Budak dari BUTUNG



Dia mengirimkan beberapa arsip melalui grup percakapan. Sahabat itu, Senja Kala Yahya, bekerja sebagai arsiparis senior di Arsip Nasional RI. Saya dan dirinya ikut dalam satu pekerjaan mengenai Jalur Rempah-Rempah. 

Arsip yang dia kirimkan membuat saya tersentak. Dia bilang, ini arsip mengenai daftar lelang atas 66 budak dari Buton di tahun 1755. Hah? Saya terdiam. 

Saya teringat memoar Michelle Obama berjudul Becoming. Saat mengetahui dia keturunan budak, dia butuh waktu merenung kemudian menerima kenyataan itu apa adanya. Tidak penting siapa Anda di masa lalu, yang terpenting adalah siapa Anda di masa kini dan masa depan. Kata Master Oogway dalam Kungfu Panda: “Yesterday is history, tomorrow is mistery.”

Sebelumnya, saya sudah sering membaca publikasi mengenai maraknya perbudakan di Buton. Dalam satu catatannya Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen pernah singgah ke Buton dan mengatakan daerah ini miskin, komoditas yang bisa dijual adalah kayu dan budak. 

Sejarawan Sri Margana pernah menulis aktivitas perdagangan budak. Ada kongkalikong antara pedagang, pejabat VOC dan Pemerintah Belanda, perkenier, dan peran bajak laut.  Kota-kota pantai di Maluku seperti Ambon, Seram, dan Banda adalah tempat-tempat penting sebagai pusat perdagangan budak. 

Para pedagang budak di Maluku mempunyai jaringan di Timor, Sumba, Sumbawa, Bali, Makassar, Butung (Buton), dan Batavia bahkan sampai ke Asia Tenggara.  

Itulah keping sejarah kelam yang pernah dilalui. Namun, jangan menghakimi masa silam. Sebab apa yang terjadi di masa lalu, boleh jadi kita lakukan di masa sekarang. 

Saya pandangi arsip yang dikirimkan sahabat itu. Di situ ada nama-nama, kemudian angka-angka. Karena ini lelang, setiap orang punya harga berbeda. Ada yang harganya 20 gulden, ada yang cuma 4 gulden.

Saya hanya bisa membayangkan lelang budak, sebagaimana pernah saya lihat dalam drama Little Missy di stasiun TVRI. Para budak, di antaranya bernama Justo, Sebastio, Fulgensio,  berdiri di satu panggung, kemudian fisiknya dilihat para pembeli. Mereka yang kuat diberi harga lebih mahal.

Nilai dari setiap budak adalah valuasi atas aset yang dia miliki. Jika fisiknya kuat, maka valuasinya tinggi. Di era modern, kita pun melakukan valuasi atas aset yang dimiliki seseorang. Jika punya pendidikan dan skill tinggi, maka valuasinya akan tinggi. Jika dia melamar karyawan, maka pasti akan minta gaji tinggi. Namun jika valuasinya rendah, dalam artian tidak punya skill dan pendidikan, maka harganya akan murah di pasar kerja. 

Dalam drakor Start-Up, sosok Han Ji Pyeong (mirip saya kan?) adalah investor yang jago dalam menilai valuasi satu aset. Saat pertama datang ke Samsan Tech, perusahaan milik Nam Do San, dia langsung bilang perusahaan itu tidak punya masa depan. Valuasinya rendah. Sebab hanya punya produk IT yang susah dipahami publik.

Saat Nam Do San pulang dari Amerika dan sukses mengembangkan algoritma untuk sistem kemudi otomatis bersama CEO Soe Dal Mi yang cantik, Han Ji Pyeong minder untuk menawarkan investasi. Karena dia tahu, valuasi perusahaan itu sudah sangat tinggi, sehingga investor akan berebut.

Di era digital, valuasi menjadi hal biasa. Dulu ada aplikasi Klout yang memberikan nilai atas apa yang Anda lakukan. Jika Anda dianggap punya jejaring tinggi, skor akan tinggi, dan mendapat banyak fasilitas. 

Kembali pada perbudakan, apakah praktik itu menunjukkan masa kini lebih manusiawi ketimbang masa lalu? Tunggu dulu. Dua pekan silam, saya berjumpa sejarawan Dr Mukhlis Paeni yang bercerita mengenai Pulau Bunce di Sierra Leone, Afrika. Dulu, pulau ini menjadi penampungan budak Afrika sebelum dibawa ke Inggris dan Amerika.

“Fasilitas yang ada di tempat penampungan budak itu masih jauh lebih baik dari pekerja di era modern sekarang,” kata Mukhlis.

Saya mengiyakan pendapatnya. Saya ingat kawan Muh Abdi dari Destructive Fishing Watch (DFW) yang sedang mengadvokasi para anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal-kapal asing. Mereka diperlakukan seperti budak yang tidak punya martabat. Saat mereka tewas di laut, mayatnya dibuang begitu saja. Jejaknya hilang begitu saja.

Di masa kini, kita memang tidak menamakannya budak. Tapi praktik itu tetap berjalan. Jejaknya masih terasa pada tindakan kita yang memperlakukan orang lain sebagai bawahan dan rendahan. 

Saya masih ingin berbagi informasi tentang budak, sejurus kemudian HP berdering. Ada suara perempuan yang bertanya: “Kakanda ganteng, lagi di mana? Ayo kita makan parende. Adik yang traktir.. Setelah itu kita cari tempat untuk bobo siang.” 

Mohon maaf. Saya harus mengakhiri catatan ini.



0 komentar:

Post a Comment