Berkat AI, Semua Orang Jadi Penulis Tapi Kok Aneh Ya?
Dua hari lalu, saya datang ke kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta. Di sana, saya bertemu seorang kawan lama yang sejak dulu gemar menulis blog. Kami berbincang tentang banyak hal, sampai akhirnya percakapan berbelok ke kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kawan saya mengaku khawatir dengan perkembangan teknologi ini. Menurutnya, AI telah membuat banyak orang yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan teknis menulis tiba-tiba bisa menghasilkan artikel, esai, bahkan buku. Orang yang dahulu kesulitan menyusun satu paragraf kini bisa menghasilkan ribuan kata hanya dengan beberapa perintah.
Saya memahami kegelisahannya. Tetapi saya punya pandangan berbeda. Saya katakan kepadanya bahwa kemampuan menghasilkan tulisan dengan bantuan AI tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai penulis. Ada perbedaan besar antara orang yang bisa memproduksi teks dan orang yang benar-benar memiliki sesuatu untuk dituliskan.
Bagi saya, persoalan utama dalam menulis bukanlah keterampilan menyusun kalimat, melainkan visi. Seorang penulis harus mengetahui apa yang hendak dikatakannya, mengapa hal itu penting, dan ke mana pembaca ingin dibawanya. Tanpa visi, seseorang mungkin bisa menghasilkan tulisan yang indah, tetapi belum tentu memiliki gagasan yang layak direnungkan.
Saya sendiri tidak pernah merasa khawatir dengan kehadiran AI. Saya juga tidak pernah iri melihat orang-orang yang begitu mahir menggunakannya. Mereka mungkin piawai menyusun prompt, mengetahui berbagai teknik untuk menghasilkan tulisan dalam hitungan detik, bahkan mampu membuat sebuah buku hanya dalam beberapa hari. Tetapi keterampilan memberikan perintah kepada mesin tidak otomatis menjadikan seseorang penulis hebat.
Sejak awal, saya memandang AI hanya sebagai alat. Tidak lebih. Seperti mesin tik yang kemudian digantikan komputer, atau perpustakaan yang sebagian fungsinya kini tersedia melalui internet. Teknologi membantu manusia bekerja, tetapi tidak dengan sendirinya memberikan tujuan atas pekerjaan tersebut.
Dalam dunia kepenulisan, tujuan itulah yang saya sebut sebagai visi.
Seorang penulis memiliki kegelisahan, sudut pandang, serta gagasan yang tumbuh melalui bacaan dan pengalaman hidup. Ia tidak sekadar menyusun kalimat, tetapi juga membangun cara pandang terhadap dunia.
Pramoedya Ananta Toer, misalnya, tidak menjadi besar hanya karena kemampuannya bercerita. Ada pergulatan sejarah, kekuasaan, kolonialisme, dan kemanusiaan yang terus hadir dalam karya-karyanya.
AI mungkin bisa meniru gaya bahasa Pramoedya. Tetapi kemampuan meniru kalimat tidak sama dengan memiliki dunia pemikiran yang melahirkan kalimat tersebut.
Di sinilah saya melihat paradoks kehadiran AI.
Secara logika, teknologi ini seharusnya melahirkan lebih banyak penulis. Hambatan teknis untuk menulis semakin kecil. Siapa pun kini bisa menghasilkan esai, cerita pendek, bahkan novel. Namun, kemudahan menghasilkan tulisan tidak otomatis melahirkan karya yang bermutu. Kita mungkin sedang memasuki zaman ketika produksi teks meningkat luar biasa, sementara gagasan yang benar-benar segar tetap sulit ditemukan.
Di tangan orang yang tidak memiliki visi, AI hanya akan menjadi mesin penghasil sampah tulisan. Ia bisa memproduksi puluhan artikel setiap hari, tetapi banyaknya tulisan bukanlah ukuran kualitas pemikiran. Kita bisa memenuhi internet dengan jutaan kalimat tanpa menambahkan satu pun cara pandang baru terhadap dunia.
Tentu saja, saya tidak sedang meremehkan penulis pemula. Setiap penulis besar pernah menjadi pemula. Visi pun tidak selalu hadir sejak seseorang pertama kali menulis. Ia tumbuh melalui proses panjang, melalui buku-buku yang dibaca, pengalaman yang direnungkan, dan keberanian mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa oleh orang lain.
Yang saya persoalkan adalah anggapan bahwa kemampuan menggunakan AI sudah cukup untuk melahirkan karya hebat.
Saya justru membayangkan sesuatu yang jauh lebih menarik ketika AI berada di tangan penulis yang memiliki visi kuat.
Bayangkan seorang penulis yang telah menghabiskan puluhan tahun membaca, melakukan perjalanan, mengamati masyarakat, dan mengumpulkan berbagai pengalaman. Di kepalanya tersimpan begitu banyak gagasan. Sebagian telah menjadi tulisan, sebagian masih berupa catatan yang berserakan, dan sebagian lainnya mungkin belum pernah menemukan bentuknya.
