Kisah Bersama Sales Multi-Level



SEBAGAI orang yang awam dalam hal bisnis, saya selalu berhati-hati jika diajak bergabung ke bisnis multi-level marketing (MLM). Terkadang, saya tak bisa menolak ketika ‘dijebak’ seorang sahabat yang lalu mem-prospek saya agar bergabung sebagai sales multi-level. Belakangan, saya malah suka di-prospek. You know why?

***

DENGAN langkah tergesa-gesa, saya menuju Plaza Senayan, Jakarta. Perjalanan cukup jauh. Saya menumpang kereta dari Bogor ke Stasiun Gondangdia, selanjutnya, menumpang kendaraan umum menuju Plaza Senayan. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Saya butuh empat jam. Tapi saya menjalaninya sebab tergoda oleh janji untuk diskusi mengenai masa depan.

Saya membayangkan barangkali ada pembicaraan tentang bagaimana iklim dan peluang usaha. Saya memang bukan pebisnis. Tapi saya suka diskusi dengan para sahabat pengusaha. Bersama mereka, saya menemukan spirit baru untuk mengatasi segala tantangan di masa depan. Para pebisnis adalah mereka yang melihat masa depan dnegan penuh optimisme. Mereka punya cara pandang yang selalu melihat sisi positif. Bahkan gagal pun tetap dilihat sebagai peluang untuk melesat maju.

Sungguh dengan beda dengan para ilmuwan sosial yang tema diskusinya agak monoton.

Seorang sahabat di Twitter selalu mengajak untuk ketemu. Ia membuat saya terkesima dengan rencana-rencananya. Saya tak mengenalnya sebelumnya. Tapi ia tiba-tiba saja ingin mengenalkan saya dengan ayah-ibunya. Katanya, mereka sedang membangun bisnis besar mengenai teknologi informasi di masa depan. Ia meyakini bahwa bisnis ini akan sangat booming. Saya penasaran.

Akhirnya, tibalah saya di tepat tujuan. Ayah dan ibu sahabat itu telah menyiapkan bahan presentasi. Ia memulai dengan beberapa pertanyaan tentang masa depan. Setelah itu, ia memperlihatkan gambar para raksasa di dunia IT yakni Mark Zuckerberg dan para pendiri Google. Selanjutnya ada pembicaraan tentang sebuah layanan berbasis IT yang memungkinkan kita untuk melaukan video-conference, video blogger, dan chatting secara gratis. “Semuanya bisa dilakukan tanpa buffering,” katanya. Saya mulai tertarik.

Berikutnya, pembicaraan tak lagi bahas IT. Barulah saya tahu kalau bergabung dalam apa yang disebutnya member dari pelayanan berbasis IT itu adalah bergabung dalam sebuah unit bisnis. Kita cukup mencari orang lain untuk gabung, dan setelah itu kita mendapatkan benefit. “Kalau anda bisa mengajak banyak orang gabung, maka uang akan menumpuk. Saatnya anda kaya,” katanya.

Pembicaraan mulai tak menarik. Bapak sahabat itu mulai mengambil banyak contoh tentang orang kaya baru di usia muda. Katanya, modal anak-anak muda itu sederhana. Mereka membangun jaringan pertemanan yang kemudian bergabung dalam satu wadah. bisnis, serta harapan agar ‘uang bekerja untuk kita.’ Ia menyebut Merry Riana, yang filmnya lagi tayang di bioskop. Ia juga menyebut beberapa nama yang baru saya kenal. Tak cukup dengan itu, ia juga memperlihatkan beberapa majalah dan video mengenai merka yang sukses. Resepnya satu yakni berbisnis multi-level.

Presentasi berikutnya semakin tak menarik di mata saya. Ia membahas tentang jabatan ketika sukses mengumpulkan ‘kaki-kaki’ di bawah. Nama posisi itu memakai nama batu mulia. Misalnya ada posisi Diamond, Silver, dan Gold. Semuanya bisa didapatkan kalau sukses mencari klien. Semakin banyak anggota, maka semakin kaya. “Kehidupan berikutnya menjadi indah. Kita bisa pensiun dini, bisa liburan, keliling dunia, serta merancang masa depan anak-anak yang cerah,” katanya.

Saya menyimak. Pikiran saya di tempat lain.

Ini bukan kali pertama saya di-prospek. Yang saya rasakan adalah multi-level itu serupa agama yang berbicara tentang masa depan. Ada iming-iming tentang hari depan, ada kitab-kitab berisikan motivasi yang salah satu nabinya adalah Robert Kiyosaki, penulis Rich Dad Poor Dad. Para penggiat multi-level juga memiliki kaset-kaset dan video motivasi, ada proyeksi dan peta penghasilan, seminar-seminar bisnis, hingga jalan-jalan gratis ke luar negeri.

Saya menghargai semua yang dikatakannya. Semua orang memang menginginkan hidup yang serba nyaman. Saya sendiri percaya bahwa uang hanyalah satu cara. Uang bukan segala-galanya. Yang jauh lebih penting adalah perasaan bahagia yang berdesir dalam hati ketika seseorang mengubah mindset tentang kehidupan. Bahagia adalah kondisi ketika seseorang menyukuri semua hal-hal kecil yang dirasakan sebagai keajaiban dalam hidup.

Yang saya sukai dari teman-teman MLM adalah semangat yang tak pernah padam untuk meyakinkan orang lain. Jujur, saya menikmati saat-saat diyakinkan tentang sesuatu. Saya menyenangi saat dipersuasi dan diberikan harapan tentang kehidupan yang menakjubkan dengan uang melimpah. Seseorang yang sukses di bisnis multi-level adalah seseorang yang sukses membangun jaringan lalu menggunakan jaringan itu untuk mendapatkan berbagai keuntungan bagi dirinya.

Jujur, mulanya saya tak suka diprospek. Belakangan saya merevisi pandangan itu. Saya mulai menyukai saat-saat di-prospek. Mengapa? Sebab kawan yang memprospek itu akan melakukan segala cara agar saya tertarik lalu memperhatikan presentasi. Saya menikmati saat-saat ketika saya berpura-pura paham, lalu mengangguk. Semangat teman itu langsung meluap-luap lalu menjelaskan banyak hal agar saya terkesima dan tertarik.

Sayang, hingga saat ini saya belum tertarik bergabung. Apalagi saat teman di Plaza Senayan itu menyebut uang pendaftaran sebesar 10 juta rupiah, serta pulsa keanggotaan sebesar 400 ribu rupiah per bulan. Buat saya, dana itu cukup besar untuk sekadar menganyam mimpi dan membayangkan masa depan yang hebat, ketika ‘uang bisa bekerja untuk kita.’

Usai di-prospek, saya kembali ke stasiun. Saya kembali harus berdesak-desakkan dari kereta. Saya kembali harus merasakan ketidaknyamanan ketika menumpang kendaraan umum. Yah, mudah-mudahan bisa sesukses sahabat yang tadi meyakinkan saya agar berbisnis multi-level.

Sahabat itu memang kaya-raya. Tapi saya merasa lebih kaya. Saya tak perlu mengumpulkan banyak uang, sebagaimana dirinya, untuk menikmati hidup. Sebab saya menikmati hidup dalam keadaan apapun. Saya berbahagia dengan segala hal-hal kecil dan hal-hal besar yang saya alami. Saya adalah orang terkaya di dunia. Terserah, anda sepakat atau tidak.


Bogor, 29 Desember 2014

0 komentar:

Posting Komentar