Otak Reptil

ilustrasi: poster drakor It's Okay Not to Be Okay

“Kak, saya takut untuk mencoba hal baru.” Perempuan muda itu bertanya. Saya sesaat terdiam. Saya ingat beberapa ide yang melintas tentang orang-orang kreatif.

Jika saja Howard Schultz mudah baper dan menyerah setelah proposalnya ditolak bank sampai 242 kali, kita tak akan melihat kedai kopi Starbuck berdiri di mana-mana. Jika saja JK Rowling sakit hati karena novelnya terus ditolak penerbit, kita tak akan melihat karya tulis terlaris bernama Harry Potter.

Semua orang punya otak reptil yang sering membuat kita baper dan lebih suka zona nyaman. Kata Seth Godin dalam Linchpin, otak reptil itu bukan konsep, tapi memang ada dalam diri kita. Dalam biologi, dia disebut Amygdala.

Otak reptil berfungsi untuk menghadirkan rasa takut, marah, dan destruktif. Otak itu mengajarkan kita untuk bertahan hidup. Jika kita disengat nyamuk, kita akan membunuhnya sampai mati. Jika kita menemukan bahaya, kita refleks akan menghindar.

Selama berabad-abad, manusia bisa survive berkat otak reptil. Dalam keadaan darurat, otak itu akan mengarahkan kita hendak berbuat apa. Jika ada bencana, kita diarahkan untuk berlari. 

Bahkan saat tertentu, kita bisa melawan. Persis reptil yang mudah menyarang saat merasa terancam. Itulah mekanisme pertahanan diri.

Masalahnya, otak reptil ini lebih suka jika kita berada di zona nyaman (comfort zone). Kita lebih suka duduk diam. Kita jadi takut untuk memulai hal baru. Otak ini mengarahkan kita untuk menyukai status quo, sebab perubahan bisa membahayakan.

Saat kita punya ide baru untuk dieksekusi, otak ini akan menghadapi kita dengan berbagai ketakutan2. “Jangan lakukan. Nanti kamu rugi.” Sering juga muncul kalimat: “Ah, gak usah aneh-aneh. Hidup normal saja.” 

Nah, selain otak reptil, kita punya neo-cortex yang memberi kita kreativitas. Sayangnya, neo-cortex lebih banyak kalah dari otak reptil kita. Saat neo-cortex memberikan jalan kreatif untuk mencoba hal baru, otak reptil akan segera mencegahnya. Otak reptil memang mempengaruhi kita untuk menunda pekerjaan, mengkritik semua ide, serta menciptakan kecemasan. 

Mereka yang mengikuti jalan kreatif adalah mereka yang melawan tarikan otak reptil. Mereka punya cara untuk mengalahkannya. Orang kreatif berpikir degan cara yang berbeda. Di antaranya adalah menerima apa adanya semua risiko atau kegagalan. Semua kegagalan dianggap sebagai pelajaran yang akan mendewasakan.

Lihat saja bagaimana JK Rowling cuek dengan semua penolakan penerbit. Dia terus mencobanya hingga berhasil. Lihat pula bagaimana Walt Disney tetap tegar setelah 302 kali konsepnya mengenai taman bermain terus ditolak.

Seth Godin menganjurkan kita untuk menerima dan merangkul semua hal buruk dan kegagalan. Jadikan itu sebagai sahabat yang membuat kita tumbuh dewasa. Kalau perlu, banggalah sebab semua kegagalan itu membuat kita terus tumbuh dan berkembang.

“Kak, apa saya harus berani memilih jalan berbeda dengan orang lain?” kembali dia bertanya. Dia bercerita tentang dirinya yang merasa tertekan jika harus mengikuti kerja kreatifnya saat keluarganya ingin dia hidup mapan.

Saya tiba-tiba saja teringat drama korea yang judulnya “It’s Okay Not to Be Okay.” Saya ingat bagaimana anak-anak Jepang yang sedari kecil sudah diperkenalkan dengan istilah “ikigai” atau tujuan hidup yang ingin dicapai.

Tampaknya, kita terlalu peduli dengan apa kata orang. Padahal kita tidak terlahir untuk membahagiakan semua orang lain. Kita tidak ditakdirkan untuk menyenangkan semua orang. 

Jika saja dia berani dan fokus pada apa yang dia sukai, apa yang dia anggap bisa dikerjakan, serta apa yang diyakini akan membawa keberhasilan, pasti dia akan tersenyum di masa depan. Dan dunia pun akan ikut tersenyum.



0 komentar:

Posting Komentar