Sepuluh Alasan Mengapa Saya Menulis Blog



ilustrasi


JAUH sebelum menjadi blogger, saya merasakan bagaimana nikmatnya menulis di media cetak. Saat berprofesi sebagai jurnalis di satu media, saya merasakan bagaimana menulis setiap hari, dan menyeleksi tulisan mana yang dimuat di media. Hingga akhirnya, saya mundur dari dunia itu, kaki saya masih berpijak di dunia aksara. Saya menyebar tulisan di banyak media demi menopang hidup.

Tanpa bermaksud angkuh, saya telah menjajal berbagai genre dan medium menulis, mulai dari opini media, artikel majalah, newsletter, buku, jurnal ilmiah, hingga publikasi internasional. Namun saya justru menemukan passion saya di dunia blogger. Saya menemukan satu kegairahan yang tak saya temukan di media lain. Saya menemukan betapa nikmatnya menulis di media baru ini, sesuatu yang tak banyak dipahami oleh para penulis di media konvensional. Saya merasakan kebebasan, kegairahan, serta interaksi yang membuat saya ketagihan di dunia ini.

Yang saya herankan, sering kali ada anggapan bahwa blogger adalah kumpulan para penulis amatir yang hanya menulis curhat. Anggapan ini salah besar. Bisa saya tunjukkan betapa banyaknya para cendekia, profesor, dan penulis berpengalaman yang justru lebih nyaman menjadi blogger. Bisa pula saya tunjukkan betapa banyak buku yang dilahirkan para blogger. Mereka yang menganggap blogger bukan penulis adalah mereka yang kurang berselancar di internet, kurang meng-update berbagai informasi yang berseliweran. Mungkin saja mereka kurang piknik.

Namun jika saya renungi, terdapat beberapa alasan mengapa dunia blog jauh lebih menyenangkan daripada dunia menulis di media cetak.

Pertama, kebebasan. Menulis di blog membuat saya bebas menulis apapun. Saya tak bisa didikte siapapun. Saya bisa menulis berbagai topik yang saya sukai, mulai dari bacaan, film, hingga apa yang saya pikirkan. Ini jelas berbeda dengan media konvensional di mana saya menulis berdasarkan topik yang sedang hangat dibicarakan. Di dunia blog, saya bebas menulis apapun, termasuk topik yang mustahil diangkat oleh media massa.

Saya tak harus bersetia pada gaya menulis yang populer. Dengan menulis di blog, saya bebas memilih diksi, istilah, atau apapun style menulis. Saya bebas memulai dari mana saja, tak harus mengikuti kaidah penulisan berita yang 5W + 1H. Saya ibarat anak kecil yang menemukan lahan bermain yang luas dan diijinkan berlarian sebebas mungkin.

Kedua, dunia blog mempertemukan saya dengan banyak kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Para blogger itu bisa siapa saja dan domisili di mana saja. Tak bisa dipetakan berdasarkan lapis sosial tertentu. Mereka saling berbagi kabar dan berbagi pengetahuan secara gratis, tanpa mengharapkan apapun.

Beberapa kali saya ke daerah, dan selalu bertemu para blogger. Mereka bisa berprofesi sebagai pegawai kantoran, ataupun ibu rumah tangga. Ada di antara mereka yang merupakan kelompok sosialita dengan tas-tas mahal dan bermerek, tapi ada juga yang merupakan traveler dengan bersendal jepit. Tak penting apa latar belakangnya, selagi saling berbagi kabar, maka mereka akan selalu bertaut.

Sungguh beda dengan komunitas penulis opini media yang pernah saya ikuti. Di situ adalah barisan para pemikir yang serius, membaca buku-buku tebal, suka mengutip berbagai istilah. Di dunia blog, saya bertemu warna-warni manusia yang menyukai beragam topik. Makanya, pertemuan dengan para blogger selalu menjadi pertemuan yang paling menyenangkan. Kami bisa bercerita bebas, berbagi makanan, tanpa harus ada yang jadi sentrum atau pusat. Semuanya sejajar. Semuanya punya cerita.

