Mengapa Muncul Joki Baca Buku?
Pada suatu sore yang cerah, seseorang menghubungi saya. Ia menawarkan pekerjaan yang cukup menarik. Saya diminta membaca beberapa buku, kemudian membuat ulasan dan konten untuk media sosial. Konten itu nantinya akan diunggah melalui akun pribadinya, seolah-olah dialah yang membaca dan menuliskannya.
Dia menyebut angka Rp 1 juta untuk satu buku. Hah? Kali ini saya yang kaget. Kalau saya membaca 20 buku sebulan, saya mendadak kaya dong. Gaji udah setara Direktur BUMN, padahal yang saya lakukan hanya membaca Sambil rebahan,
Saya tentu saja senang. Bayangkan, saya mendapatkan buku gratis, bisa membacanya sampai tuntas, lalu memperoleh uang pula. Bagi orang yang memang gemar membaca, pekerjaan semacam ini terdengar seperti mendapat durian runtuh.
Saya sempat berpikir, sejak kapan membaca buku bisa menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang sebanyak itu? Selama ini, saya justru lebih sering mengeluarkan uang untuk membeli buku. Sekarang, ada orang yang bersedia membayar saya untuk melakukan sesuatu yang memang saya sukai.
Belakangan, saya membaca sebuah artikel di Kompas yang membahas fenomena jasa joki baca buku yang ramai diperbincangkan di media sosial. Tarifnya berkisar Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta, bergantung pada ketebalan buku. Penyedia jasa bukan hanya membaca, tetapi juga membuat anotasi, menandai halaman, bahkan menyiapkan foto buku untuk diunggah ke media sosial.
Saya tersenyum membacanya. Rupanya, pengalaman yang pernah saya alami bukan sesuatu yang sepenuhnya asing. Membaca buku kini bisa menjadi pekerjaan yang diperjualbelikan. Bahkan, orang yang tidak membaca pun bisa tampil sebagai pembaca yang tekun, lengkap dengan kutipan dan catatan kritis yang sebenarnya disiapkan orang lain.
Sebagian orang mungkin menganggap fenomena ini menggelikan. Ada pula yang melihatnya sebagai bentuk kemalasan intelektual atau kepalsuan dalam membangun citra diri. Namun, saya justru tertarik melihatnya dari sudut pandang lain. Mengapa seseorang sampai bersedia mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk mendapatkan kesan sebagai pembaca buku?
Saya melihat setidaknya ada tiga hal menarik di balik fenomena tersebut.
Pertama, membaca buku kini dianggap keren. Ini perkembangan yang cukup menggembirakan. Di tengah dominasi video pendek, hiburan instan, dan berbagai konten yang berebut perhatian, buku ternyata masih memiliki tempat dalam budaya populer. Orang memotret buku yang sedang dibaca, membagikan kutipan, memperlihatkan rak perpustakaan pribadi, hingga membuat ulasan bacaan di Instagram dan TikTok.
Kita mengenal fenomena Bookstagram dan BookTok, dua ruang digital yang menjadikan buku sebagai bagian dari percakapan sehari-hari. Buku tidak lagi hanya hadir di perpustakaan, toko buku, atau ruang kuliah. Ia masuk ke dalam budaya visual anak muda, menjadi bagian dari gaya hidup, bahkan pilihan untuk menampilkan identitas diri.
Tentu saja, tidak semua orang yang memamerkan buku benar-benar membacanya. Tetapi, bukankah menarik ketika membaca justru menjadi sesuatu yang ingin dipamerkan? Setidaknya, ada perubahan dalam cara masyarakat memandang buku. Aktivitas yang dahulu sering diasosiasikan dengan kesunyian dan keseriusan kini memperoleh tempat dalam budaya digital yang serba visual.
Kedua, pengetahuan ternyata masih memiliki gengsi sosial. Orang yang banyak membaca sering dianggap memiliki wawasan luas, mampu membicarakan berbagai persoalan, dan menarik diajak berdiskusi. Buku menjadi salah satu simbol yang digunakan seseorang untuk menunjukkan kualitas intelektualnya.
Dalam sosiologi, Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep cultural capital atau modal budaya. Pengetahuan, pendidikan, selera, dan kebiasaan tertentu dapat menjadi sumber pengakuan dalam kehidupan sosial. Membaca buku merupakan salah satu cara memperoleh modal budaya tersebut. Namun, dalam masyarakat yang semakin mengutamakan penampilan, simbol pengetahuan kadang lebih mudah diperoleh daripada pengetahuan itu sendiri.
Di sinilah joki baca buku menemukan relevansinya. Orang ingin memperoleh pengakuan sebagai pembaca tanpa harus menjalani proses membaca. Ia membeli tanda-tanda intelektualitas, bukan pengalaman intelektual itu sendiri.
Meski demikian, saya melihat sesuatu yang menarik. Jika seseorang sampai merasa perlu berpura-pura membaca agar dianggap berpengetahuan, berarti pengetahuan masih memiliki nilai dalam masyarakat. Menjadi orang yang banyak membaca masih dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan.
Ketiga, buku ternyata belum kehilangan wibawanya. Ini mungkin bagian yang paling menarik bagi saya.
Kita hidup pada masa ketika hampir semua informasi bisa diperoleh dalam hitungan detik. Mesin pencari menyediakan jawaban, YouTube menawarkan penjelasan, sementara kecerdasan buatan mampu meringkas buku ratusan halaman dalam waktu singkat. Orang tidak harus membuka buku untuk mengetahui gagasan utama seorang pemikir.
