Olah-Olah Bahlil di HMI Cabang Irian Jaya


Siang itu, Jayapura sedang panas. Bukan hanya karena matahari Papua yang menyengat, tetapi juga karena jalanan di sekitar kampus dipenuhi mahasiswa. Spanduk dibentangkan. Teriakan tuntutan bersahut-sahutan. 

Di depan gerbang, aparat berdiri membentuk barikade. Jarak antara mahasiswa dan polisi makin dekat. Suasana seperti menunggu satu percikan kecil untuk meledak. Jalanan macet parah.

Di antara banyak mikrolet atau angkutan kota yang terjebak kemacetan, ada satu mikrolet yang disopiri anak muda bernama Bahlil Lahadalia. Dia masih mahasiswa yang harus membagi waktunya dengan mencari uang. Jalanan bukan hanya tempat demonstrasi baginya. Jalanan juga menjadi tempat mencari nafkah.

Dia memang kesal karena terjebak macet. Tetapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada gerakan mahasiswa. Ia melihat orang-orang yang berdiri di barisan depan bukan sekadar pandai berteriak. 

Ketika situasi memanas, mereka maju menemui aparat. Mereka berbicara, bernegosiasi, mengatur massa, dan dalam keadaan tertentu mampu menurunkan ketegangan. Mereka tampak tahu kapan harus keras dan kapan harus melunak.

Bahlil melihat sebuah keterampilan yang tidak diajarkan di ruang kuliah: kemampuan membaca orang. Kelak, bertahun-tahun setelah masa mahasiswa itu berlalu, Bahlil mempunyai istilah sendiri untuk keterampilan tersebut: olah-olah.

Istilah itu terdengar sederhana, bahkan agak jenaka. Namun bagi Bahlil, olah-olah adalah salah satu ilmu terpenting yang diperolehnya selama menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia memaknainya sebagai kemampuan membaca karakter, mengolah rasa, menemukan pintu masuk kepada orang lain, kemudian membangun kepercayaan. 

HMI, dalam ingatannya, adalah “kampus alternatif” yang mengajarkan sesuatu yang tidak tersedia dalam kurikulum universitas. 

Hasbi Suaib mengenal dunia itu dari dekat. Ia mengenal Bahlil jauh sebelum nama sahabatnya itu dikenal di Jakarta. Ketika Hasbi menjadi Ketua Umum HMI Cabang Irian Jaya, Bahlil berada di sampingnya sebagai sekretaris. 

Keduanya kemudian kembali bekerja bersama di Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI): Hasbi sebagai ketua, Bahlil lagi-lagi sebagai sekretaris. Karena itulah Hasbi menyaksikan dari jarak dekat bagaimana seorang anak muda dengan segala keterbatasannya perlahan membangun karakter dan jaringan. 

Menurut Hasbi, banyak orang keliru memahami olah-olah sebagai tipu daya. Padahal, dalam kehidupan aktivis di Papua pada masa itu, olah-olah justru lahir dari keterbatasan.

Organisasi harus hidup. Training harus berjalan. Demonstrasi harus dibiayai. Proposal harus dibuat. Sekretariat membutuhkan biaya. Sementara para aktivis tidak memiliki banyak uang.

Mereka hanya punya satu modal: kemampuan meyakinkan orang. “Olah-olah adalah bahasa lapangan,” kata Hasbi. Ia menyebutnya sebagai seni bernegosiasi, membangun dukungan, dan membuat orang lain bersedia membantu sebuah perjuangan yang manfaatnya tidak berhenti pada kepentingan pribadi. Di HMI, Bahlil menemukan laboratorium terbaik untuk mempelajari ilmu itu.

Kampus Kedua Bernama HMI

Pada mulanya, ketertarikan Bahlil kepada HMI sangat praktis. Ia melihat para aktivis memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya: jaringan. Mereka saling mengenal, saling membantu, dan bisa bergerak bersama. Di tengah hidup yang keras, Bahlil mulai memahami bahwa seseorang tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

HMI kemudian memberinya ruang yang relatif egaliter. Di sekretariat, status ekonomi tidak banyak berguna. Orang diuji melalui percakapan: apakah ia mempunyai gagasan, sanggup mempertahankan argumentasi, mampu mendengarkan, dan berani mengakui kekalahan dalam perdebatan.

Bahlil datang, duduk, mendengar, lalu ikut berbicara. Sekretariat menjadi kampus keduanya.

Di antara buku, kopi, asap rokok, dan perdebatan yang bisa berlangsung sampai menjelang subuh, ia belajar menyusun argumentasi. Topiknya bisa berpindah dengan cepat: politik, ekonomi, agama, persoalan kampus, hingga strategi demonstrasi. Tidak ada kurikulum formal. Namun justru dalam kekacauan semacam itulah karakter seseorang terlihat.

Basic Training atau Latihan Kader I kemudian memberinya kerangka yang lebih sistematis. Ia diperkenalkan dengan Nilai Dasar Perjuangan dan gagasan mengenai insan akademis, pencipta, dan pengabdi. Seorang kader tidak cukup menjadi pintar. Ia dituntut menciptakan sesuatu dan mengembalikan kemampuan itu kepada masyarakat. 

