijakan publik.

Namun, melalui media sosial, mereka membangun kedekatan dengan publik, menghilangkan tembok pemisah, serta memperkuat silaturahmi digital untuk menunjang kerja-kerja politik mereka sebagai kerja untuk publik.

Dalam dunia politik, menaklukkan dunia offline atau dunia digital menjadi sangat penting, Jika tidak, Anda yang akan ditaklukkan oleh beragam wacana yang menerpa bagai hujan. Anda hanya jadi penonton.

Di era politik 4.0, pengelolaan digital adalah koentji!


1 comment:

  1. Anda jg lupa menuliskan Gubernur Sulsel N.A. yg getol dan tanggap di kanal medsosnya

    ReplyDelete