Seorang Korea Menyusuri Jalan Raya Pos


Beberapa hari lalu, saya membeli dan mulai membaca buku berjudul Jalan Raya Pos: Narasi Kehidupan dan Perjuangan Rakyat Indonesia karya Koh Young Hun, terbitan Gramedia. Ketika melihat judul dan sampulnya, saya menduga ini sebuah buku sejarah.

Bayangan saya segera tertuju pada Herman Willem Daendels, kerja rodi, dan jalan sepanjang sekitar seribu kilometer dari Anyer sampai Panarukan yang kita kenal melalui pelajaran sejarah di sekolah.

Setelah membuka dan membaca bagian-bagiannya, dugaan itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Sejarah memang memenuhi halaman buku ini, tetapi Koh tidak memperlakukan Jalan Raya Pos sekadar sebagai peninggalan kolonial yang harus dijelaskan melalui tahun, nama, dan peristiwa. 

Ia menjadikannya sebuah perjalanan. Kota, sungai, pelabuhan, candi, bangunan tua, serta orang-orang yang ditemuinya menjadi pintu untuk melihat bagaimana masa lalu masih meninggalkan jejak dalam kehidupan hari ini.

Saya merasa sedang membaca sesuatu yang berada di antara sejarah dan catatan perjalanan. Ada pengalaman dan kesaksian seorang akademisi yang bergerak bolak-balik antara masa kini dan masa silam.

Koh melihat Jawa dari jalan yang sedang dilaluinya, tetapi pikirannya terus kembali kepada berbagai peristiwa yang pernah terjadi di tempat yang sama.

Yang membuat perjalanan itu semakin menarik adalah siapa yang melakukannya. Koh berasal dari Korea Selatan, tetapi kehidupan intelektualnya telah lama bersentuhan dengan Indonesia. Ia mempelajari bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan kita. Salah satu pintu terpenting yang membawanya masuk lebih jauh ke negeri ini adalah Pramoedya Ananta Toer.

Di titik ini saya mulai memahami mengapa buku ini terasa berbeda.

Sebelum menyusuri Jalan Raya Pos secara fisik, Koh telah lebih dahulu menyusurinya melalui Pramoedya. Pada akhir 2010, ia melakukan perjalanan selama sekitar seminggu dari Anyer menuju Panarukan dengan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karya Pram sebagai salah satu pijakan. Koh ditemani Andhika, alumnus Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro. Setelah mencapai Panarukan, ia bahkan melanjutkan perjalanan menuju Blora, tanah kelahiran Pramoedya.

Maka saya membayangkan, ketika kendaraan yang membawanya meninggalkan Anyer, Koh sebenarnya tidak pernah benar-benar sendirian. Ada Pramoedya yang ikut dalam perjalanan itu, setidaknya di dalam kepalanya. Namun semakin jauh membaca, saya merasa Koh tidak sedang berusaha menjadi Pram.

Keduanya memang melihat jalan yang sama, tetapi dari posisi yang berbeda. Pramoedya memandang Jalan Raya Pos terutama dari luka yang ditinggalkannya. Dalam pandangannya, jalan yang dibangun pada masa Daendels merupakan cerita tentang kekuasaan kolonial dan manusia yang menjadi korbannya. 

Di balik cerita pembangunan dan modernisasi terdapat kerja paksa, penderitaan, dan kematian yang mudah tersingkir ketika sejarah hanya mengingat nama penguasa.

Koh membawa kesadaran itu, tetapi ia datang dua abad kemudian. Jalan yang dahulu menjadi instrumen kekuasaan kolonial telah berubah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang tinggal di sepanjang jalan, toko dan pasar tumbuh, kendaraan bergerak, kota membesar, sementara pelabuhan dan bangunan lama mengalami nasibnya masing-masing.

Di sinilah saya menemukan bagian yang paling menarik dari cara Koh melihat sejarah. Masa lalu tidak diletakkannya di dalam lemari kaca. Ia mencarinya dalam kehidupan yang masih berlangsung.

Sebuah kota tidak hanya dibaca dari kapan didirikan. Pelabuhan tidak sekadar diceritakan dari kejayaannya pada masa lalu. Sungai, bangunan tua, candi, jalan, dan percakapan dengan orang-orang yang ditemuinya menjadi serpihan yang perlahan-lahan membentuk gambaran mengenai Indonesia. 