Tetapi bagi Bahlil, pendidikan HMI yang paling penting justru berlangsung setelah forum selesai. Ia belajar bahwa manusia tidak bisa diperlakukan dengan satu resep.

Seorang senior yang gemar ekonomi harus diajak berbicara ekonomi. Sebelum bertemu dengannya, Bahlil membaca koran dan mempelajari isu bursa saham agar memiliki bahan percakapan. “Kalau senior itu suka ekonomi, saya baca dulu ekonominya, saya baca koran, saya diskusi sama dia tentang bursa saham, giring dia begitu,” kenangnya.

Sebaliknya, kepada senior yang menyukai olahraga, jangan memaksakan pembicaraan tentang ekonomi. Bicaralah tentang olahraga. Temukan terlebih dahulu dunia yang membuat orang itu nyaman. Kelihatannya remeh. Tetapi di situlah olah-olah bekerja.

Bahlil sedang belajar bahwa setiap manusia memiliki pintu. Tidak semua pintu dibuka dengan kunci yang sama. Kemampuan menemukan “kunci” itulah yang kelak menjadi salah satu ciri khasnya.

Kisah Sepatu Miring

Namun romantisme mengenai kehidupan aktivis mudah menutupi kenyataan lain: mereka miskin. Hasbi masih mengingat masa ketika hidup mereka jauh dari nyaman. Ia bahkan mempunyai satu gambaran yang sangat visual tentang Bahlil muda: sepatu miring.

Di Papua, istilah itu digunakan untuk menyebut sepatu yang solnya sudah aus sebelah karena terlalu lama dipakai. Sepatu itu tetap dikenakan bukan karena pemiliknya menyukai modelnya, melainkan karena tidak punya uang membeli yang baru. Bahlil pernah melewati masa semacam itu.

“Bahlil adalah orang yang benar-benar ditempa dari nol,” kata Hasbi. Sebelum menjadi pengusaha, menurutnya, Bahlil belum mempunyai apa-apa. Jalan hidupnya tidak mulus. 

Mungkin justru karena kemiskinan itulah HMI menjadi menarik baginya. Di sana ia melihat sebuah paradoks: banyak senior hidup pas-pasan, tetapi mempunyai pengaruh besar. 

Mereka bisa kekurangan uang makan, menumpang tidur, bahkan berutang, tetapi mempunyai kapasitas intelektual dan jaringan yang membuat pendapat mereka diperhitungkan.  Bahlil menemukan bahwa ada jenis modal lain selain uang.

Ada pengetahuan. Ada kepercayaan. Ada keberanian. Ada jaringan. Semuanya bisa dibangun.

Ia kemudian merumuskan metafora yang khas mengenai “pangkat” dalam organisasi. Ada orang berpangkat jenderal tetapi berjiwa kopral: jabatannya tinggi, tetapi tidak memiliki kapasitas dan otoritas moral. 

Sebaliknya, ada orang berpangkat kopral tetapi berjiwa jenderal. Jabatannya mungkin rendah, tetapi orang mendengarkannya karena ia memiliki kemampuan membaca keadaan, membangun jaringan, dan memegang prinsip. Bahlil memilih yang kedua. Pengaruh tidak selalu datang dari jabatan.

Sebelas Kali Ditahan

HMI tidak hanya membawa Bahlil ke sekretariat. Organisasi itu juga membawanya ke jalanan.

Pada masa Reformasi, Jayapura memang berjarak ribuan kilometer dari Jakarta. Tetapi kegelisahan mahasiswa di Papua tidak berbeda jauh dengan yang bergolak di kota-kota lain. Bahlil berada di tengah gelombang itu.

Ia menjadi Ketua Senat Mahasiswa STIE Port Numbay. Bersama para aktivis lain, ia ikut membangun forum ketua senat mahasiswa se-Jayapura untuk mengawal reformasi dan Pemilu 1999. Hasbi menyebut Bahlil sebagai “aktivis tulen”. 

Bahlil sendiri mengaku pernah sebelas kali ditahan polisi karena demonstrasi. “Saya dulu 11 kali ditahan oleh polisi waktu demo. Tapi bukan demo karena dibayar, tapi demo terhadap sesuatu nilai yang saya yakini benar,” katanya mengenai masa tersebut. 

Jalanan menjadi ruang latihan lain. Di sekretariat, sebuah argumentasi yang buruk mungkin hanya berakhir dengan ejekan teman. Di jalan, kesalahan membaca keadaan bisa membawa seseorang ke kantor polisi.

Ia belajar mengendalikan emosi ketika massa memanas. Belajar mengetahui kapan harus maju dan kapan harus mundur. Belajar membedakan orang yang banyak bicara dengan orang yang bisa diandalkan ketika keadaan memburuk.

Di situlah olah-olah memperoleh dimensinya yang lain. Ia bukan lagi sekadar kemampuan membuat senior bersedia membantu proposal kegiatan. Ia menjadi keterampilan membaca manusia di bawah tekanan.

