Jadi Penulis Makmur di Era Digital




Bapak itu hampir setiap hari posting status di media sosial. Dia seorang guru yang rajin berbagi artikel tentang kepenulisan. Dia pun tak pelit ilmu. Hampir setiap hari dia berbagi kiat-kiat menulis. Dia juga laris diundang sebagai narasumber terkait dunia kepenulisan. Namanya Johan Wahyudi.

Suatu hari, dia memosting tangkapan layar (screenshot) mengenai royalti atas buku yang ditulisnya. Angkanya cukup mengejutkan yakni 1 miliar rupiah. Hah? Rupanya, dia menulis buku pelajaran, yang kemudian beredar di seluruh Indonesia.

Berkat menulis, rezekinya terus mengalir. Dia bisa membeli tanah, rumah, dan ruko. Dia pun tak henti berbagi inspirasi di media sosial. Dia meyakinkan orang-orang kalau menulis bisa menjadi jalan nasib bagi siapa pun yang menekuninya.

Saya juga mengenal sahabat lain. Dia seorang full time blogger. Kalau orang lain beranggapan bahwa menulis adalah pekerjaan sampingan, teman ini justru menjadikannya sebagai pekerjaan utama.

Hampir setiap hari dia berbagi artikel tentang otomotif. Dia adalah salah satu sosok berani yang menjadikan jalan kepenulisan sebagai jalan pedang. Dia tak punya aktivitas lain selain menulis.  Berkat menulis rutin di blognya, dia bisa menafkahi keluarga, punya beberapa rumah dan tanah, serta selalu bertegur sapa di media sosial.

BACA: Senjata Digital untuk Aktivis Jaman Now

Sejak lama saya iri dengan dua sahabat di atas. Pada sahabat pertama, menulis hanyalah aktivitas sampingan di sela-sela kegiatannya sebagai seorang guru. Tapi seiring waktu, pendapatan menulis justru jauh melebihi gajinya sebagai guru. Kalau pun dia memilih tetap mengajar sebab passion-nya di situ. Menulis adalah jalan baginya untuk berbagi tentang dunia yang setiap hari dia hadapi.

Lain lagi dengan sahabat kedua. Menulis adalah aktivitas utama untuk menafkahi keluarganya. Dia bisa lebih dari sekadar eksis di media sosial. Perlahan, blognya punya positioning kuat sehingga banyak pemilik brand otomotif menjalin kerja sama. Sahabat ini bisa keliling daerah dan mendapat pemasukan hanya dengan mengisi blognya.

Bagi saya, mereka adalah contoh dari begitu sahabat yang eksis di dunia menulis. Saya punya banyak contoh lain tentang kawan yang tadinya kerja kantoran, kemudian banting setir jadi full time blogger. Penghasilan mereka bukan rata-rata kelas menengah di Indonesia. Mereka lebih dari itu. Yang bikin iri, mereka tak harus berkantor. Cukup kerja dari rumah sembari bermain sama anak.

Mereka memang tidak seterkenal Andrea Hirata ataupun Dewi Lestari, tetapi mereka bisa bermain di satu ceruk pasar yang spesifik sehingga jasa mereka selalu dibutuhkan. Mereka tahu siapa audience-nya, kemudian menjadikan kerja-kerja kepenulisan sebagai kerja yang menghasilkan.

Namun, semuanya kembali pada penulis itu sendiri. Jika meniatkan tulisan sebagai medium untuk menyampaikan sikap dan perlawanan pada rezim, maka menulis adalah jalan paling tepat untuk itu. Tapi jika meniatkan kerja-kerja kepenulisan sebagai sandaran hidup, maka ruangnya sangat terbuka lebar.

***

Saya terheran-heran jika mendengar ada penulis yang hidupnya sulit. Saya paham tentang iklim perbukuan di Indonesia. Bahwa seorang penulis hanya mendapatkan 10 persen dari harga buku. Kalau laku 1.000 buku dengan harga jual 50 ribu, maka penulis hanya mendapatkan angka 5 juta rupiah. Biasanya royalti dibayarkan setiap enam bulan.

Saya tahu ada beberapa penulis yang menyebut kerja kepenulisan tidak banyak mendatangkan penghasilan. Menurut saya, model bisnis yang hanya mengandalkan penghasilan dari penjualan buku tidak selalu bisa menjadi andalan. Demikian pula dengan menunggu penghasilan menulis dari media online. Ini juga tidak bisa menjadikan seorang hidup lebih dari cukup.

Makanya, aktivitas menulis harus diperluas. Bukan sekadar menulis opini dan esai di media massa. Bukan pula sekadar menulis karya sastra dan puisi yang kemudian dijual di toko buku. Bukan hanya menulis buku-buku serius yang kemudian dibicarakan komunitas ilmuwan.

