Tribun Timur versus Kecerdasan Buatan

saat masih menjadi jurnalis Tribun Timur

Di suatu waktu, di satu warung kopi di sudut Makassar, saya bertemu seorang kawan lama. Wajahnya tenang, tetapi ceritanya getir. Ia baru saja diberhentikan dari harian Tribun Timur, salah satu media besar di Sulawesi Selatan. 

Pemberhentian itu, katanya, bukan peristiwa tunggal. Kejadian tersebut merupakan bagian dari arus panjang yang sedang menyeret industri media menuju senja. Dia bercerita tentang oplah yang menurun, iklan yang berpindah ke platform digital, dan ruang redaksi yang kian menyempit. 

Lalu muncul satu kata yang belakangan sering menjadi kambing hitam sekaligus kambing emas: AI.

Ia terkekeh; tawa pendek yang lebih mirip pasrah. Dari ponselnya, ia memberi perintah sederhana, “Buat berita tentang kecelakaan di Jalan Hertasning.” Dalam hitungan detik, layar menampilkan straight news lengkap. Judul, lead, kronologi, kutipan aparat, hingga penutup yang rapi. Rekan itu hanya mengedit sedikit. Berita tersebut, katanya, sudah layak tayang.

Pemandangan itu menyeret saya pada nostalgia. Ada satu masa ketika menjadi jurnalis Tribun Timur berarti harus benar-benar pergi. Turun ke lapangan. Menyusuri jalan, memotret peristiwa, merekam suara narasumber dengan tape recorder—pita kasetnya sering kusut, suaranya kadang berdesis. 

Setelah liputan, kami bergegas kembali ke kantor. Bukan untuk mengunggah file, melainkan untuk mengetik berita secepat mungkin. Komputer kala itu barang langka; satu mesin dipakai bergantian. Kecepatan lahir dari disiplin dan naluri, bukan dari algoritma. Fakta dikumpulkan lewat tatap muka, bukan lewat perintah teks.

Perubahan itu kini terasa radikal. Sejak AI hadir, disrupsi media tak lagi bisa dihindari. Di banyak negara, robot journalism telah lama dikenal. Kini istilah AI journalism kian lazim. Mesin menulis laporan keuangan, skor pertandingan, gempa bumi; bahkan merambah berita harian. 

Di balik kecanggihan itu, ada kenyataan pahit: kehadiran AI beriringan dengan berkurangnya jurnalis. Redaksi mengecil, desk digabung, dan kerja jurnalistik yang dulu dikerjakan manusia perlahan dialihkan ke algoritma.

Namun, AI bukan akar masalah. Teknologi ini lebih tepat disebut akselerator. Industri media telah lama rapuh oleh perubahan model bisnis. Iklan berpindah ke platform digital, audiens terfragmentasi, dan kecepatan menjadi mata uang utama. 

AI datang mempercepat keputusan yang sejak lama menggantung; efisiensi biaya dengan risiko mengorbankan kualitas dan manusia. Dalam logika industri, mesin tampak rasional. Dalam logika jurnalisme, situasinya jauh lebih rumit.

Di sinilah suara para pemikir jurnalisme kembali relevan. Bill Kovach, bersama Tom Rosenstiel, menegaskan bahwa tujuan utama jurnalisme bukan teknologi atau kecepatan, melainkan kebenaran yang diverifikasi. 

Jurnalisme adalah disiplin verifikasi, kerja intelektual sekaligus moral yang tak bisa sepenuhnya diserahkan kepada mesin. AI dapat mengolah data. Akan tetapi, ia tidak memahami konteks sosial, sejarah luka, serta konsekuensi dari sebuah narasi.

Mesin membaca peristiwa sebagai rangkaian variabel, bukan sebagai pengalaman manusia yang berlapis. Bagi algoritma, bentrokan warga adalah “insiden”. Bagi manusia yang hidup di dalamnya, peristiwa itu bisa menjadi trauma yang diwariskan lintas generasi. 

AI tidak tahu mengapa satu kalimat bisa melukai; mengapa satu foto dapat memantik amarah; atau mengapa satu judul berita memperpanjang stigma terhadap kelompok tertentu. Sistem ini tidak memiliki ingatan kolektif, apalagi empati.

