Anak BANGKOK yang Kalahkan THAILAND
Wajah putus asa mulai terlihat di Gelora Bung Karno. Indonesia tertinggal 1-2 dari Thailand dan waktu hampir habis. Ada semacam trauma lama yang kembali malam itu.
Di antara penggemar sepak bola Indonesia, kita pernah mengenal kalimat setengah bercanda, setengah putus asa: "Semua bisa dikalahkan, kecuali Thailand."
Pada menit ke-116, di tengah keadaan yang semakin genting, bola jatuh di kaki seorang pemain Indonesia. Ia menendangnya. Bola meluncur, menghantam bagian bawah mistar, lalu masuk ke gawang. Stadion meledak dan Indonesia kembali hidup.
Ada ironi kecil dalam gol itu. Pemain yang menggagalkan kemenangan Thailand justru dilahirkan di Bangkok. Namanya Elkan Baggott.
BACA: Dari Pengasingan ke Garuda, Anak MALUKU yang Membasuh Luka Kolonialisme
Elkan bukan hanya mencetak gol yang membuat pertandingan berlanjut. Dalam adu penalti, ia kembali menjalankan tugasnya dengan baik. Indonesia akhirnya menang dan menjadi juara. Seusai pertandingan, lelaki berusia 23 tahun itu dikerubungi wartawan. Di tengah kegembiraan, ia mengucapkan kalimat sederhana: “Saya bangga jadi orang Indonesia.”
Kalimat itu membawa kita keluar dari sepak bola. Sebab pada diri Elkan tersimpan sebuah pertanyaan yang sudah lama mengikuti perjalanan bangsa ini: siapakah sebenarnya orang Indonesia?
Elkan lahir dari ibu Indonesia dan ayah Inggris. Sebagian masa kecilnya dilewati di Bangkok dan Jakarta sebelum ia pindah ke Inggris. Di sanalah sepak bola membentuk perjalanan hidupnya.
Tubuhnya menjulang hampir dua meter. Wajahnya bisa membuat orang yang berpapasan dengannya di sebuah bandara Eropa tidak segera menduganya sebagai orang Indonesia. Namun ketika harus menentukan negara yang dibela, ia memilih Indonesia.
Kita memang telanjur memiliki gambaran tertentu mengenai orang Indonesia. Kulit sawo matang, rambut hitam, lahir di sebuah kota atau kampung di Nusantara, serta berbicara bahasa Indonesia sejak kecil. Gambaran itu mungkin berguna untuk ilustrasi dalam buku sekolah dasar, tetapi sejarah manusia tidak pernah sesederhana gambar di buku pelajaran.
Lihatlah ruang ganti Timnas Indonesia hari ini. Ada pemain yang lahir di Indonesia, tetapi ada pula yang dilahirkan di Belanda, Inggris, Italia, Australia, Thailand, dan negeri lain. Garis keluarga mereka menuju Ambon, Manado, Jawa, Makassar, Aceh, serta berbagai tempat lainnya. Ada pula jejak Tionghoa dalam silsilah sebagian pemain.
Mereka adalah anak dan cucu dari perjalanan panjang diaspora. Leluhur mereka meninggalkan Nusantara karena pekerjaan, pendidikan, perkawinan, perang, atau berbagai pergolakan sejarah. Anak-anak mereka kemudian lahir di negeri lain dan tumbuh dalam bahasa serta kebudayaan yang berbeda.
Beberapa generasi kemudian, sebagian garis perjalanan itu seperti berputar kembali. Indonesia yang mungkin hanya mereka kenal melalui cerita orang tua atau kakek-nenek tiba-tiba menjadi sebuah negeri yang hendak mereka bela.
Di hadapan mereka, kata “asli” menjadi problematis. Siapakah sebenarnya orang Indonesia asli?
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Jauh sebelum republik ini berdiri, kepulauan Nusantara sudah menjadi ruang perjumpaan. Orang Arab, Tionghoa, India, Eropa, dan berbagai bangsa lain datang, menetap, menikah, lalu memiliki keturunan. Pada saat yang sama, manusia dari berbagai pulau terus bergerak mengikuti perdagangan, pekerjaan, perang, dan perubahan zaman.
