Membaca Dan Brown dalam Cermin Antropologi
SETELAH memesan di bulan November, kini The Secrets of Secrets, novel terbaru Dan Brown, sudah berada di tangan saya. Beberapa kali saya tergoda untuk membeli versi bahasa Inggris, namun saya menanti versi Indonesia yang dikerjakan Mizan.
Bahkan saat beredar versi pdf gratisan buku ini, saya tetap menunggu versi terjemahan. Demikian pula ketika saya membaca ulasannya di media luar negeri.
Ada rasa nikmat tersendiri yang sukar dijelaskan ketika berenang dalam lautan kata dalam bahasa ibu. Hal lain yang membuat saya menunggu adalah adanya tanda tangan Dan Brown untuk edisi khusus terjemahan. Biar sedikit lebih mahal, saya langsung pesan.
Melihat sampulnya, pikiran saya melayang ke Robert Langdon, ahli simbologi dari Harvard. Sampulnya menampilkan simbol-simbol yang segera terasa akrab: misterius, sarat petunjuk, dan seolah menjanjikan sebuah rahasia besar yang menunggu untuk dibongkar. Ada sensasi unik ketika melihat sampul novel Dan Brown
Ada perasaan bahwa di balik halaman-halamannya, dunia akan kembali dipenuhi kode, lorong gelap, organisasi rahasia, dan pertarungan antara kebenaran dan kekuasaan.
Di momen itulah, ingatan saya melompat jauh ke belakang, pada saat pertama kali menggenggam The Da Vinci Code. Waktu itu, pacar saya (ehmm) menghadiahkan buku itu disertai simbol cinta. Di situlah saya yakin cinta saya berbalas. Ups.
Waktu itu, saya belum mengenal istilah “antropologi simbolik”, belum pernah membaca Clifford Geertz atau Lévi-Strauss. Yang saya tahu, novel itu membuat saya percaya bahwa lukisan, gereja, dan kota-kota tua di Eropa bukan sekadar benda mati, melainkan menyimpan cerita yang bisa dibaca seperti teka-teki raksasa.
Pengalaman membaca The Da Vinci Code terasa seperti diajak masuk ke dunia di mana kebudayaan bekerja melalui tanda. Simbol tidak lagi dekorasi, tetapi kunci.
Dari sudut pandang antropologis, ini sejalan dengan gagasan bahwa kebudayaan adalah sistem makna yang disampaikan lewat simbol. Gereja, museum, lukisan Leonardo, hingga tata kota Paris dalam novel itu berfungsi sebagai “teks” yang dapat ditafsirkan.
Pertanyaannya bukan hanya apa maknanya, tetapi siapa yang berhak menentukan makna tersebut.
Di situlah konflik utama novel itu sesungguhnya berlangsung: bukan sekadar kejar-kejaran fisik, tetapi pertarungan otoritas pengetahuan. Tafsir resmi gereja berhadapan dengan tafsir alternatif tentang Maria Magdalena dan garis keturunan suci.
Dari kacamata antropologi, ini mencerminkan bagaimana institusi menjaga legitimasi melalui kontrol atas narasi sejarah dan simbol-simbol sakral. Kebenaran bukan hanya soal fakta, tetapi juga soal siapa yang memiliki kekuasaan untuk mengesahkannya.
Saat membaca Angels & Demons, saya sudah belajar antropologi di level magister. Tentunya sudah punya pengetahuan mengenai kode-kode kebudayaan.
Di novel ini, lanskap simbolik yang bergeser dari seni Renaissance ke dunia sains modern. Tetapi strukturnya tetap sama: ada ritual, ada hierarki, ada bahasa khusus yang hanya dipahami kalangan tertentu.
Vatikan dengan conclave-nya dan CERN dengan eksperimen partikel berenergi tinggi, keduanya tampil sebagai institusi dengan mitologi masing-masing. Sains dan iman, dalam novel ini, tidak semata-mata berhadapan sebagai ide, tetapi sebagai komunitas dengan identitas dan kepentingan.
Dalam antropologi, ini penting: sains pun adalah praktik sosial. Sains memiliki ritus inisiasi, otoritas epistemik, dan narasi heroik tentang penemuan.
Dengan cara yang mungkin tidak sepenuhnya disadari, Dan Brown menunjukkan bahwa konflik besar peradaban sering kali bukan hanya benturan gagasan, tetapi juga benturan struktur sosial yang mempertahankan wibawa dan wilayah pengaruhnya.
Yang selalu konsisten dalam novel-novel Brown adalah daya tarik pada pengetahuan rahasia. Ini yang membuat adrenalin petualangan saya selalu aktif saat membaca novelnya.
Organisasi tersembunyi, dokumen kuno, kode yang hanya bisa dibaca segelintir orang. Semuanya membentuk imajinasi tentang dunia berlapis-lapis.
Dalam banyak kebudayaan, akses pada pengetahuan esoterik adalah sumber kekuasaan simbolik. Dukun, pendeta, atau tetua adat dihormati bukan karena kekuatan fisik, tetapi karena dianggap memiliki hubungan dengan dunia yang tak kasatmata.
Dan Brown memindahkan struktur itu ke dunia modern. Rahasia kini tersimpan bukan di hutan atau gunung, tetapi di perpustakaan, arsip Vatikan, dan lukisan di museum.
