Ode buat Wanita Tua di Tepi Court Street


USIANYA sudah sepuh. Tapi, wanita itu tetap rela berpanas-panas demi sebuah tuntutan. Ia menolak untuk menjalani masa tua dengan berleha-leha di rumah sambil dilayani anak-cucu. Ia ingin melakukan sesuatu, yang mungkin dianggap sederhana, namun bisa memberikan kontribusi bagi cita-citanya, sesuatu yang lama diidealkannya. 

wanita tua di tepi Court Street

Saya selalu tersentuh setiap melihat tekad yang begitu kuat. Wanita yang saya temui di jalan itu seakan membuka mata saya untuk melihat lebih terang. Di usia seperti itu, ia masih punya harapan. Ia masih punya obsesi dan cita-cita; tentang dunia yang damai, dunia yang tanpa peperangan. Di jalan ini, saya mengagumi semangat itu. Tak perlu banyak orang untuk sekadar menyatakan sikap. Wanita itu tahu kalau suaranya bagaikan suara sayup-sayup di tengah gemuruh lalu lintas. 

Mungkin ia akan gagal untuk menjadi perhatian publik untuk berpikir sama dengannya. Tapi setidaknya ia sudah menunjukkan sesuatu; bahwa di tengah masyarakat yang kian kapitalis ini, selalu ada harapan yang menyala redup, namun memiliki cukup cahaya untuk memerangi kegelapan. Dan pengharapan untuk dunia yang lebih baik mesti dilepaskan hingga beterbangan serupa merpati yang memenuhi udara. Cita-cita itu mesti menjadi mercusuar yang memberi arah bagi generasi mendatang agar tidak sesat di rimba raya pemenuhan kebutuhan manusia. 

Kepada wanita tua yang saya temui di Court Street, saya mengangkat topi dan menyampaikan ode tanda takzim. 

0 komentar:

Posting Komentar