Gampang Cuan


Ini film komedi. Tapi yang saya dapatkan bukan sekadar ketawa ngakak sampai perut sakit. Tapi saya juga belajar banyak hal, khususnya literasi keuangan. 

Film ini mengangkat hal-hal seperti utang, saham, reksadana, dengan cara-cara yang sangat menghibur. Keluar dari bioskop, tiba-tiba saja disergap hasrat ingin kaya melalui pasar saham.

Kisahnya tentang dua kakak beradik yang terjebak utang. Rumah di kampung disita bank. Adiknya datang dan ngotot ingin kuliah di kampus mahal. Mereka harus putar otak untuk mencari uang banyak dalam waktu singkat.

Singkat cerita, mereka lalu ikut dalam pasar saham. Mulanya belajar pada seorang playboy yang naksir si adik. Dalam keadaan kepepet, mereka mesti paham istilah-istilah dalam dunia saham.

Saya sudah lama tidak nonton komedi Indonesia yang seru, dan mencerahkan. Namun komedinya akan sangat terasa jika Anda paham bahasa Sunda. Sebab 80 persen dialog dalam film ini menggunakan bahasa Sunda. Untungnya, saya nonton di Bogor, di mana semua penonton tak henti tertawa ngakak.

Hal yang terasa aneh adalah film ini menggambarkan proses jual beli saham seperti Aladin mengusap lampu wasiat. Seolah-olah, Anda memasukkan uang, dan dalam waktu singkat, langsung cuan ratusan juta.

Yang saya alami, prosesnya tidak sesederhana itu Mesti rajin update informasi, mesti belajar analisis teknikal, dan banyak lagi. Juga siap jatuh bangun. Gak selalu bisa cuan. Beberapa bulan lalu, saya pernah boncos hingga tiga digit. Rasanya gak enak bahas pengalaman itu.

Tapi sebagai hiburan, film ini sukses menghibur. Saya suka bagian ending film, yang menjelaskan bedanya saham, investasi, trader, deposito, reksadana, obligasi, dan sukuk. Hal-hal yang rumit, tapi dibuat sederhana dengan analogi peternakan ayam.

Keren.


0 komentar:

Posting Komentar