Ketiga, seorang blogger adalah jurnalis, editor, penerbit, serta pembaca sekaligus. Bayangkan, anda menjalankan sendiri semua pekerjaan itu. Mulai dari menulis, mengedit, me-layout, memasukkan foto, membuat ilustrasi hingga menerbitkannya sekaligus. Betapa nikmatnya meracik sendiri bahan tulisan lalu mengolahnya dengan bahan yang ada hingga menyajikannya. Seperti apapun kue tulisan yang hadir, maka itulah manifestasi diri anda. Ada proses ketika anda terketuk ide, mulai mencari wadah menulis, terkoneksi internet, lalu menambahi ilustrasi. Yummy! Jadilah hidangan tulisan yang bergizi itu.

Keempat, dunia blog adalah dunia yang anti-struktur dan anti-hierarki. Di media massa, betapa banyaknya struktur yang harus dilewati agar tulisan anda lolos. Mulai dari jurnalis yang memeriksa naskah redaktur, editor bahasa, redaktur pelaksana, hingga pemimpin redaksi. Belum lagi hierarki di industri media yang setiap saat bisa membatalkan tulisanmu untuk dimuat. Di semua fase, tulisan anda bisa terpental. Di dunia blog, tak ada mahluk bernama bos. Kamulah satu-satunya yang mengendalikan struktur. Yang membatasi hanyalah seberapa banyak kuota internet. Ada lagi, kalau listrik padam, kamu tak bisa terkoneksi.

Kelima, dunia blog adalah dunia yang mudah ditemukan. Tak perlu berlangganan informasi. Cukup menghidupkan perangkat telepon genggam, maka kamu sudah bisa mengakses informasi dan menayangkan tulisan. Orang-orang juga mudah mengenalimu saat sering membaca tulisan-tulisanmu. Jangan salah, kamu bisa mendapatkan banyak rejeki tak terduga dari aktivitasmu di dunia blog. Saya sering merasa terheran-heran saat bertemu seseorang yang tahu segala hal tentang diri saya. Ternyata dia membaca blog saya. Kadang risih juga saat dimintai tanda-tangan. Emang gue siape?

Jika media cetak peredarannya terbatas hanya pada area tertentu, blog justru sangat fleksibel. Blog bisa dibaca di mana saja, bahkan di luar negeri sekalipun. Jika suatu saat anda berkunjung ke Planet Mars dan bisa mengakses internet, pasti anda bisa melihat blog, bisa pula mengisinya. Blog tak mengenal tempat. Ia bisa ditemukan di mana saja, ia juga bisa diisi di mana saja.

Keenam, dunia blog adalah dunia yang personal sekaligus sosial. Personal dalam artian kita bebas menulis dengan menggunakan perspektif diri kita sendiri. Di dunia blog, anda tak perlu gelar sarjana politik untuk menjadi seorang penganalisis politik. Tak perlu menjadi jurnalis bola untuk sekadar menjadi pengamat bola. Kamu bisa menjadi apa saja. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri, tanpa harus peduli dengan orang lain.

Sosial dalam artian kamu membangun interaksi dengan blogger lain Minimal, blogger lain itu adalah sahabat dekatmu yang bisa membaca lalu memberikan masukan. Kalau kamu aktif di facebook, cukup letakkan tautan di timeline kamu, maka yakinlah, semua sahabatmu akan ikut melihat dan penasaran atas apa yang kamu tulis. Artinya, setiap tulisan pasti ada pembacanya. Minimal diri sendiri dan keluarga.

