Timor Leste yang Membeku dalam Waktu


Matahari Dili sore itu jatuh perlahan ke Laut Timor. Jalanan relatif lengang. Kendaraan berlalu tanpa tergesa. Tidak ada kemacetan. Tidak ada hiruk-pikuk kota yang sedang berlari mengejar masa depan. Saya berjalan di antara gedung-gedung yang terasa akrab. Terlalu akrab. 

Perasaan itu datang tiba-tiba. Seolah saya pernah berada di sini. Bukan karena pernah tinggal di Dili. Bukan pula karena pernah sering berkunjung. Melainkan karena kota ini menghadirkan kenangan yang telah lama terkubur. Saya seperti sedang berjalan di Indonesia tahun 1980-an atau awal 1990-an.

Gedung-gedung pemerintah yang tampak sederhana. Jalan-jalan yang lebar tetapi tidak terlalu ramai. Pertokoan yang bergerak lambat. Pelabuhan yang tenang. Banyak bangunan yang masih menyimpan jejak masa ketika wilayah ini bernama Timor Timur.

Saya mengalami semacam déjà vu. Dili terasa seperti sebuah kota yang membeku dalam waktu.

Kemerdekaan telah berlangsung lebih dari dua dekade. Bendera telah berganti. Negara baru telah lahir. Namun lanskap kotanya seolah masih menyimpan fragmen masa lalu yang belum benar-benar pergi.

Yang mengejutkan, kesan itu semakin kuat ketika saya berbincang dengan warga.


Seorang bapak tua yang saya temui tidak berbicara tentang investasi asing, ASEAN, atau proyek Greater Sunrise yang sering memenuhi laporan-laporan ekonomi. Ia justru mengenang masa ketika kapal Pelni rutin datang ke Dili. "Dulu kalau kapal datang, pelabuhan penuh manusia," katanya.

Pedagang berdatangan. Jalan-jalan di sekitar pelabuhan ramai. Orang menjual makanan, pakaian, dan berbagai kebutuhan. Ada aktivitas ekonomi yang menghidupkan kota.

Ia tidak sedang bernostalgia tentang Indonesia sebagai proyek politik. Ia sedang mengenang keramaian ekonomi yang pernah ia rasakan.

Di sisi lain, anak-anak muda yang saya temui justru berbicara tentang Australia. Mereka ingin pergi. Mereka ingin bekerja di Melbourne, Sydney, Brisbane, atau bahkan Eropa. Hampir tidak ada yang berbicara tentang membangun perusahaan di Dili atau merintis usaha besar di Timor-Leste.

Ketika saya bertanya mengapa, jawabannya sederhana: karena di sana ada pekerjaan dan masa depan.

Percakapan-percakapan itu membuat saya teringat pada sebuah laporan berjudul Timor-Leste's Last Drop of Oil. Laporan itu menjelaskan dengan gamblang mengapa optimisme kemerdekaan yang dahulu begitu besar kini bertemu dengan kenyataan yang jauh lebih rumit.

***

Pada 4 Juni 2025, Bayu-Undan, ladang minyak dan gas yang selama dua dekade menjadi tulang punggung ekonomi Timor-Leste, resmi berhenti berproduksi. Selama 21 tahun, ladang ini menghasilkan lebih dari US$23 miliar bagi negara yang baru merdeka tersebut. Ia adalah sumber kehidupan yang membiayai birokrasi, pembangunan, dan berbagai program negara. Namun kini sumber itu telah habis.

Yang tersisa adalah Petroleum Fund, dana abadi yang nilainya mencapai sekitar US$18,6 miliar. Masalahnya, dana itu terus ditarik untuk membiayai anggaran negara, sementara pemasukan baru praktis berhenti. IMF memperkirakan bahwa jika pola pengeluaran sekarang berlanjut, dana tersebut dapat habis sekitar tahun 2038.

Angka itu mungkin terdengar besar. Namun yang menarik bukanlah besarnya dana tersebut. Yang menarik adalah ke mana uang itu pergi.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa sekitar 73 persen anggaran negara masih bergantung pada Petroleum Fund. Artinya, negara hidup dari tabungan minyak yang dikumpulkan selama dua dekade terakhir.

Saya tidak bisa menghilangkan kesan bahwa sebagian besar kekayaan minyak itu lebih banyak dipakai untuk mempertahankan negara daripada membangun ekonomi yang mandiri.

Timor-Leste berhasil membangun birokrasi, membayar pegawai negeri, dan menjalankan pemerintahan. Namun ia belum berhasil menciptakan mesin ekonomi yang mampu bergerak tanpa bantuan minyak.