Sejarah bergerak dari cerita mengenai kekuasaan kolonial menuju kehidupan masyarakat yang tumbuh di atas warisannya.

Membaca bagian-bagian seperti itu membuat saya beberapa kali berhenti dan membayangkan jalan yang sama hari ini. Jutaan orang melewatinya tanpa memikirkan Daendels. Truk membawa barang, bus mengangkut penumpang, orang pergi bekerja, pedagang membuka toko, anak-anak berangkat sekolah. 

Sebagian jalur yang dahulu dibangun untuk kepentingan pertahanan dan administrasi kolonial kini menjadi bagian dari denyut ekonomi Jawa.

Ada ironi sejarah yang menarik di sana. Sebuah jalan yang dahulu dibutuhkan penguasa kolonial untuk mengendalikan Jawa akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh kehidupan masyarakat yang pernah dikuasainya.

Barangkali di sinilah perbedaan Koh dengan Pramoedya menjadi jelas. Pram seperti menoleh ke belakang dan bertanya siapa yang telah dikorbankan agar jalan itu ada. Koh menerima pertanyaan tersebut, tetapi kemudian berjalan lebih jauh dan melihat apa yang dilakukan manusia sesudahnya terhadap warisan sejarah itu.

Perbedaan tersebut tidak membuat keduanya saling meniadakan. Pram justru seperti memberikan kompas moral kepada Koh. Jika hendak membaca sejarah, carilah manusianya. Koh sendiri melihat humanisme sebagai benang merah penting dalam pemikiran Pramoedya. 

Melalui karya-karya Pram, ia membaca kolonialisme, nasionalisme, kebudayaan Jawa, ketidakadilan, dan manusia Indonesia yang terus berhadapan dengan kekuasaan.

Semakin jauh saya membaca, semakin terasa bahwa perjalanan Anyer-Panarukan merupakan kelanjutan dari perjalanan intelektual Koh yang telah berlangsung puluhan tahun. Indonesia mula-mula ditemuinya melalui bahasa dan buku. Setelah itu ia datang, berjalan, melihat, dan mempertemukan apa yang pernah dibacanya dengan kenyataan di hadapannya.

Posisinya sebagai orang luar justru memberinya jarak yang menarik. Anyer, Cirebon, Semarang, Rembang, Surabaya, atau Panarukan bukan nama-nama yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Hal-hal yang bagi kita mungkin telah menjadi pemandangan biasa dapat membuatnya berhenti, mengamati, lalu bertanya.

Saya jadi teringat betapa sering kita kehilangan rasa ingin tahu terhadap tempat yang terlalu akrab. Kita melewati jalan yang sama berkali-kali sampai akhirnya jalan itu hanya menjadi jalan. Bangunan tua hanya menjadi bangunan tua. Nama sebuah kota tidak lagi memancing pertanyaan tentang apa yang pernah terjadi di sana.

Koh datang dari jauh dan mengingatkan bahwa sebuah jalan ternyata dapat dibaca seperti buku.

Setelah sekitar seminggu perjalanan, ia mencapai Panarukan. Secara geografis, perjalanan Jalan Raya Pos berakhir di sana. Namun Koh tidak langsung pulang. Ia bergerak menuju Blora, tanah kelahiran Pramoedya. 

Fakta kecil ini menarik perhatian saya. Setelah menyusuri jalan yang pernah ditulis Pram, ia seperti merasa perlu mendatangi tempat dari mana suara yang menemaninya sepanjang perjalanan itu berasal.

Hubungan Koh dengan Pramoedya memang tidak hanya berlangsung melalui halaman buku. Keduanya pernah bertemu. Pada Februari 2006, sekitar dua bulan sebelum Pramoedya meninggal, mereka sempat berbincang. 

Kepada Koh, Pram mengatakan bahwa ia telah menulis apa yang ingin ditulis dan telah memiliki apa yang ingin dimiliki. Koh mengenang kalimat sederhana itu sebagai cermin sikap hidup Pramoedya.

Empat tahun setelah percakapan tersebut, Koh berada di jalan yang pernah dituliskan Pram. Namun setelah melihat sendiri kota, bangunan, pelabuhan, sungai, dan masyarakat di sepanjang jalur itu, ia harus meninggalkan Pram dan membaca Indonesia dengan matanya sendiri.