BACA: Menjawab 10 Alasan Tidak Menulis

Menulis adalah mengalirkan gagasan melalui baris-baris aksara. Menulis adalah ikhtiar untuk menyampaikan ide kepada publik melalui berbagai medium dan kanal. Menulis adalah cara untuk menyentuh emosi orang lain, membangun silaturahmi, kemudian sama-sama bersepakat dengan gagasan tertentu.

Jika seseorang ingin hidup makmur dari kerja kepenulisan, maka harus berani meninggalkan zona nyaman, harus berani menjadi seorang penulis yang dibayar karena keahliannya.

Tentunya, kecakapan menulis saja tidak cukup. Anda harus berani memasarkan keahlian, melobi calon klien, serta meyakinkan calon klien kalau Anda sanggup mengerjakan kerja-kerja kepenulisan. Anda mesti membuka diri dan melihat berbagai celah baru yang bisa memberinya ruang untuk berkreasi, sekaligus mendapat penghasilan di situ.

Anda pun harus berani mengubah style menulis agar sesuai dengan keinginan klien. Bagus dan buruk dari kerja kepenulisan ini bukan terletak pada Anda dan calon pembaca, tetapi pada klien. Biar pun tulisan itu biasa saja, tapi klien merasa puas, maka Anda sudah bisa dikatakan berhasil.

Apakah ada pasarnya? Banyak banget.

Kita berada di era di mana eksistensi seseorang atau lembaga dilihat dari seberapa banyak orang yang mempercakapkannya. Kecakapan menulis dibutuhkan begitu banyak pihak, mulai dari akademisi di perguruan tinggi sampai lembaga-lembaga internasional yang hendak mendiseminasikan pengetahuan.

Catat pula, ada ribuan peneliti dan akademisi yang bisa naik pangkat jika punya publikasi. Ada ratusan pemerintah daerah yang butuh promosi dan diseminasi produk dan komoditas daerah, termasuk pariwisata. Ada ribuan pelaku bisnis yang butuh teknik copywriting untuk promosi produk dan belanja online.

Ada ribuan perusahaan yang butuh kemampuan menulis untuk diseminasi informasi dan citra lembaga. Ada ribuan politisi dan calon kepala daerah yang butuh narasi tentang dirinya agar disukai publik. Ada ratusan media, televisi, dan rumah produksi serta tim war room yang membutuhkan konten dan amunisi untuk disajikan ke publik.

Jika Anda punya kecakapan menulis, Anda bisa menjadi konsultan untuk semua kerja-kerja diseminasi itu. Anda bisa membantu banyak orang dan banyak lembaga dengan kecakapan Anda untuk mengenali audience dari dunia kepenulisan yang luas. Tentu saja, Anda bisa hidup makmur dari kemampuan itu.

Lagi-lagi kembali pada penulisnya. Ada saja yang berpandangan kalau kerja sebagai penulis berbayar dipandang rendah. Yaa, gak apa-apa sih. Jangan iri kalau lihat penulis lain lebih kaya.

***

Saat ini, kita hidup di era di mana ruang kreasi untuk menulis juga semakin luas. Dulu, penulis hanya berkreasi di medium cetak, baik itu melalui buku, dan publikasi lainnya. Kini penulis punya arena yang sangat luas. Penulis  bisa memanfaatkan era digital yang mau tak mau perlahan menjadi atmosfer masyarakat modern hari ini.

Dalam pandangan saya, profesi yang paling banyak diuntungkan di era digital adalah penulis. Tak percaya? Mari kita diskusi.

Pertama, kita masuk pada era digital di mana kecakapan menulis menjadi sangat bernilai. Eric Schmidt, mantan CEO Google, bilang era digital ditandai oleh berpindahnya penghuni rumah nyata ke rumah maya. Maksudnya, semua orang, lembaga, perusahaan, dan instansi ingin membangun rumah maya. Mereka berbondong-bondong membangun website.

BACA: Digital Storytelling untuk Menang Pemilu

Nah, orang mengira bahwa pekerjaan web adalah arena bagi para programer dan ahli IT. Ini keliru besar. Sebab orang IT punya kecakapan membangun web, tapi belum tentu punya kecakapan untuk mengisi konten. Ibaratnya, orang IT jago bikin rumah, tapi belum tentu bisa meramaikan rumah itu dengan aktivitas.

Bagian terpenting dari kerja-kerja web adalah hadirnya seorang kreator konten yang tahu apa pesan yang hendak disampaikan, serta bagaimana mengelola pesan itu sehingga bisa diterima khalayak luas.

Dalam beberapa diskusi dengan pemimpin perusahaan di Jakarta, saya mendengar sendiri cerita mereka kalau lemahnya web perusahaan disebabkan hanya memperkuat satu sisi yakni IT, sementara sisi pengelolaan konten justru sangat lemah. Padahal, jika ingin web itu kuat dan berdaya, maka harus ada keseimbangan antara bangunan web (aspek IT) dan kualitas isi web yang harusnya dikelola profesional oleh para penulis konten.

