Permainan Deseptif di Balik GIBRAN

Ilustrasi bocil takut debat


Biarpun saya bukan pendukung Gibran, saya cukup tertarik melihat bagaimana pola-pola komunikasi deseptif yang dimainkan untuk menyesatkan publik.  Tim konsultan di belakang Gibran menerapkan ajaran Sun Tzu: "Biarkan rencanamu menjadi gelap dan tidak dapat ditembus seperti malam, dan ketika kamu bergerak, jatuh seperti sambaran petir?”

Politik kita bukan cuma soal pasangan yang bertarung di depan panggung debat. Politik kita adalah sinergi dari banyak tim belakang layar yang menyiapkan strategi, merancang aksi, lalu menentukan pilihan-pilihan tindakan untuk mengalahkan lawan. 

Politik kita adalah soal bagaimana mengemas pesan, juga bagaimana membuat publik terkecoh dan terjebak dalam kebenaran yang diatur dalam satu pra-kondisi, lalu pada titik pamungkas, semuanya dijungkirbalikkan.

Politik kita serupa game atau permainan di mana semua pihak bisa mengatur ritme bermain, menarik lawan untuk masuk dalam irama permainan, dan membiarkan lawan mengira akan menang. Di titik puncak, semua senjata pamungkas akan dikeluarkan laksana petir.

Saya melihat pola-pola komunikasi deseptif, yang menyesatkan lawan itu dalam dua hal. Pertama, saat dengan sengaja seolah melanggar kampanye yang melibatkan anak, yang ternyata adalah artificial intelligent. Kedua, membangun pra-kondisi tentang Gibran sebagai sosok culun, bodoh, dan takut debat.

Marilah kita tengok yang pertama.

Tanggal 23 November 2023 silam, kelompok yang menamakan dirinya Radar Demokrasi Indonesia melaporkan dugaan pelanggaran oleh kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming ke Bawaslu.

Laporan yang dimaksud terkait dengan dugaan pelibatan anak-anak dalam sosialisasi program pemberian susu. "Saya melaporkan ada tindakan ataupun ada pelanggaran pemilu terhadap salah satu tim kampanye paslon," kata pihak Radar Demokrasi Indonesia, Steve Josh Tarore mengutip detik.com, Kamis (23/11).

Yang menarik, tim Prabowo-Gibran tidak langsung merespon laporan itu. Mereka membiarkan laporan itu hingga terjadi kehebohan. Selama beberapa hari media dipenuhi berita tentang pelanggaran hukum dari tim kampanye Prabowo-Gibran.

Saat semua pihak mulai bersorak karena tim itu ibarat masuk perangkap, keluarlah klarifikasi kalau itu bukan anak, melainkan Artificial Intelligent (AI). Rupanya “anak” itu bukan benar-benar anak sebab hanya merupakan rekayasa kompiter dan kecerdasan buatan. “Anak” itu tidak punya identitas, tidak punya orang tua, dan tidak punya status hukum.

Tentu saja, kasus ini tidak akan jauh merambah ke ranah hukum. Namun pesan penting terlanjut menyebar di masyarakat kalau tim itu punya kreatifitas tingkat tinggi hingga mampu mengecoh banyak orang. Silang pendapat di media diubah menjadi kekuatan yang memikat banyak orang, sekaligus menjadi lelucon kalau lawan masih berpikir jadul dan tidak kekinian.

Marilah kita tengok yang kedua. 

Sejak sebulan terakhir, Gibran dikesankan menghindari debat. Tim konsultan di belakang Gibran sengaja tidak menghadirkan “bocil” itu dalam debat-debat tidak resmi. Tim juga mengondisikan persepsi publik dengan tawar-menawar di KPU mengenai format debat, seolah Gibran tidak siap hadapi debat.

Permainan deseptif juga dihadirkan di ruang publik. Saat tampil kampanye, dia tampil kaku, asal ngomong, dan tidak sanggup bicara lebih dari 10 menit. Malah, dia juga sengaja dibuat keliru agar semakin jadi bulan-bulaan di media sosial. Semua tindakan itu membangun persepsi publik kalau anak ini tidak siap menghadapi berbagai debat politik.

Ketika debat resmi, barulah satu demi satu kartu dikeluarkan. Mereka yang mengira anak itu akan jadi bulan-bulanan sontak kecele dan tidak siap dengan perubahan pola debat. Dia yang tadinya dikira akan kalah telah dan mengenaskan, rupanya menguasai hal teknis sebab dirinya punya pengalaman sebagai walikota.