Di sinilah buku ini membawa saya kepada pertanyaan yang lebih dekat dengan hari ini. Setelah dua abad, apakah yang sebenarnya berubah dari negeri yang dilalui Jalan Raya Pos?

Indonesia tentu sudah sangat berbeda. Kolonialisme telah berakhir, kota-kota berkembang, jalan diperlebar, kawasan industri tumbuh, dan mobilitas manusia menjadi berkali-kali lebih cepat. 

Tetapi pembangunan masih menghadirkan pertanyaan lama dalam bentuk baru: siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang harus membayar ongkosnya, dan apakah manusia tetap ditempatkan sebagai tujuan pembangunan atau sekadar angka di belakangnya.

Saya tidak menemukan Koh menjawab semua pertanyaan itu secara langsung dalam perjalanan Jalan Raya Pos. Namun ketika berbicara tentang Indonesia dalam kesempatan lain, ia memperlihatkan optimisme yang cukup besar.

Ketika ditanya tentang berbagai persoalan Indonesia, mulai dari korupsi, politik hingga ekonomi, Koh membawa pengalaman negerinya sendiri. “Korea dulu juga begitu dan buktinya Korea bisa menyelesaikan masalah itu.”

Saya berhenti agak lama pada kalimat itu.

Koh berasal dari negeri yang pernah mengalami kolonialisme, perang, kemiskinan, pemerintahan otoriter, dan perubahan sosial yang keras sebelum mengalami transformasi ekonomi yang sangat cepat. Ia tentu tidak sedang mengatakan Indonesia harus menjadi Korea. 

Sejarah kedua negara berbeda dan jalan yang ditempuh keduanya tidak mungkin sama. Namun pengalaman Korea memberinya perspektif penting: keadaan sebuah bangsa hari ini tidak selalu menentukan seperti apa bangsa itu kelak.

Optimismenya terdengar lebih pragmatis ketika berbicara mengenai masa depan Indonesia. “Kalau Indonesia tidak punya harapan, untuk apa orang Korea menanamkan modalnya di sana?” katanya.

Kalimat itu membuat saya membaca kembali perjalanan Anyer-Panarukan dengan perasaan berbeda. Tadinya saya mengira sedang membaca sebuah buku mengenai masa lalu. Perlahan saya menyadari bahwa Koh sebenarnya membuat saya memikirkan masa depan.

Jalan Raya Pos menjadi semacam garis panjang yang mempertemukan keduanya. Di satu sisi ada Daendels, kolonialisme, kerja paksa, penderitaan, dan kekuasaan. Di sisi lain ada kota-kota yang terus tumbuh, perdagangan, kendaraan, industri, dan jutaan manusia yang hari ini menggunakan jalan tersebut untuk kehidupan mereka sendiri.

Saya membeli buku ini hari ini karena mengira akan membaca sejarah sebuah jalan. Yang saya temukan ternyata perjalanan seorang manusia membaca manusia lain, lalu menggunakan bacaan itu untuk memahami sebuah negeri yang bukan tanah kelahirannya.

Justru karena datang dari jauh, Koh dapat melihat sesuatu yang kadang-kadang tidak lagi kita lihat. Kita terlalu sering melewati jalan sambil memikirkan tujuan, sampai lupa bertanya cerita apa yang tersimpan di bawahnya.

Dua abad lalu, Jalan Raya Pos dibangun agar sebuah kekuasaan kolonial dapat bergerak lebih cepat menguasai Jawa. Kekuasaan itu telah lama hilang, tetapi jalannya masih ada. Kini orang Indonesia melintasinya untuk bekerja, berdagang, belajar, pulang ke rumah, dan mengejar kehidupan mereka sendiri.

Saya menutup buku ini dengan pikiran yang berbeda. Pada awalnya saya melihat sebuah jalan yang dibangun Daendels. Setelah mengikuti Koh, saya melihat sesuatu yang lain. Saya melihat jalan yang telah direbut kembali oleh kehidupan.

Pramoedya mengingatkan kita tentang siapa yang membayarnya dengan penderitaan. Koh mengajak kita melihat apa yang dilakukan manusia setelah melewati penderitaan itu.

Orang-orang Indonesia kini menentukan sendiri ke mana mereka hendak pergi.