Misal Kita di Posisi MAHFUD MD

Mahfud MD bersama ibunya 

Di Pamekasan Madura, ibu berusia 99 tahun itu menerima telepon dari anaknya. Hari itu, di tahun 2019, Presiden Jokowi akan mengumumkan kabinetnya. Ibu bernama Sitti Khotijah itu ditemui para jurnalis yang bertanya apa ada firasat anaknya jadi menteri.

Dia mengaku anaknya, Mahfud MD, sering menelepon dirinya. Namun tak ada informasi politik. Anaknya tak pernah bahas politik, apalagi negara. Anaknya, minta didoakan agar selalu diberikan keselamatan dan kesehatan dalam keluarganya.

"Terakhir telepon dua hari kemarin dan bilang semoga semua keluarga di sini baik-baik semua dalam keadaan sehat dan beliau juga meminta doa ke saya semoga diberi keselamatan sekeluarga," kata Sitti Khotijah kepada Tribun, 21 Oktober 2019.

Mahfud MD adalah anaknya yang kelima. Setiap bulan, Mahfud akan selalu pulang ke rumah untuk menjenguk dirinya yang kini lanjut usia. Ketika pulang, Mahfud tidak bercerita apa pun terkait dirinya akan dipanggil menjadi menteri atau tidak. 

“Dia tidak pernah cerita apa-apa,” kata Khotijah. Di matanya, Mahfud adalah anak yang sangat berbakti. Mahfud tak pernah sekali pun menyakiti dirinya. Mahfud juga anak yang sangat akur dengan semua saudaranya.

Seorang ibu adalah sentrum dari pergerakan seorang anak. Ibu adalah semesta yang melahirkan, merawat hingga tumbuh dan membesar, serta menjadi pohon rindang yang selalu memberikan keteduhan bagi seorang anak.

Seorang ibu juga adalah matahari yang memberi cahaya terang ke mana pun seorang anak bergerak. Seorang ibu meletakkan semua bahagia dan sedihnya pada anaknya. Saat anaknya sedih, dia akan jauh lebih sedih, Saat anaknya gembira, dia akan jauh lebih gembira.

Kata Kahlil Gibran, ibu adalah kata tersejuk yang di lantunkan oleh bibir-bibir manusia. “Ibuku” merupakan sebutan terindah.  Kata yang semerbak penuh cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Masih kata Gibran, Ibu adalah segalanya.  Ibu adalah penegas kita di kala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista. Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Peradaban kita hari ini adalah peradaban penuh kasih sayang kepada ibu. Bahkan ketika sepuh, dia tetap menjadi payung bagi anaknya di kala terik dan hujan. Saking hebatnya kasih sayang itu, dia menolak dipayungi saat dirinya telah menua. Di hadapan anaknya dia akan selalu jadi pohon rindang, meskipun daun, ranting, cabang, dan dahannya mulai berguguran.

*** 

Selasa, 1 Desember 2020, ratusan orang mendatangi rumah Sitti Khotijah, Ibunda Mahfud MD, di Pamekasan, Madura.  Massa berdatangan setelah sebelumnya demonstrasi di kantor Polres. Mereka mendesak agar polisi tidak memanggil seorang imam untuk dimintai keterangan sebagai warga.

Di depan rumah Mahfud, yang kini ditempati ibu kandungnya, massa merangsek ke pintu rumah yang terkunci. Mereka teriak-teriak meminta penghuni rumah untuk keluar. Bahkan, ada sebagian massa yang mendorong pagar rumah tersebut. 

"Kalau sama-sama orang Madura, Mahfud tolong keluar. Jangan ngumpet dan temui kami," kata salah satu massa aksi.

Saya membayangkan bagaimana respon ibunda Mahfud yang kini berusia 100 tahun itu. Dia mungkin bertanya-tanya ada apa gerangan. Di usia yang sepuh itu, dia tidak paham politik. Dia hanya tahu anaknya tengah mengemban amanah untuk bangsa dan Negara.

Ibu itu akan panik. Usia 100 tahun adalah usia untuk menenangkan diri dan beribadah, serta menjauh dari duniawi, bukan usia yang tepat untuk menghadapi serbuan massa yang menyebut-nyebut nama Tuhan. Tapi Tuhan tidak diam. Tuhan tidak bersama mereka.

Politik memang menumpulkan nalar. Dalam politik, Anda bisa jadi pion yang digerakkan seseorang. Bahkan rumah yang dihuni seorang ibu yang berusia 100 tahun bisa jadi sasaran marah. Solidaritas pada seseorang, yang entah siapa, telah menggantikan solidaritas pada warga sekampung. 