Kolonialisme mencoba menertibkan kerumitan itu dengan kotak-kotak rasial. Manusia dibagi menjadi Eropa, Timur Asing, dan pribumi. Asal-usul menentukan kedudukan. Warna kulit tidak lagi sekadar warna kulit, tetapi berhubungan dengan hukum, pendidikan, pekerjaan, dan kekuasaan.
Dunia semacam itulah yang kita temukan dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Minke adalah pribumi yang mendapat pendidikan Eropa. Ia mencintai Annelies, anak seorang lelaki Belanda dan Nyai Ontosoroh. Di sekitar mereka ada orang Eropa, Indo, pribumi, serta manusia-manusia yang hidup di antara kategori-kategori tersebut.
Pramoedya memperlihatkan betapa sulitnya memasukkan manusia ke dalam kotak yang rapi. Kolonialisme membutuhkan batas yang tegas tentang siapa Eropa dan siapa pribumi, tetapi kehidupan terus menghasilkan manusia yang melintasi batas-batas itu.
Sejarah pergerakan Indonesia pun memberi kita contoh yang menarik. Ernest Douwes Dekker lahir dengan darah Eropa dan Jawa. Dalam masyarakat kolonial, ia ditempatkan dalam kategori yang berbeda dari kebanyakan penduduk pribumi.
Namun bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, ia memilih jalan politik yang menentang kolonialisme. Kelak ia mengambil nama Danudirja Setiabudi.
Tentu Douwes Dekker dan Elkan Baggott hidup dalam zaman dan medan yang sama sekali berbeda. Tidak ada alasan menyamakan perjuangan keduanya. Namun ada sebuah benang tipis yang mempertemukan cerita mereka: keindonesiaan tidak selalu dapat dibaca dari tubuh yang dibawa seseorang ketika dilahirkan.
Indonesia memang tidak lahir dari keseragaman. Ia tumbuh dari manusia dengan asal-usul, agama, bahasa, dan pengalaman sejarah yang berbeda, tetapi perlahan membayangkan sebuah masa depan bersama.
Kata “membayangkan” di sini penting. Benedict Anderson, Indonesianis yang lama menekuni sejarah dan politik negeri ini, menyebut bangsa sebagai imagined political community, komunitas politik yang dibayangkan.
Sebagian besar anggota sebuah bangsa tidak akan pernah saling mengenal, tetapi di dalam pikiran mereka hidup perasaan bahwa mereka merupakan bagian dari sebuah persekutuan yang sama.
Seorang warga Aceh tidak mengenal jutaan orang di Jawa. Orang Makassar tidak mengenal sebagian besar orang Papua. Namun mereka dapat menggunakan sebuah kata yang sama untuk menyebut hubungan di antara mereka: kita.
Barangkali Indonesia memang lebih mudah dipahami melalui kata itu daripada melalui warna kulit. Sebab ketika Indonesia dibatasi pada bentuk mata, warna kulit, atau tempat kelahiran tertentu, kita justru sedang mengecilkan sesuatu yang sejak awal lahir dari keberagaman.
Sepak bola, dengan caranya sendiri, sedang mengganggu ukuran itu.
Timnas hari ini memperlihatkan wajah yang bermacam-macam. Ada yang berkulit putih dan cokelat, berambut lurus, ikal, ataupun keriting. Ada yang fasih berbahasa Indonesia sejak kecil dan ada yang masih mempelajarinya. Tempat kelahiran mereka tersebar di berbagai negeri, tetapi ketika Indonesia Raya dimainkan, mereka berdiri dalam barisan yang sama.
Barangkali bukan Indonesia baru yang sedang lahir. Keragaman semacam itu sesungguhnya sudah lama menjadi bagian dari perjalanan negeri ini. Yang berubah mungkin cara kita memandangnya.
Timnas seperti menghadirkan kembali Indonesia yang selama ini ada, tetapi tidak selalu kita lihat.
