Perang ROBOT di Pilpres 2019




DI banding pilpres lain, pilpres tahun 2019 ini adalah yang paling seru. Tidak hanya melibatkan para politisi dan kandidat presiden, tapi juga melibatkan banyak mesin, algoritma, kecerdasan buatan, hingga para robot.

*** 

ANAK muda berambut pirang itu duduk sendirian di satu kafe dekat Sarinah. Seorang sahabat mengajak saya untuk bertemu dan berbincang dengannya. Anak muda adalah seorang data scientist yang meraih gelar PhD untuk bidang teknologi informasi di satu kampus di Eropa.

Biarpun kami hanya berbincang sesaat, dia menjelaskan keterlibatannya pada pemilihan presiden di banyak negara. Dia bercerita bagaimana para insinyur dari Rusia bisa membongkar email yang digunakan Hillary Clinton, kemudian membuka banyak fakta yang kemudian dengan cepat “digoreng” oleh tim Donald Trump.

Bagian yang membuat saya tertarik saat dirinya membahas betapa tidak amannya semua perangkat komunikasi yang saya gunakan. Menurutnya, semua komunikasi melalui internet, baik itu WhatsApp, Facebook, hingga Line bisa dengan mudah diretas. 

“Bahkan telepon seluler yang kamu gunakan juga mudah untuk diretas. Semua pembicaraan akan direkam dalam satu server, yang kemudian dengan mudah ditembus dan dibuka apa saja yang dibahas,” katanya.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Dalam konteks pilpres, pihak insinyur data dengan mudahnya bisa memantau semua yang dilakukan oleh satu kandidat, bisa mendapatkan bocoran apa saja strategi lawan, kemudian merancang counter strategi yang efektif.

Saya menikmati perbincangan dengannya. Dia bercerita bahwa para petarung pilpres 2019 ini bukan hanya kandidat presiden, bukan hanya tim sukses, tetapi juga adu strategi dalam memaksimalkan perangkat teknologi. 

Pengendali strategi malah berada di balik layar. Mereka tidak selalu manusia yang sibuk memetakan data dan informasi. Perhelatan ini juga melibatkan mesin-mesin cerdas yang memproses semua informasi, memahami algoritma percakapan di media sosial, kemudian memberikan beberapa rekomendasi-rekomendasi.

Pilpres tahun 2019 jauh berbeda dengan pilpres sebelumnya. Dulu, sorak-sorai dan ramai-ramai mudah terpantau di jalan-jalan melalui ribuan baliho yang mengotori ruang publik kita. Tahun ini, sorak-sorai itu ada di media sosial. Semua kubu berdebat, saling serang, bahkan saling ancam di media sosial.

Saya mengamati bagaimana Facebook dan Twitter yang tadinya tenang, kini menjadi arena tempur yang tak henti. Ada banyak orang yang memasuki media sosial dengan membawa misi untuk membela politisi yang diidolakannya. Mereka meramaikan media sosial, mengolah beragam isu, kemudian saling tempur di situ.

*** 

BEBERAPA waktu lalu, seorang sahabat mengajak saya untuk melihat aktivitas Command Center di satu lembaga yang kerap melakukan riset untuk pemasaran digital. Beberapa klien lembaga ini adalah partai politik. Mereka memasok informasi terkait satu brand, bisa berupa produk, bisa juga politisi dan partai politik.

Ruangan utama lembaga itu mengingatkan saya pada ruang utama kantor media online. Di situ, saya melihat layar-layar besar, yang tertera angka-angka dan grafik-grafik pembicaraan publik.

BACA: Kiat Membangun Laskar Media Sosial di Era 4.0

Di beberapa kantor media online, layar-layar menampilkan Google Trend, yang menganalisis semua pencarian di media sosial. Di situ juga terdapat grafik-grafik yang isinya percakapan di media sosial. Para jurnalis media online biasanya memetakan isu dan bahan liputan berdasarkan topik yang paling banyak dibicarakan.

Ruang yang saya saksikan ini adalah ruang kontrol utama untuk memberikan instruksi dan arahan secara terpusat. Ruang itu menjadi pengendali informasi, yang memetakan semua percakapan dan sentimen publik, setelah itu merancang strategi yang kemudian menjadi amunisi untuk menyerbu media sosial.

Semua konten dan strategi dirancang di ruangan itu. Semua layar menampilkan hasil kerja mesin dan algoritma yang memantau semua media sosial. Apa pun yang dibahas publik akan mudah terpantau di situ. Bahkan layar juga menampilkan seberapa efektif informasi yang disebar ke para netizen.