Mahfud MD merespon dengan cara yang sangat sabar. Dia tetap tenang. Dia lebih dulu memastikan ibunya yang saat ini tengah berada di rumah Pamekasan dalam keadaan aman dan dijaga ketat. "Ibu aman," katanya.

Setelah itu dia mulai mencuit, "Saya selalu berusaha menghindar untuk menindak orang yang menyerang pribadi saya, karena khawatir egois dan sewenang-wenang, karena saya punya jabatan. Saya siap tegas untuk kasus lain yang tak merugikan saya. Kali ini mereka mengganggu ibu saya, bukan mengganggu Menko Polhukam," tegasnya.

Sebagai pejabat publik, tugasnya adalah menegakkan hukum dan menjaga keadaban. Dia lebih memilih cara-cara yang lebih elegan, demi menjaga kehormatan ibunya, sosok yang paling dihormati dan dijaganya.

Jika kita dalam posisi Mahfud, apa yang akan kita lakukan? Saya pasti akan marah semarah-marahnya. Saya akan siap bertempur dengan orang-orang yang berani-beraninya bersuara keras pada sosok yang selama ini menjadi matahari kehidupan. 

Saya akan memilih bertarung untuk membela kehormatannya. Bahkan ketika ibu melarang, saya akan tetap membelanya. Jika sepanjang hidupnya didedikasikan untuk menumbuhkan, merawat, dan menyiapkan jalan untuk saya, maka saya pun akan melakukan hal yang sama. Saya bukan Mahfud. Saya rakyat biasa. Butuh kesabaran luar biasa untuk memilih jalannya.

Bagi kita bangsa Indonesia, tantangan besar yang kita hadapi adalah munculnya pandangan diri sebagai yang paling benar. Kita hanya mendengar suara diri dan junjungan kita, tanpa mau menempatkan diri kita di posisi orang lain, tanpa jernih melihat dari banyak sisi. 

Kita sering merasa paling alim dan paling benar, lalu mengabaikan orang lain. Padahal, di mana pun sekolah dan siapa pun gurunya, tidak ada yang mengizinkan sekelompok manusia datang mengepung rumah seorang ibu atas kebijakan politik seorang anak di satu kota yang jauh. Kita gagal memisahkan mana yang harus disikapi dan tidak, dan bagaimana merespon sesuatu dengan cara beradab, yang menunjukkan ketinggian ilmu dan budi. 

Kita mengaku pengikut Muhammad, tapi kita lupa kalau Muhammad adalah orang yang memuliakan ibu, lebih dari apapun. Tapi itulah kita, yang selalu merasa benar. Bahkan kalimat "Surga ada di telapak kaki seorang ibu" bisa saja diganti menjadi "surga ada di junjungan pemimpin politik."

Iya kan?



18 komentar:

masyhurblogspot.com said...

Kren tulisan bang yus. Succesfull

Unknown said...

Keren kanda.. Alfatiha buat ibu-ibu kita yang telah mendahului kita.. πŸ™

Unknown said...

Keren kanda.. Alfatiha buat ibu-ibu kita yang telah mendahului kita di Surga..

Unknown said...

Keren kanda..

Taslim said...

Keren tulisannya, bang πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Taslim said...

Keren tulisannya, bang πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Budiman said...

Mantap Kanda..

Budiman said...

Mantap Kanda..

Siti Halimah said...

Very well said...

Siti Halimah said...

Very well said...

Siti Halimah said...

Very well said...

Mustamin al-Mandary said...

Catatan yang menyentuh. Saya hanya berharap semoga ada di antara mereka yang menggeruduk ibu Pak Mahfud, atau siapa saja yang menyembah politisi, membaca tulisan ini. Maka izinkan saya membagikan tulisan ini Mas Bro.

Ivon said...

Setiap bait dan kalimat terasa ringan dibaca. Sukses dan sehat selalu kanda

Indahnya Suara Kehidupan... said...

Ya...masyarakat mabok akan junjungannya menafikan kelogisan dalam tindakan. Terimakasih Bung Yus, utk tulisan yg menyentuh

SuperSoniC said...

Thanks sudah membahas tentang ini. sangat membantu banget setelah membacanya.
The Lodge Maribaya adalah tempat wisata di Lembang yang menawarkan aktivitas menarik kepada wisatawan yang liburan ke Bandung
Harga Tiket The Lodge Maribaya

Harga Tiket Masuk The Lodge Maribaya

Tiket Masuk The Lodge Maribaya

kalattebak@gmail.com said...

Mantap.

Bagus. Enak dibaca Bro.

Unknown said...

Well spoken. Apa yang ada di hati saya tersampaikan secara jelas dan gamblang..

Unknown said...

Sungguh sangat menyentuh...mantapπŸ‘

Post a Comment