Jurnalisme bekerja bukan hanya dengan fakta, tetapi juga dengan konteks. Ia menuntut pemahaman atas relasi kuasa, ketimpangan, sejarah, serta luka sosial yang tak selalu tercatat dalam data. Seorang jurnalis yang turun ke lapangan membawa lebih dari sekadar alat rekam. Dia membawa intuisi, kepekaan, dan tanggung jawab moral. 

Seorang reporter tahu kapan sebuah kutipan perlu ditulis utuh; kapan harus dipotong; dan kapan justru tidak ditayangkan demi melindungi korban. Keputusan-keputusan semacam ini lahir dari pengalaman dan nurani, bukan dari probabilitas statistik.

Pandangan tersebut sejalan dengan warisan Joseph Pulitzer. Bagi Pulitzer, pers memiliki tanggung jawab publik: mengawasi kekuasaan, mendidik warga, serta menjaga demokrasi tetap bernyawa. 

Jika media hanya tunduk pada efisiensi dan sensasi, pers akan kehilangan rohnya. Di era AI, peringatan itu terasa kian mendesak. Bukan karena mesin, melainkan karena manusia yang tergoda menyerahkan keputusan etis kepada algoritma.

AI juga tidak menanggung akibat dari kesalahan. Jika sebuah berita yang ditulis mesin memperkeruh konflik, menyudutkan korban, atau memperkuat prasangka, teknologi tersebut tidak ikut memikul beban sosialnya. 

Yang menanggung adalah publik; dan pada akhirnya, jurnalis serta institusi media. Menyerahkan kerja jurnalistik sepenuhnya kepada AI sama dengan memutus mata rantai tanggung jawab. Ada kekosongan etis yang tidak bisa diisi oleh kecanggihan teknologi.

Namun, menolak AI sepenuhnya juga bukan jawaban. Teknologi ini dapat menjadi mitra. Ia membantu investigasi berbasis data, menelusuri ribuan dokumen, menemukan pola yang sulit dibaca manusia, sekaligus mengambil alih kerja repetitif. Dengan begitu, jurnalis bisa kembali pada inti profesinya: bertanya, meragukan, dan memberi makna.

Kesimpulannya, persoalan ini bukan tentang memilih kawan atau musuh, melainkan menentukan posisi. AI harus diperlakukan sebagai mitra, alat bantu yang memperkuat jurnalisme, bukan pengganti nurani editorial. 

***

Menjelang senja, warung kopi itu kembali riuh oleh suara sendok dan gelas. Kawan saya menyimpan ponselnya, menatap jalanan Makassar yang mulai padat. Di luar, motor melintas, klakson bersahutan; hidup berjalan seperti biasa. Di layar gawainya, aplikasi AI terdiam. Tidak ada lagi perintah. Tidak ada lagi berita instan.

Saya membayangkan ruang redaksi lama. Kursi yang berdecit, meja penuh kertas, suara ketikan yang berlomba dengan waktu. Ada peluh, ada cemas, ada rasa takut salah; tetapi juga ada keyakinan: bahwa berita bukan sekadar teks, melainkan tanggung jawab. 

Kini, semuanya terasa lebih sunyi. Mesin bisa menulis lebih cepat, lebih rapi, bahkan lebih “netral”. Namun ia tidak pernah benar-benar hadir di tempat kejadian.

AI mungkin akan terus menyempurnakan kalimat. Barangkali kelak ia meniru gaya, emosi, bahkan ironi. Tetapi satu hal tetap tak bisa ia lakukan: menanggung akibat dari kata-kata yang ia susun. Beban itu selalu jatuh ke manusia, kepada mereka yang memilih menulis, atau memilih diam.

Matahari kian rendah. Bayangan memanjang di aspal. Di antara cahaya yang meredup dan kota yang bergerak tanpa jeda, saya teringat satu baris lagu lama dari The Times They Are a-Changin': “For the times they are a-changin’.”

Zaman memang berubah. Teknologi datang silih berganti. Tetapi di tengah perubahan itu, pilihan tetap berada di tangan manusia. Apakah kita ingin jurnalisme yang sekadar cepat, atau jurnalisme yang berani hadir. Apakah AI akan kita tempatkan sebagai alat, atau perlahan kita biarkan mengambil alih makna.

Dan selama masih ada jurnalis yang memilih turun ke lapangan, meski tanpa tape recorder, meski tanpa komputer langka, selama itu pula, jurnalisme belum benar-benar selesai.

Selamat Ultah Tribun Timur ke-22!