Namun, di tengah semua kemudahan itu, buku fisik masih memiliki daya tarik tersendiri. Buku yang penuh anotasi, halaman yang terlipat, atau rak yang dipenuhi bacaan masih diasosiasikan dengan keseriusan belajar. Ada semacam penghormatan terhadap buku yang belum sepenuhnya digantikan teknologi.
Saya sendiri termasuk orang yang menikmati pengalaman membaca buku secara langsung. Ada kesenangan ketika menemukan gagasan yang mengejutkan, berhenti pada sebuah paragraf, lalu menghubungkannya dengan pengalaman yang pernah saya alami.
Kadang sebuah buku mengingatkan saya pada perjalanan bertahun-tahun sebelumnya. Kadang pula, gagasan penulis membuat saya mempertanyakan sesuatu yang selama ini saya anggap benar.
Ketika membaca Anna Tsing, misalnya, saya tidak sekadar berhadapan dengan uraian antropologis tentang globalisasi dan hubungan antarmanusia. Saya juga menemukan cara lain untuk memahami perubahan sosial yang pernah saya saksikan sendiri. Pengalaman membaca menjadi lebih kaya karena gagasan dalam buku bertemu dengan ingatan dan pengalaman hidup saya.
Hal semacam itulah yang sulit digantikan oleh joki baca buku. Orang lain mungkin bisa membuatkan ringkasan, menandai paragraf penting, bahkan menjelaskan keseluruhan argumentasi penulis. Namun, ia tidak bisa sepenuhnya menggantikan pengalaman personal ketika sebuah gagasan bertemu dengan kehidupan pembacanya.
Meski begitu, saya tidak ingin terburu-buru menghakimi orang yang menggunakan jasa tersebut. Kita juga perlu membedakan antara menggunakan bantuan untuk memahami buku dan menggunakan bantuan untuk berpura-pura telah membacanya. Sejak lama, pengetahuan berkembang melalui perantara: guru, penerjemah, pengulas, dan teman diskusi. Teknologi AI hanya memperluas kemungkinan itu.
Persoalannya bukan pada bantuan yang digunakan, melainkan pada apa yang dilakukan seseorang terhadap pengetahuan yang diperolehnya.
Saya juga tidak ingin terlalu jauh menyimpulkan bahwa kemunculan joki baca buku merupakan bukti meningkatnya budaya literasi. Kita belum memiliki cukup data untuk mengatakan demikian. Namun, fenomena ini setidaknya memperlihatkan bahwa citra sebagai pembaca memiliki nilai sosial yang cukup tinggi, sampai-sampai muncul orang yang mencoba menjadikannya peluang bisnis.
Bagi saya, ini menyisakan sebuah ironi yang menarik. Di tengah berbagai keluhan tentang rendahnya minat baca, ternyata ada orang yang rela mengeluarkan uang cukup besar agar terlihat sebagai pembaca. Mereka mungkin belum mencintai kegiatan membaca, tetapi setidaknya ingin diasosiasikan dengan dunia buku.
Tentu, saya lebih menghargai seseorang yang membaca satu buku dengan sungguh-sungguh daripada orang yang memamerkan puluhan buku tanpa pernah menyentuh isinya.
Namun, saya juga percaya bahwa kecintaan pada buku tidak selalu lahir dari motivasi yang luhur. Ada orang yang mulai membaca karena tugas sekolah, mengikuti teman, ingin terlihat pintar, atau sekadar tertarik pada sampulnya. Dari motivasi yang sederhana itu, kebiasaan membaca bisa tumbuh menjadi kebutuhan intelektual yang lebih mendalam.
Karena itu, saya tidak terlalu khawatir jika membaca buku kini dianggap sebagai sesuatu yang keren. Saya justru berharap semakin banyak orang menganggapnya demikian. Dunia literasi membutuhkan lebih banyak orang yang tertarik pada buku, apa pun pintu masuknya.
Yang perlu kita lakukan adalah mendorong ketertarikan itu agar tidak berhenti pada penampilan. Dari memotret buku menjadi membacanya. Dari membagikan kutipan menjadi memahami gagasannya. Dari mengoleksi buku menjadi berdialog dengan pemikiran yang terkandung di dalamnya.
Sebab, buku pada akhirnya bukan sekadar benda yang memperindah rak atau membuat seseorang terlihat berpengetahuan. Buku adalah ruang perjumpaan dengan pengalaman manusia lain, termasuk pengalaman yang mungkin tidak pernah kita jalani sendiri.
Saya membayangkan seseorang yang hari ini membeli buku hanya untuk kebutuhan konten. Ia memotretnya, mengunggahnya, lalu meletakkannya kembali di rak.
Beberapa bulan kemudian, karena penasaran, ia mengambil buku itu dan mulai membaca. Siapa tahu, dari halaman-halaman yang semula hanya dijadikan properti foto, ia menemukan gagasan yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia.
Mungkin terdengar terlalu optimistis. Tetapi, sejarah kecintaan seseorang pada buku sering kali bermula dari peristiwa yang tidak direncanakan.
Saya lebih senang hidup di zaman ketika orang ingin terlihat sebagai pembaca daripada di zaman ketika membaca buku dianggap sesuatu yang memalukan. Asalkan, suatu hari nanti, mereka benar-benar membuka halaman pertama.
Dan terus membacanya.
.png)