Rangga Sasana


 Di tengah berita sedih, ada juga satu berita bahagia pekan ini. Para petinggi Sunda Empire bebas dari penjara. Bebasnya mereka disambut antusias di lini massa Twitter. Bahkan berita itu menjadi trending topic.

Di negeri +62, netizen punya suara yang sering kali berbeda dengan penguasa. Saat penguasa melalui lembaga peradilan memvonis mereka karena dianggap menyebarkan kabar bohong, netizen justru menjadikan mereka pahlawan.

Vonis pengadilan memang terasa aneh. Bagi saya, para petinggi Sunda Empire itu harusnya tidak dihukum. Mereka seharusnya diberi penghargaan oleh negara. Mereka telah menghibur jutaan warga melalui kisah-kisah menarik.

Setahun silam, salah seorang petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana, tampil di banyak media. Dia bercerita mengenai tatanan dunia yang akan segera kacau-balau. Semua negara harus daftar ulang ke Bandung. Jika tidak, bencana akan terjadi.

Bahwa yang dia sampaikan itu tidak sesuai dengan sejarah resmi, bukan alasan untuk menghukum dia. Boleh saja dia ngawur, bodoh, atau malah gila, tapi kan itu bukan alasan untuk menghukum dia. Di seluruh dunia, mana ada orang bodoh yang masuk penjara gara2 kebodohannya.

Kalau dia dituduh bohong, apa pengadilan juga berani memvonis penguasa mulai dari desa sampai kota yang berbohong setiap lima tahun? Apakah pengadilan juga akan meneliti kalimat-kalimat politisi saat kampanye lalu memberi bukuman karena bohong?

Anda boleh tersenyum dan tertawa. Faktanya, banyak orang yang percaya, lalu ikut dalam barisannya. Banyak orang yang berpose dengan baju ala militer lalu memamerkannya di media sosial. Bahkan gema Sunda Empire menjangkau Aceh saat seorang perempuan berbicara dengan kalimat yang persis sama dengan Rangga.

Di titik ini, Rangga adalah pemasar yang hebat. Dia tahu bagaimana memasarkan idenya, menyasar audience yang tepat, lalu menanamkan kesadaran. Dia tahu bagaimana meyakinkan orang lain melalui cerita-cerita. Kekuatannya adalah kemampuan menghadirkan cerita yang menarik dan dipercayai banyak orang.

Para ahli menyebut kemampuan bercerita itu sebagai storytelling. Kata sejarawan Yuval Noah Harari, manusia terhubung oleh cerita-cerita. Berkat cerita, manusia bisa saling bekerja sama, punya visi bersama, lalu bekerja dalam satu mekanisme dan skala yang besar.

Kata Robert McKee, “Storytelling is the most powerful way to put ideas into the world.” Kitab suci berisikan storytelling. Di dalamnya ada banyak kisah dan cerita. Sorytelling sama tuanya dengan oeradaban kita. Di Inggris, stonehenge saja masih jadi perdebatan apakah itu buatan alien atau bukan. Demikian pula dengan piramida di Mesir.

Storytelling bisa dikemas menjadi uang. Di Vietnam, ada sungai yang selalu didatangi orang. Tak ada yang istimewa di situ. Tapi, ada cerita kalau pasukan Amerika kalah. Orang berdatangan untuk melihat.

Di Indonesia, Pemkab Banyuwangi terkenal bisa mengemas kisah-kisah jadi komoditas wisata. Kita pernah mendengar kisah KKN Desa Penari, yang kemudian jadi viral, lalu menjadi komoditas wisata. Orang-orang berdatangan hanya untuk melihat Rowo Bayu, tempat kisah seram itu. Beberapa tempat seram lain juga viral, mulai dari Alas Purwo, hinga Keraton Macan Putih.

Saya membayangkan kisah-kisah Rangga Sasana itu bisa dikemas lebih menarik. Dia melihat Bandung sebagai titik pusat semesta. Dia melihat ada Kekaisaran Bumi yang menghargai alam semesta. Dia melihat bumi yang damai, serta tugas sejarah manusia untuk memakmurkannya.

Saya melihat netizen kita cukup bijaksana dalam memaklumi Rangga. Ketika dia bebas, semua orang bersorak. Semua berharap tatanan dunia ikut normal. Semuanya memberi panggung buat Rangga. Semua menanti komentar Rangga yang bisa menghentikan nuklir, dan bisa menghilangkan Covid.

Kita menunggu, sembari berharap negeri ini bisa sekuat yang dibayangkan Rangga. Entah, tercapai atau tidak, yang pasti, kita melihat Rangga sebagai tontonan yang lebih menarik dari politisi di televisi, yang dikit2 sibuk berdebat.

 
 

0 komentar:

Posting Komentar