Debat cawapres menjadi arena untuk membuka kotak pandora. Muhaimin dan Mahfud yang tadinya di atas angin, tiba-tiba terkesan kehilangan arah dan kehilangan fokus dalam debat. Gibran menguasai panggung, bergerak ke banyak sisi, lalu menarik semuanya masuk dalam permainan yang dia kuasai.

Di ajang debat semalam, elemen kejutan hanya dimiliki Gibran seorang. Hanya dia yang punya elemen misteri dan kejutan.  Beda halnya dengan Muhaimin dan Mahfud yang sudah sering tampil di publik, sehingga publik sudah tidak terkejut dengan penampilan mereka. 

Jika Mahfud dan Muhaimin tampil hebat, itu biasa saja sebab mereka memang sering tampil hebat. Kejutannya adalah Mahfud dan Muhaimin sedikit tterkejut melihat Gibran yang ternyata bisa berdebat. “Bocil’ ini bisa tampil melampaui ekspektasi. Komunikasi Gibran lebih cair. Dia tidak selalu memguasai topik debat. 

Kadang pertanyaan dibelokkan, lalu menyisipkan poin-poin penting dari visi misi. Body language mengesankan dirinya paham persoalan, sorot mata lurus ke arah audience, lalu perlahan dia pun menunjukkan inkonsistensi dari lawan debatnya.

Strategi mengemas Gibran mengingatkan pada strategi Sun Tzu yakni: “Perdaya Langit untuk melewati samudera. Bergerak di kegelapan dan bayang-bayang, menggunakan tempat-tempat tersembunyi, hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah pertahanan musuh anda harus bertindak di tempat terbuka menyembunyikan maksud tersembunyi anda dengan aktivitas biasa sehari-hari.”

Saya melihat tim di belakang Gibran paham benar bagaimana aspek sosiologis masyarakat Indonesia, yang serupa kerbau gamang dicucuk hidungnya mengikuti apa yang jadi trending topic. 

Tim ini tahu kalau masyarakat Indonesia mengidap “Fear of Missing Out” atau takut sendirian di medsos sehingga suka terlibat dalam bully berjemaah. Kecaman pada Gibran merambah ke berbagai medsos, hingga akhirnya debat semalam ibarat petir yang membungkan semua kalangan.

Nihil Substansi

Jika debat semalam menjadi arena untuk melihat masa depan, kita tak bisa berharap banyak. Sebab debat itu hanya menunjukkan bagaimana permainan menggulung lawan, tanpa menampilkan apa gagasan terbaik untuk Indonesia masa depan.

Ketiga orang kandidat lebih fokus untuk mengeluarkan program populis yang membahagiakan publik, tanpa memberi jalan keluar bagaimana menggapai semuanya. Mereka seolah memiliki uang segunung, lalu tugasnya hanya bagaimana menghabiskannya.

Yang kita lihat adalah para “penjual obat” yang seakan berteriak ini obat terbaik, tanpa menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk menghadirkan obat terbaik itu. Debat semalam membuka mata kita betapa banyaknya problem di bangsa ini, yang seharusnya membutuhkan kerja keras, bukan sekadar “bicara keras”.

Sebagai anak bangsa, kita dibenturkan kenyataan, betapa seringnya debat pilpres, namun masalah bangsa tak kunjung diselesaikan. Satu demi satu pekerjaan rumah tidak pernah benar-benar tuntas, selalu dibahas di ajang debat pilpres, selalu dibicarakan dari dulu hingga kini, tanpa ada yang selesai.

Yang menyedihkan adalah fakta betapa tiga capres ini sebenarnya terhubung ke jaringan pemodal yang sama. Debat ini hanya artifisial. Sekadar formalitas. Di belakang layar, para bohir sedang tersenyum gembira melihat skenario dijalankan satu per satu.

Permainan deseptif hanya jadi senjata untuk menang debat. Di akhir semua episode politik ini, para bohir akan selalu menang. Dan kita kembali mencari sesuap nasi di jalan-jalan yang kian semrawut, yang di kiri kanannya ada baliho politisi yang sedang menjanjikan kesejahteraan.



5 komentar:

Anonim mengatakan...

Enak nian dibaca..

Anonim mengatakan...

Enak nian dibaca..

Yusran Darmawan mengatakan...

tenkyu

Anonim mengatakan...

Kereen.. 👍🏻

SuardiManyipi mengatakan...

Sungguh tulisan yang sangat bernas

Posting Komentar