SURAT TERBUKA UNTUK MANAJER RAIM LAODE
Ini Cuma Dunia, Bung!
Kepada Saudara R, Manajer Raim Laode.
Saya menulis surat ini setelah menunggu hampir tiga minggu. Bukan menunggu sesuatu yang luar biasa. Bukan pula meminta kemurahan hati. Saya hanya ingin mengundang Raim Laode untuk tampil dalam acara KPID Awards dan Konser Musik di Makassar.
Mulanya, saya minta kawan untuk menghubungi Raim. Dia kemudian menyarankan agar saya berkomunikasi dengan manajernya, Saudara R. Saya mengikuti arahan itu.
Saya pikir, begitulah prosedur profesional dalam dunia hiburan. Seorang artis memiliki manajer yang mengatur jadwal, komunikasi, dan berbagai urusan pekerjaan.
Ternyata, urusan sederhana ini menjadi pengalaman yang melelahkan.
Pesan saya lambat direspons. Kemudian tidak lagi mendapat jawaban. Saya menunggu sehari, beberapa hari, hingga hampir tiga minggu. Tidak ada kepastian. Tidak ada penjelasan apakah Raim bersedia tampil atau tidak.
Padahal, jawaban yang saya butuhkan sangat sederhana: bisa atau tidak?
Kalau jadwalnya penuh, katakan saja. Kalau honornya tidak sesuai, silakan sampaikan. Kalau memang tidak tertarik dengan acara kami, tidak masalah. Kami akan menghormati keputusan itu.
Yang sulit saya pahami adalah mengapa orang harus dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
Saudara R,
Dalam dunia profesional, waktu adalah sesuatu yang berharga. Kami juga bekerja dengan jadwal, perencanaan, dan tanggung jawab. Kami bukan sekadar orang yang ingin berfoto bersama artis. Kami datang membawa undangan kerja sama yang tentu saja akan dibicarakan secara profesional.
Saya kemudian memutuskan berhenti menghubungi Anda.
Terus terang, pengalaman ini sempat membuat saya berpikir bahwa Raim Laode mungkin sudah terlalu tinggi dan terlalu angkuh untuk dijangkau. Tetapi saya sadar, kesan itu bisa saja keliru. Sebab yang saya hadapi bukan Raim secara langsung, melainkan orang yang dipercaya menjadi pintu masuk menuju dirinya.
Di sinilah persoalannya.
Seorang manajer bukan sekadar pengatur jadwal dan negosiator honor. Dia juga wajah pertama yang ditemui orang ketika ingin bekerja sama dengan seorang seniman. Cara seorang manajer memperlakukan orang lain sedikit banyak akan membentuk kesan terhadap artis yang diwakilinya.
Saya menyukai karya Raim. Saya menghargai perjalanan kreatifnya. Justru karena itulah saya ingin mengundangnya.
Namun, kekaguman terhadap karya tidak berarti kita harus menerima komunikasi yang menggantung tanpa ujung.
Saudara R,
Ini cuma dunia, Bung.
Hari ini seseorang mungkin berada di panggung besar, disambut ribuan penonton, dipuja karena lagu-lagunya. Tetapi panggung tidak selamanya terang. Tepuk tangan pun suatu hari akan berhenti.
Yang tinggal adalah bagaimana kita memperlakukan manusia lain.
Saya tidak meminta perlakuan istimewa. Saya hanya berharap ada sedikit penghargaan terhadap orang yang datang dengan niat baik.
Sebab profesionalisme bukan hanya soal besarnya honor, megahnya panggung, atau banyaknya penggemar. Profesionalisme juga terlihat dari kesediaan menjawab pesan, termasuk ketika jawabannya adalah penolakan.
Akhirnya, saya memilih mencari penyanyi lain. Bukan karena kami tidak mampu menunggu, melainkan karena kami juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan.
Saya tetap berharap Raim terus berkarya dan lagu-lagunya semakin dicintai.
Untuk Saudara R, ada satu pesan sederhana: jangan membuat orang merasa kecil hanya karena mereka sedang mengetuk pintu yang Anda jaga.
Bukalah pintu itu, atau katakan dengan baik bahwa pintunya sedang tertutup.
Jangan biarkan orang berdiri terlalu lama di depan pintu, menunggu jawaban yang tak pernah datang.
Sebab setiap orang punya waktu, punya harga diri, dan punya kehidupan yang sama berharganya.
Dan sekali lagi, Bung, ini cuma dunia.