Di sanalah Bhinneka Tunggal Ika memperoleh makna yang lebih hidup. Kebinekaan bukan hanya gambar orang-orang dengan pakaian adat berbeda yang berdiri berjajar. Ia juga merupakan sejarah migrasi, perkawinan, perjumpaan, keberangkatan, dan kepulangan.
Ada manusia yang meninggalkan negeri ini, kemudian anak atau cucunya menemukan jalan untuk kembali dengan cara yang tidak pernah dibayangkan leluhurnya.
***
Malam di Gelora Bung Karno itu memperlihatkan semuanya dengan cara yang sederhana. Puluhan ribu manusia memenuhi stadion, sementara jutaan lainnya menonton dari rumah, warung kopi, telepon genggam, dan televisi.
Mereka tidak saling mengenal dan sebagian besar tidak akan pernah bertemu sepanjang hidup. Namun ketika bola masuk ke gawang Thailand, mereka berdiri dan berteriak hampir bersamaan. Untuk beberapa detik, jutaan orang asing itu berubah menjadi sebuah “kita”.
Di tengah kegaduhan itulah Elkan Baggott berlari.
Kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya ketika bola itu masuk. Tidak ada pikiran tentang bangsa, diaspora, Pramoedya, atau teori-teori tentang identitas. Seorang pemain sepak bola baru saja mencetak gol penting dan ia berlari karena bahagia.
Teman-temannya mengejar dan memeluknya. Mereka membawa perjalanan keluarga yang berbeda-beda, tetapi malam itu perbedaan tersebut tidak membutuhkan penjelasan.
Di tribun, puluhan ribu orang yang tidak mengenal Elkan meneriakkan namanya. Jutaan lainnya, dari berbagai penjuru Indonesia, merayakan gol seorang lelaki yang dilahirkan di Bangkok dan dibesarkan di Inggris sebagai gol mereka sendiri.
Tak seorang pun ketika itu bertanya apakah kulit Elkan cukup cokelat untuk disebut Indonesia. Yang mereka lihat hanyalah seorang lelaki dengan Garuda di dada yang baru saja menyelamatkan Indonesia.
Lebih dari satu abad lalu, pemikir Prancis Ernest Renan pernah mengajukan pertanyaan yang sampai hari ini belum kehilangan daya gedornya: apakah yang membuat manusia menjadi sebuah bangsa?
Bagi Renan, bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh ras, bahasa, agama, atau geografi. Ada sesuatu yang tak kalah penting, yakni kehendak untuk terus menjalani kehidupan bersama.
Renan menyebut bangsa sebagai semacam persetujuan yang diperbarui setiap hari. Bangsa, dengan demikian, bukan hanya warisan yang diterima dari masa lalu. Ia juga merupakan pilihan yang terus dibuat oleh manusia yang ingin menjadi bagian di dalamnya.
Pada titik ini, Elkan tak membutuhkan pernyataan lain. Pilihannya sudah terlihat jauh sebelum ia berdiri di hadapan para wartawan. Ia memilih seragam merah-putih.
Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di sanalah persoalan kebangsaan menjadi sangat manusiawi. Kita menerima masa lalu sebagai sesuatu yang diwariskan, tetapi kita masih mempunyai ruang untuk menentukan dengan siapa kita hendak berjalan ke masa depan.
Elkan telah membuat pilihan itu. Ketika Indonesia Raya dimainkan, ia berdiri bersama pemain lain dengan Garuda di dada.
Barangkali Renan benar bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kenangan tentang masa lalu, tetapi juga oleh kehendak untuk terus bersama. Pada Elkan, kehendak itu tidak membutuhkan banyak kata. Malam itu ia menunjukkannya dengan cara yang paling ia kuasai: bermain sepak bola.
Hidup membawanya melintasi beberapa negeri sebelum pada sebuah malam ia kembali ke Jakarta untuk menghadapi negara tempat ia dilahirkan. Setelah malam itu, mungkin pertanyaan tentang dari mana Elkan Baggott berasal menjadi kurang penting.
Sebab kita sudah tahu ke mana ia memilih pulang.