Namun logikanya tetap sama: dunia ini tidak sepenuhnya transparan, dan makna sejati hanya bisa dibuka oleh mereka yang mampu membaca tanda. Dari sudut antropologi, ini berkaitan dengan kebutuhan manusia akan kosmologi, rasa bahwa hidup tersusun dalam pola, bukan sekadar rangkaian kebetulan.
Kota-kota dalam novel Brown juga selalu tampil sebagai ruang simbolik. Roma, Paris, bahkan lorong-lorong bawah tanah, diperlakukan seperti tubuh yang menyimpan ingatan sejarah.
Dalam antropologi perkotaan, ruang adalah produk sosial. Ruang dibentuk oleh kekuasaan, ideologi, dan ingatan kolektif. Ketika menjadikan patung, gereja, dan alun-alun sebagai petunjuk rahasia, Dan Brown sesungguhnya sedang menegaskan bahwa kota adalah arsip budaya yang bisa dibaca, jika kita tahu caranya.
Namun sebagai pembaca yang kemudian mengenal antropologi dan sejarah, saya juga belajar bersikap kritis. Tradisi dan agama yang sangat kompleks sering kali disederhanakan menjadi skema konspirasi yang dramatis. Nuansa sejarah dikorbankan demi ketegangan cerita.
Dari sudut pandang akademik, ini problematis. Tetapi dari sudut pandang antropologi media, justru di situlah daya pengaruhnya: fiksi populer sering kali membentuk imajinasi publik lebih kuat daripada buku ilmiah.
Banyak orang mengenal Illuminati, Templar, atau simbol-simbol Kristen bukan dari jurnal sejarah, melainkan dari novel. Ini menunjukkan bahwa sastra populer ikut memproduksi pengetahuan sosial, membentuk cara masyarakat membayangkan masa lalu dan lembaga keagamaan.
Dalam arti tertentu, Dan Brown bukan hanya bercerita tentang sejarah, tetapi juga menciptakan versi sejarah yang hidup dalam benak jutaan pembaca.
Kini, ketika The Secret of Secrets berada di tangan saya, rasa itu muncul kembali. Bukan sekadar rasa penasaran pada alur cerita, tetapi nostalgia pada pengalaman awal membaca dunia sebagai rangkaian tanda.
Maka membaca Dan Brown, bagi saya, akhirnya bukan soal percaya atau tidak pada teori konspirasi yang ia bangun.
Membacanya lebih merupakan pengalaman antropologis tentang bagaimana manusia membangun mitos modern, bagaimana institusi mempertahankan otoritas melalui narasi, dan bagaimana kita, sebagai pembaca, selalu tergoda oleh gagasan bahwa dunia menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya kita pahami.
Dan justru di situlah, imajinasi saya mulai bermain: bagaimana jika Robert Langdon tidak berlari di lorong Vatikan atau museum Paris, tetapi mendarat di Jakarta?
Saya membayangkan ia memulai penyelidikan dari Gereja Sion di Kota Tua, gereja tertua di Jakarta, tempat jejak-jejak kolonial dan ingatan tentang kematian, perbudakan, serta perdagangan rempah berkelindan dalam sunyi.
Dari sana, mungkin sebuah manuskrip membawanya ke peta-peta tua VOC, tentang harta yang hilang, jalur pelayaran rahasia, dan konflik yang sengaja dihapus dari arsip resmi.
Lalu teka-teki itu membawanya lebih jauh ke masa sebelum kolonial: ke era Majapahit yang gemilang, ke simbol-simbol kosmologi Nusantara, ke prasasti dan naskah yang terserak di museum, pesantren, dan rumah-rumah tua yang tak lagi dibaca sebagai sumber pengetahuan, melainkan sekadar peninggalan bisu.
Di sanalah, mungkin, Langdon akan menemukan bukan hanya satu rahasia besar, tetapi banyak patahan sejarah Nusantara. Bnayak bagian-bagian masa lalu yang terputus, disenyapkan, atau dikaburkan oleh perubahan rezim, kolonialisme, dan politik ingatan. Bukan satu konspirasi tunggal, melainkan jaringan panjang penghapusan makna.
Dan mungkin, justru di situ letak petualangan sesungguhnya: bahwa negeri ini sendiri adalah novel penuh simbol yang belum selesai dibaca. Kota-kota kita, bangunan tua kita, manuskrip yang berdebu di rak-rak arsip, bahkan tradisi lisan yang nyaris hilang, semuanya adalah kode yang menunggu ditafsirkan.
Jika demikian, maka Dan Brown tidak lagi sekadar mengajak kita percaya pada rahasia besar dunia Barat, tetapi—secara tak langsung—mengingatkan bahwa kita pun hidup di atas lapisan-lapisan sejarah yang sama misteriusnya. Bedanya, teka-teki itu tidak berada di Roma atau Paris, melainkan di depan mata kita sendiri, di Jakarta, di Jawa, di pesisir-pesisir Nusantara.
Dan barangkali, di situlah tantangan yang lebih penting: bukan menunggu Robert Langdon datang, tetapi bertanya apakah kita sendiri cukup berani dan cukup ingin tahu untuk membaca simbol-simbol negeri kita, sebelum semuanya benar-benar hilang dari ingatan.

.jpg)

