Jusuf Kalla yang Mendayung di Antara Dua Presiden




Di tengah sorak-sorai dan gegap-gempita di acara pelantikan, saya terkenang Jusuf Kalla. Ada semacam rongga yang kosong dalam diri saat mengenang sosok hebat ini. Sebagai wakil presiden, dia lebih banyak diam. Tapi mereka yang berada di lingkaran istana paham bahwa dia sosok yang sedang menjaga keseimbangan.

Pada Jusuf Kalla, kita melihat bagaimana gagasan-gagasan bisa dibumikan. Dia melengkapi sisi lain Jokowi yang selalu ingin cepat, tanpa memahami bagaimana birokrasi bekerja, serta berbagai aturan harus dibenahi.

Pada Jusuf Kalla, kita melihat sosok yang kenyang makan asam garam pemerintahan. Dia pun sering di-bully dan dicaci, khususnya televisi berwarna merah yang menjadikan ucapannya tentang Jokowi sebagai bulan-bulanan. Namun dia tetap memancarkan senyum di balik kumis tipis serta logat Bugisnya yang masih kental.

Saya melihat sosoknya bukan semata sebagai wakil presiden. Dia adalah representasi kawasan timur Indonesia, kawasan yang warganya tak lagi bermimpi jadi presiden selagi pemilihan masih mengandalkan popularitas, geopolitik, dan isu-isu kesukuan. Jusuf Kalla menerabas semua arus saat tampil sebagai tokoh penting republik ini.

Saya mengenal banyak orang di lingkarannya. Beberapa kali pun, saya menyempatkan waktu untuk bertandang ke Istana Wapres. Tak terhitung beberapa kali saya ditraktir sama orang dekat beliau, mulai dari jubir, hingga staf humas. Di Istana Wapres, saya menemukan suasana egaliter dalam canda dan tawa penuh persaudaraan.

BACA: Saat Jusuf Kalla Gertak Laskar Jihad

Sosok Jusuf Kalla meningatkan saya pada Hatta yang selalu ingin mencari rekonsiliasi. Hatta pernah menulis buku yang sangat menggetarkan yakni Mendayung di Antara Dua Karang demi menentukan pijakan ekonomi politik Indonesia di tengah percaturan global.

Kata Hatta, Indonesia tidak berpijak pada blok politik mana pun. Indonesia bebas dan aktif dalam perdamaian dunia. Dalam dunia ekonomi, orang-orang melihat posisi Hatta yang hendak keluar dari berbagai ideologi besar.

Pulihan tahun setelah Hatta menulis, Jusuf Kalla pun memilih posisi itu. Dia selalu memilih berada di tengah dari perseteruan anak bangsa yang suka mengotak-ngotakkan diri. Saat pemerintahan Jokowi cenderung ke satu kubu, Jusuf Kalla menjadi temali yang merekat banyak kubu.

Risikonya, dia sering dianggap berposisi di seberang kapal yang dikemudikan presiden. Dia akan dicaci dan dihina oleh mereka yang menjadi garis keras pemerintah. Dia pun akan sering diabaikan dalam urusan politik dan pemerintahan.

Tapi semua tahu, bahwa dalam sikap yang terkesan mendua itu, dia sedang menjaga rumah kebangsaan menjadi milik semua kalangan. Dia ingin mempertegas bahwa republik ini bukan milik satu kalangan. Semua kalangan punya saham terhadap republik ini, terlepas dari begitu banyaknya ketidaksepakatan kita dengannya.

Dia merangkul semua pihak, termasuk pihak yang sering dianggap “musuh” banyak kalangan. Dengan cara itu, dia bisa diterima semua kalangan. Bukan berarti dia selalu mendua, namun dia ingin menyatakan bahwa perbedaan pandangan politik tidak harus membuat kita saling benci dan menyingkirkan yang lain.

BACA: Jusuf Kalla, Quraish Shihab dan Kisah-Kisah Keluarga

Dalam dua kali menjabat sebagai wapres dari dua periode berbeda, tentunya Jusuf Kalla punya banyak cerita.

Di masa SBY, dia sering jadi tameng saat pemerintah hendak mengeluarkan kebijakan yang tidak populer. Dia yang mengumumkan kenaikan BBM, sehingga dicaci publik. Saat BBM diturunkan, Presiden SBY yang gantian mengumumkan. Jusuf Kalla tetap menjalankan tugasnya, meskipun sering menempatkan dirinya dalam posisi tidak menyenangkan.

Di era Jokowi, Istana Wapres selalu terbuka pada kelompok yang mengatasnamakan agama. Dia menerima semua kalangan lalu mengajaknya berdialog. Dia tahu bahwa mereka yang datang dengan api amarah pasti akan mendingin saat dihadapi dengan senyum dan diberi tetes kalimat lembut.

Jusuf Kalla menyimpan banyak hal, cerita, dan dinamika politik di antara dua presiden. Kita tak pernah mendengar kalimatnya yang merendahkan dua sosok yang pernah didampinginya. Di titik ini, dia seteguh Jenderal M Jusuf, sosok yang dikaguminya dan memberinya perintah untuk menyelesaikan Al Markaz Al Islami di Makassar.

BACA: Pesan Tersembunyi dalam Puisi Jusuf Kalla

Saya membayangkan hari-hari yang tak pasti dengan pergantian Jusuf Kalla. Kita semua akan kehilangan satu sosok di pemerintahan yang menjadi perekat semua kalangan dan kelompok. Kita bakal rindu dengan negosiator ulung, yang paham dinamika manusia, sehingga semua pihak merasa ditinggikan dalam konteks bernegara.

Pada diri Jusuf Kalla, kita melihat banyak sisi baik. Dia bukan saja pebisnis handal, ekonom hebat, pekerja keras, penanam kata damai, tapi dia juga sosok yang mempertemukan semua pihak. Dia berdiri di tengah anak bangsa yang merukunkan dan mendamaikan, sembari memberi terang ke mana bangsa ini bergerak.

Saya berharap, semangat perdamaian serta posisi politik yang memihak bangsa harus tetap dirawat dan ditumbuhkan. Semangat Jusuf Kalla harus dilestarikan dan diabadikan dalam gerak laju kebangsaan kita.

Jika Habibie membentuk Habibie Center, satu wadah yang menyebarkan inspirasi dan pemikiran Habibie, saya berharap ada semacam Jusuf Kalla Center yang bisa merawat perdamaian dan kerja keras di antara sesama anak bangsa.

Inspirasi dan teladan Jusuf Kalla ibarat benih yang harus disemai dan disebar ke mana-mana. Di masa depan, kita akan melihat ada banyak pohon perdamaian dan pohon kerja keras yang tumbuh kuat, dengan akar kebangsaan yang kokoh, lalu ranting dan daun-daun menjangkau mega-mega harapan. Kelak, pohon itu akan mengeluarkan buah manis untuk semua anak bangsa.

Terimakasih Daeng Ucu.

BACA: Husain Abdullah: Dari Jurnalis, Jubir Wapres Hingga Calon Walikota





1 comment:

  1. Bukannya ada Anis Matta asal Bone yang masih bercita-cita jadi RI 1 ?

    ReplyDelete