Selama ini, keterbatasan waktu dan tenaga membuat tidak semua gagasan itu dapat diwujudkan. Menulis sebuah buku membutuhkan riset, pengolahan bahan, penyusunan struktur, dan penyuntingan yang melelahkan. Tidak jarang sebuah gagasan tertunda bertahun-tahun hanya karena penulisnya harus menyelesaikan pekerjaan lain.
Kini AI hadir untuk membantu sebagian pekerjaan tersebut.
Seorang penulis bisa menggunakannya untuk menelusuri literatur, membandingkan pemikiran, menguji argumentasi, dan menata bahan yang sebelumnya sulit dikelola. Tentu saja, ia tetap harus memeriksa kebenaran informasi dan mempertanggungjawabkan setiap gagasan yang diterbitkan. Namun, banyak pekerjaan teknis yang dahulu menyita waktu kini dapat diselesaikan lebih cepat.
AI tidak menciptakan kehebatan seorang penulis. Ia melipatgandakan kemampuan yang telah dimiliki penulis tersebut.
Inilah yang membuat saya optimistis. Di tangan penulis yang memiliki visi, AI berpotensi menjadi kekuatan yang membuatnya melesat jauh. Bukan karena mesin itu menggantikan kecerdasannya, melainkan karena teknologi memungkinkan kecerdasan, pengetahuan, dan pengalamannya bekerja dengan jangkauan yang lebih luas.
Saya membayangkan seorang Pramoedya Ananta Toer hidup pada zaman AI. Bukan untuk meminta mesin menuliskan novel baginya, melainkan untuk membantunya menelusuri arsip sejarah, mempertemukan berbagai sumber, dan mengorganisasi bahan yang begitu luas. Kita tentu tidak tahu karya seperti apa yang akan lahir. Tetapi menarik membayangkan kemungkinan ketika seorang penulis dengan visi sejarah yang kuat memperoleh perangkat riset yang jauh lebih canggih.
Pada akhirnya, yang menentukan tetaplah manusia di belakang karya tersebut.
Saya tidak percaya masa depan kepenulisan semata-mata menjadi milik mereka yang paling mahir menyusun prompt. Kemampuan itu penting, tetapi bukan segalanya. Masa depan kepenulisan tetap membutuhkan orang-orang yang gemar membaca, memiliki rasa ingin tahu, peka terhadap kehidupan, dan berani menawarkan pemikiran yang berbeda.
Bagi saya, menulis tidak pernah sekadar pekerjaan menyusun kata. Menulis adalah cara memahami dunia, mengolah ingatan, dan menyampaikan sesuatu yang saya anggap penting kepada orang lain. Kadang-kadang, saya bahkan baru menemukan apa yang sebenarnya ingin saya katakan setelah bergulat cukup lama dengan sebuah tulisan.
Karena itulah saya tidak ingin menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Saya ingin menggunakannya sebagai teman berdiskusi, asisten riset, sekaligus penyunting yang membantu melihat kelemahan tulisan saya sendiri. Tetapi keputusan terakhir mengenai arah, isi, dan makna sebuah karya tetap harus berada di tangan saya.
Saya juga tidak terlalu peduli apabila ada orang yang mampu menghasilkan sepuluh buku ketika saya baru menyelesaikan satu. Jumlah buku bukan perlombaan yang harus dimenangkan. Sebuah karya yang ditulis dengan kesungguhan dan memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan bisa jauh lebih berharga daripada puluhan buku yang sekadar menambah panjang daftar terbitan.
Barangkali, justru di zaman AI inilah kita akan semakin mudah membedakan orang yang sekadar menghasilkan tulisan dengan mereka yang sungguh-sungguh memiliki dunia kepengarangan.
Yang pertama mungkin akan semakin sibuk memproduksi teks. Yang kedua akan menggunakan teknologi untuk memperluas cakrawala pemikirannya.
Saya memilih kemungkinan kedua.
Ada banyak buku yang masih ingin saya tulis, banyak pengalaman yang belum sempat saya ceritakan, dan begitu banyak gagasan yang selama ini hanya tersimpan dalam kepala. Kehadiran AI membuat sebagian pekerjaan itu terasa lebih mungkin untuk diselesaikan.
Maka, ketika sebagian orang mengkhawatirkan AI akan mengambil alih pekerjaan penulis, saya justru melihatnya sebagai kesempatan.
Saya tidak takut AI. Saya juga tidak merasa perlu bersaing dengan orang yang paling mahir menggunakannya. Saya hanya ingin terus membaca, berpikir, melakukan perjalanan, dan menulis tentang hal-hal yang menurut saya penting.
Percakapan dengan kawan lama di kantor Kementerian ESDM itu kembali mengingatkan saya pada sesuatu yang sederhana. Teknologi boleh berkembang secepat apa pun, tetapi persoalan terbesar seorang penulis tetap sama: apakah ia memiliki sesuatu yang layak disampaikan kepada dunia?
AI bisa membantu siapa saja menulis sebuah buku. Tetapi hanya penulis yang memiliki visi yang tahu mengapa buku itu harus ditulis dan ke mana pembacanya hendak dibawa.
Dan dengan AI, saya justru ingin melihat sejauh mana gagasan-gagasan saya bisa melesat.
