Membaca Kisah dari Kebun Terakhir


Saya selalu terkesima jika membaca kerja-kerja intelektual Tania Murray Li. Profesor antropologi asal Kanada ini selalu produktif melahirkan riset etnografis dan pengamatan mendalam dalam setiap karya-karyanya. 

Beberapa waktu lalu, saya membaca bukunya berjudul The Will to Improve yang lalu menjadi satu lensa ketika melihat desa. Ketika saya berkunjung ke desa, beberapa teori dan argumentasi Tania Li terus hadir dalam benak.  

Istilah yang sering saya kutip adalah “teknikalisasi permasalahan” yakni cara orang kota menjinakkan orang desa melalui aturan, pengetahuan, dan berbagai hal teknis. Seakan-akan orang kota lebih tahu dan lebih berhak bicara tentang desa.

Kini, saya memegang buku terbarunya yang sudah diterjemahkan yakni Kisah dari Kebun Terakhir, terjemahan dari Land's End. Isinya adalah riset etnografis di Sulawesi yang membahas bagaimana kemunculan kapitalis di antara penduduk adat di perbukitan yang memprivatisasi lahan demi menanam kakao.

Beberapa hari lalu, saya melihat ada diskusi yang membahas karya Tania Li. Saya setuju dengan amatan seorang akademisi tanah air. Tania Li berbicara kepada tiga audiens, yakni para akademisi, pengambil kebijakan, dan aktivis gerakan sosial. 

Tapi di acara diskusi itu, saya gelisah oleh satu hal. Mengapa ilmuwan kita hanya sampai pada taraf membahas karya orang lain seperti Tania Li, dan tidak menyerap sisi produktivitas Tania Li dalam melahirkan banyak karya hebat? Mengapa kita harus menanti akademisi dan peneliti asing seperti Tania Li untuk membahas berbagai fenomena di kampung halaman kita dan bukan kita sendiri yang melahirkan publikasi2 sebagus itu?

Saya ingat percakapan dengan seorang akademisi di satu kampus di Bogor. Katanya, insan akademis kita serupa pohon pisang. Sekali berbuah, setelah itu mati. Para intelektual kita hanya sekali menulis buku berupa olahan dari disertasi, setelah itu merasa puas dengan hanya melahirkan tulisan pendek untuk koran. Mereka lebih tertarik ikut pilkada, seleksi pejabat di kementerian, jadi komisaris BUMN, atau staf khusus menteri.

Katanya lagi, ilmuwan asing beda dengan ilmuwan kita. Setelah riset dan kontemplasi, ilmuwan asing akan melahirkan DALIL, sementara ilmuwan kita akan melahirkan DALIH.

Saya yakin dia sedang bercanda. Saya tidak merasa tersindir. Saya bukan akademisi. Saya hanyalah seorang pelatih kucing.


1 komentar:

Anonymous said...

Haha, keren...

Post a Comment