Data dalam laporan tersebut menunjukkan paradoks yang mencolok. Selama satu dekade terakhir, belanja publik rata-rata mencapai lebih dari 85 persen PDB. Angka yang luar biasa besar. Namun pertumbuhan pendapatan per kapita hanya sekitar 1,9 persen per tahun.

Dengan kata lain, negara mengeluarkan banyak uang, tetapi hasil transformasi ekonominya relatif terbatas.

***

Padahal dahulu para pemimpin Timor-Leste memiliki mimpi yang sangat besar.

Setelah referendum 1999 dan kemerdekaan pada 2002, banyak tokoh nasional berbicara tentang peluang menjadikan Timor-Leste sebagai "Singapura baru" di Asia Tenggara. Negara kecil yang kaya energi, memiliki posisi strategis di jalur perdagangan internasional, dan mampu memanfaatkan sumber daya alam untuk membangun masa depan yang makmur.


Bersama anak muda Timor Leste

Mimpi itu tidak sepenuhnya mustahil. Timor-Leste memang memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara baru: minyak dan gas. Namun sejarah menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menghasilkan kemakmuran.

Yang menentukan bukanlah jumlah minyak di bawah tanah, melainkan kemampuan mengubah kekayaan alam menjadi produktivitas manusia.

Di sinilah persoalan besar Timor-Leste muncul.

Sampai hari ini, sektor pertanian masih menyerap sekitar separuh tenaga kerja, tetapi hanya menyumbang sekitar 15 persen PDB. Pariwisata berkembang, tetapi masih berskala kecil. Industri manufaktur nyaris belum terbentuk. Negara tetap menjadi pemain ekonomi terbesar.

Bahkan indikator sosial masih mengkhawatirkan. Tingkat kemiskinan mencapai sekitar 42 persen. Hampir separuh anak mengalami stunting. Sekitar 30 persen pemuda tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.

Yang paling menyedihkan adalah data tentang generasi muda. Sekitar separuh anak muda Timor-Leste berencana bekerja ke luar negeri. Sebanyak 30 persen mengincar Australia dan Selandia Baru, sementara 20 persen lainnya ingin pergi ke negara lain. Hanya setengah yang berencana tetap tinggal di tanah kelahirannya.

Bagi saya, inilah statistik yang paling menyentuh. Karena negara pada akhirnya bukanlah soal gedung, jalan, atau angka investasi. Negara adalah soal apakah anak-anak mudanya percaya bahwa masa depan mereka ada di sana.

***

Maka ketika berjalan di Dili, saya merasa sedang melihat sebuah ironi sejarah.

Dulu rakyat Timor-Leste berjuang dengan penuh keberanian untuk meraih kemerdekaan. Mereka menghadapi konflik, kekerasan, dan pengorbanan yang panjang demi memperoleh hak menentukan nasib sendiri.

Perjuangan itu berhasil. Mereka memperoleh kemerdekaan politik. Tetapi kemerdekaan ekonomi ternyata jauh lebih sulit dicapai.

Hari ini, tantangan terbesar Timor-Leste bukan lagi bagaimana melepaskan diri dari negara lain. Tantangannya adalah bagaimana melepaskan diri dari ketergantungan pada minyak.

Bayu-Undan telah habis.

Harapan kini bertumpu pada Greater Sunrise, ladang gas raksasa yang diperkirakan bernilai antara US$40 miliar hingga US$75 miliar. Namun proyek ini telah tertunda lebih dari lima puluh tahun dan masih menunggu keputusan investasi final.

Pertanyaannya sederhana: apakah Timor-Leste akan kembali menemukan penyelamat dalam bentuk ladang gas baru, ataukah ia akhirnya dipaksa membangun ekonomi yang tidak lagi bergantung pada minyak?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan wajah Dili dua puluh tahun mendatang. Apakah kota itu akan berubah menjadi pusat pertumbuhan baru di Asia Tenggara? Ataukah tetap menjadi kota yang membuat pengunjung Indonesia merasa sedang berjalan di masa lalu?

Saat pesawat meninggalkan Bandara Presidente Nicolau Lobato, saya masih teringat ucapan bapak tua di pelabuhan tentang kapal Pelni yang dahulu membawa keramaian.

Di bawah sana, Dili tampak tenang menghadap laut. Terlalu tenang. Seolah kota itu masih menunggu sesuatu. Menunggu datangnya kapal berikutnya. Menunggu ladang gas berikutnya. 

Atau mungkin menunggu mimpi kemerdekaan yang dulu begitu besar akhirnya menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari rakyatnya.