Ketujuh, ruang untuk menulis blog sangat luas. Jika menulis di media massa, kamu harus memperhatikan seberapa panjang tulisan yang dibutuhkan untuk dimuat. Menulis di blog, kamu bebas mengatur sendiri berapa panjang naskahmu. Kamu bebas hendak menulis panjang dan pendek, bebas memasukkan foto dan grafis, bebas mengisi sebanyak-banyaknya informasi. Tak perlu khawatir. Internet adalah dunia maha luas yang belum bisa diketahui tepian-tepiannya sampai batas mana. Artinya, kamu bisa berkrasi segila mungkin, tanpa harus takut terbatasi.



Kedelapan, dunia ini tidak ribet. Dengan bermodalkan telepon selular (ponsel), kamu sudah bisa meng-update isi blogmu lalu menyebarkannya ke mana-mana. Kalau tak punya ponsel, kamu bisa ke warnet demi meng-upload. Kalau masih tak ada lagi, bisa pergi ke restoran cepat saji yang menyediakan layanan internet gratis. Gampang khan?

Kesembilan, dunia blog adalah dunia yang terus berproses. Mulanya nge-blog, saya hanya bisa menulis satu atau dua paragraf. Seiring waktu, kemampuan terus berkembang. Kini, saya mulai bisa menulis panjang-panjang dengan teknik menulis yang membuat orang lain betah membacanya. Blog mengasah daya-daya kreativitas dan nalar seorang blogger untuk terus menyempurna. Melalui interaksi dengan pembaca, seorang blogger bisa terus belajar dan menyempurnakan tulisannya, menyerap semua energi kritik demi menemukan karakter kuat dalam semua tulisan-tulisannya.

Kesepuluh, dunia blog adalah dunia yang abadi. Semua tulisan tercatat rapi dalam jagad raya luas bernama internet. Tulisan itu akan terus tayang dan bisa ditemukan siapapun yang ingin membacanya. Tulisan itu tak mengenal istilah basi, bisa disaksikan setiap saat, bisa di-update setiap saat, bisa pula dikoreksi setiap saat. Tulisan itu menjadi jejak yang mengisahkan pemikiranmu pada satu kurun waktu, menjadi saksi atas apapun yang kamu saksikan lalu pikirkan, menjadi tanda yang mengantarkanmu ke aras kedewasaan dan kebijaksanaan.

***

INILAH sepuluh daftar yang saya temukan. Boleh jadi, masih banyak hal lain yang belum sempat saya catat. Yang memotivasi saya bertahan di dunia ini adalah amatan saya tentang format media masa depan yang akan berevolusi ke arah media yang lebih personal. Orang-orang akan mencari media ataupun blog yang paling klik dengan hati dan pikirannya, lalu menjadi pengunjung setia blog itu demi menyerap semua informasi.

Dunia ini mempertemukan saya dengan banyak orang yang sepeminatan. Saya merasakan banyak kenikmatan di dunia blog yang selalu menjadi hal-hal yang membahagiakan. Ibarat rumah bermain, dunia blog selalu saja nyaman menjadi tempat untuk tetirah atau melepas kepenatan, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Di sini, saya menemukan oase atau tempat minum di tengah gurun kehidupan. Di sini pula saya berbagi banyak hal untuk saling menguatkan bersama semua orang yang menganggap saya sebagai sahabat.(*)


5 comments:

  1. dulu, saya tak ada hasrat untuk 'suka menulis', tapi setelah mengenal blog, sehari nggak nulis di blog rasanya hampa. dan bagi saya, memang kebebasan 'berekspresi' itulah yang sangat meracuni saya untuk tetap ngeblog

    ReplyDelete
  2. mantab mas, btw terima kasih sharing2nya..
    salam kenal
    sutopo blogger jogja

    ReplyDelete
  3. Salam kenal mas.
    Sepertinya kita punya kesamaan alasan untuk ngeblog. Meski, bekgrond saya bukan jurnalis. :)

    ReplyDelete
  4. blm pernah ya kita ngopi bareng :)

    ReplyDelete
  5. Wow... asyiknya ngeblog!

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...