Kedua, bukan hanya web, era sekarang memberi ruang bagi kehadiran media sosial yang sangat besar. Hampir semua kantor, perusahaan, lembaga, organisasi membutuhkan saluran khusus atau kanal di media sosial. Di era ini tak cukup lagi berjejaring dengan media. Semua lembaga butuh satu kanal sendiri sebagai pelantang informasi kepada publik.

Belakangan ini, saya banyak bertemu anak muda yang mengelola banyak akun media sosial lembaga atau perusahaan. Pernah, saya menemukan satu anak muda yang mengelola lima akun media sosial. Jika untuk satu akun dia dibayar sampai 10 juta rupiah, hitung sendiri berapa rupiah yang bisa dia panen setiap bulan. Malah, banyak yang membuat perusahaan kemudian punya klien lebih dari 10 lembaga.

Para pengelola konten ini butuh kecakapan menulis serta kemampuan untuk menggali ide-ide baru demi konten yang lebuh segar. Di tangan para penulis hebat, kualitas konten bisa selalu terjaga sehingga bisa menggaet pengunjung lebih banyak.

Ketiga, di dunia bisnis online, orang butuh banyak pencerita handal yang mengabarkan satu produk secara luas. Dalam buku Storynomics yang ditulis Robert McKee, terdapat uraian bagaimana promosi atau iklan gaya lama yang kini digusur oleh storytelling atau pendekatan bercerita.

Storytelling adalah fundasi utama dari pemasaran konten. Anda tak mungkin memasarkan sesuatu jika tak punya kisah menarik. Kita sama tahu, sekarang ini banyak orang yang terlalu mendewakan big data untuk memahami manusia. Padahal, big data hanyalah satu instrumen yang membantu seseorang untuk merancang konten secara efektif.

Saya lihat beberapa orang telah mengembangkan teknik storytelling untuk memperbesar omzet penjualan. Artinya, jika Anda punya belanja online, Anda harus berpromosi. Anda harus meyakinkan orang lain. Untuk berpromosi, Anda mesti punya kemampuan memahami realitas serta tahu cara menggemakan pesan melalui tulisan.

Keempat, dunia politik kita sedang bergerak ke era 4.0, di mana seorang politisi tidak bisa lagi pasif dan menunggu diberitakan media. Seorang politisi atau pun pejabat publik harus berani menjemput bola dengan cara berselancar di dunia offline dan dunia online sekaligus. Semuanya membutuhkan satu tim humas yang bisa menjadi pengelola informasi yang tangguh. Semuanya membutuhkan seorang kreator konten.

Di dunia politik, para kreator konten akan menjadi juru bicara digital yang efektif dalam menentukan bagus tidaknya brand dari politisi atau partai politik. Di dunia ini berlaku pandangan “Semakin banyak likes, maka semakin tinggi elektabilitas.”

Bukan hal aneh jika melihat seorang politisi dan pejabat publik ke mana pun akan datang bersama tim media. Sering kali mereka menjalin relasi dengan beberapa media, tetapi jauh lebih efektif jika mengelola informasi melalui satu tim khusus yang digaji secara profesional.



*** 

“Bisakah kegiatan menulis menjadikan seseorang makmur?” tanya seorang kawan. Tentu saja bisa. Yang penting seseorang punya kejelian dalam melihat mana ceruk yang bisa dikelola menjadi bisnis sehingga mendapatkan bayaran yang pantas.

“Apakah Anda sendiri sudah makmur karena menulis?” kawan itu masih bertanya. Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Saya punya banyak kawan yang sudah makmur gara-gara menulis.

Saya sendiri masih nyaman menjadikan kerja menulis sebagai cara untuk menggaet fans sebanyak-banyaknya. Tapi, saya tahu bahwa ada banyak cara untuk mengubah kegiatan itu menjadi sesuatu yang produktif.




3 komentar:

Johan Wahyudi said...

Assalamualaikum. Selamat siang, Mas Yusran. Senang sekali baca tulisan ini tapi kok ya nggak kasih kabar. Heeemmm.....

Unknown said...

Melalui tulisan-tulisan beliau di media sosial, Pak Johan Wahyudi secara tidak langsung telah memberi banyak pengaruh kepada isi facebook saya. Ada pesan tersirat yang cukup kuat bagaimana seharusnya media sosial, seperti facebook, dimanfaatkan untuk berbagi kebaikan.

Sejak berteman di facebook dan gemar membaca tulisan-tulisan beliau, saya jadi memiliki keberanian untuk mengisi facebook saya dengan konten-konten tulisan.

Terima kasih, Pak Johan. Sekarang menulis telah menjadi bagian pelajaran dalam hidup saya yang semakin menyenangkan.

Unknown said...

Inspiratif

Post a Comment