Secara umum, saya melihat ada tiga unsur utama di setiap pusat komando informasi. Pertama, digital listening tool, yang berisikan perangkat untuk memetakan semua percakapan di media sosial. Kedua, digital media platform, yang isinya berbagai platform media sosial, juga media mainstream. Ketiga, mobile apps, yang digunakan relawan secara mobile di berbagai lokasi.

Ketiga perangkat ini digunakan untuk mengontrol semua aliran informasi. Teknisnya, tim kreator konten akan memetakan konten yang sedang trending, kemudian merancang konten yang bisa viral, meneruskannya kepada para influencer dan laskar media sosial yang akan meneruskannya di lapangan. 



Nah, para laskar media sosial ini tidak selalu seseorang yang rajin memosting sesuatu. Bisa jadi, itu adalah akun-akun robot yang punya kemampuan untuk mendiseminasi informasi lebih cepat. Akun-akun ini bisa menembus berbagai grup-grup di Facebook, juga meramaikan semua grup di Whastapp. 
Bagaimana dengan penyebaran hoaks? Apakah juga disebarkan dengan cara yang sama? Seorang teman di situ mengiyakannya. Menurutnya, mesin yang mereka miliki bisa menyebarkan hoaks dengan sangat cepat. Namun, mereka memilih tidak melakukannya. Mereka hanya memantau hoaks demi hoaks, kemudian merancang strategi untuk menjawabnya.

Ini pula yang membuat hoaks sulit dihentikan. Ketika satu orang menyebar berita hoaks, algoritma media sosial bisa mendeteksi postingan viral itu, kemudian memantulkannya ke mana-mana sehingga asal-usul hoaks itu jadi tidak penting. Hingga akhirnya, penegak hukum bisa merunut ulang lalu menemukan sumber informasi bohong itu. 

Pada titik ini, saya teringat ucapan seseorang: hoaks diciptakan oleh orang bodoh, disebar oleh orang bodoh, dan diterima kebenarannya oleh orang idiot.

*** 

DI ruang kontrol informasi itu, saya terus memikirkan kalimat sahabat itu. Saya teringat sosiolog Manuel Castells yang membahas peran para planner atau perencana yang memiliki akses pada jejaring informasi dan menentukan apa yang dipikirkan publik.

Orang-orang yang setiap hari wara-wiri di media sosial itu tidak menyadari bahwa semua percakapan yang mereka lakukan akan menjadi big data yang lalu dianalisis oleh mesin algoritma cerdas, yang kemudian meneruskannya ke mana-mana hingga terjadi debat publik. 

Ini pula yang menjelaskan mengapa diskusi publik tak pernah menyentuh langit substansi, sebab yang dibahas adalah hal receh remeh yang tak ada kaitannya dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita.

Bisa jadi, ini dipengaruhi oleh naluri kita sebagai manusia adalah selalu ingin terlibat dalam satu tema yang dipercakapkan banyak orang. Kita tak menyadari bahwa sering kali tema dan topik yang setiap hari kita perdebatkan dan pertengkarkan adalah sesuatu yang sengaja dibuat oleh mesin algoritma.
Tidak mengejutkan jika ada banyak orang di sekitar kita yang membayangkan dirinya serupa Don Quixote, tokoh dalam novel yang ditulis Miguel de Cervantes, yang selalu ingin berkelana untuk membunuh naga. Padahal, naga adalah hewan yang hanya ada dalam imajinasi.

Dalam konteks media sosial, kita tak sadar kalau telah meyakini sesuatu, yang belum tentu punya penalaran yang benar. Kita hanya meyakini satu kenyataan sebab setiap hari kita disodorkan kenyataan itu, yang ternyata adalah hasil kreasi dari banyak mesin cerdas demi mengarahkan pilihan kita pada satu titik.

Dalam banyak sisi, para netizen yang setiap hari berdebat itu tidak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka disuapi informasi sepihak, dipanas-panasi setiap saat oleh akun robot, dan terakhir menjadi karakter yang sukses dibentuk oleh satu kelompok.

Dalam film The Incredible 2, ada sosok Screenslaver yang melakukan kejahatan tanpa disadarinya. Dia terpengaruh oleh apa yang disaksikannya. Dia tidak tahu kalau kesadarannya telah dikendalikan oleh seseorang.

Tanpa sadar kita menjadi screenslaver, yakni budak (slave) yang dikendalikan oleh layar (screen).


0 komentar:

Post a Comment