Pengalaman itu membentuk Bahlil menjadi seseorang yang cepat mengenali karakter. Siapa yang dominan, siapa yang emosional, siapa yang rasional, siapa yang banyak diam tetapi kuat dalam argumentasi, dan siapa yang dapat dipercaya ketika situasi menjadi sulit. Sekolah itu tidak memberikan ijazah.Tetapi pelajarannya dibawa seumur hidup.

Dari Jayapura ke Jakarta

Perjalanan organisasi Bahlil akhirnya membawanya keluar dari Papua. Ia bergerak dari komisariat, cabang, hingga akhirnya masuk ke Pengurus Besar HMI. Pada periode 2001–2003, ia dipercaya menjadi Bendahara Umum PB HMI. Posisi itu memperluas cakrawalanya secara drastis. Jaringan yang sebelumnya berputar di Jayapura dan Papua kini terbentang secara nasional. 

Jakarta mempertemukannya dengan dunia yang sebelumnya terasa jauh: senior HMI yang telah menjadi pengusaha, pejabat, politisi, dan tokoh nasional. Sekali lagi Bahlil mengamati.

Ia melihat bahwa setiap orang harus didekati dengan bahasa yang berbeda. Ada yang nyaman berbicara ekonomi. Ada yang lebih mudah disentuh dengan pendekatan agama. Ada pula yang menikmati perdebatan intelektual.

Sedikit demi sedikit, terbentuk semacam peta manusia dalam kepalanya. Ia tidak hanya mengingat siapa mengenal siapa. Ia belajar memahami kepentingan, karakter, jalur komunikasi, serta cara menjaga hubungan setelah sebuah pertemuan selesai. Posisi di PB HMI membawanya dari pinggiran geografis Indonesia menuju pusat gravitasi kekuasaan di Jakarta. 

Jaringan, bagi Bahlil, akhirnya bukan sekadar kumpulan nomor telepon. Jaringan adalah kepercayaan.

Hasbi melihat kemampuan itu sudah tumbuh sejak masa mahasiswa. Menurutnya, Bahlil mudah diterima siapa saja. Ia bisa berteman dengan orang dari organisasi dan agama berbeda. Kehidupan di Papua ikut membentuk keterbukaan tersebut. Aktivis HMI, GMKI, dan PMKRI bisa duduk bersama di pinggir jalan, makan gorengan dan berbagi minuman dalam keterbatasan. 

Mereka berbeda identitas, tetapi menghadapi persoalan kehidupan yang sama. Di lingkungan seperti itulah Bahlil belajar bahwa manusia sebaiknya dibaca lebih dahulu sebagai manusia, bukan sebagai label.

Hasbi Suaib dan Bahlil Lahadalia

Hasbi mengingat ketika kegiatan organisasi kekurangan biaya, Bahlil kerap mengeluarkan uang pribadi. Teman-temannya menjadi lebih tenang karena mengetahui Bahlil akan turun tangan jika keadaan mendesak. Bahlil memandang pengeluaran untuk organisasi sebagai sedekah, sesuatu yang diberikan untuk kebaikan dan diyakininya akan mendapatkan balasan dari Tuhan. 

Jejak itu juga terlihat ketika mereka aktif di BKPRMI. Saat pembangunan Masjid Raya Baiturrahim di Jayapura menghadapi persoalan pendanaan, mereka mencari cara agar masyarakat bisa terlibat. 

Lahirlah gagasan “lelang bahan bangunan”: masyarakat tidak harus memberikan uang, tetapi dapat menyumbang tiang, semen, kubah, atau material lainnya. Untuk mendukung gerakan tersebut, menurut Hasbi, Bahlil bahkan mendatangkan Ustaz Jefri Al Buchori dengan biaya pribadi. 

Lagi-lagi pola yang sama muncul: ada masalah, sumber daya terbatas, kemudian dicari jalan yang tidak biasa. 

Olah-olah: Ilmu yang Dibawa ke Kekuasaan

Bertahun-tahun kemudian, panggung Bahlil berubah total. Dulu ia menghadapi senior HMI agar sebuah proposal kegiatan mendapatkan dukungan. Kemudian ia harus menghadapi pengusaha, investor, birokrasi, pemerintah daerah, masyarakat, bahkan delegasi negara lain.

Tetapi menurut Bahlil, ilmu dasarnya tidak banyak berubah. Ketika berada dalam forum G20 dan harus memperjuangkan hilirisasi serta kolaborasi dengan UMKM, misalnya, ia mengaitkan kemampuan negosiasinya dengan pelajaran membaca situasi dan mengolah rasa yang diperoleh selama berproses di HMI. 

Ia merumuskannya dalam kalimat yang lebih terang:“Menyelesaikan persoalan investasi itu tidak cukup dengan persoalan regulasi, tapi harus dilakukan dengan cara-cara mengolah rasa yang diajarkan di HMI.”

Mengolah rasa. Bukan sekadar mengolah data. Regulasi bisa menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Data bisa menjelaskan untung-rugi. Tetapi keputusan pada akhirnya dibuat manusia. Dan manusia membawa ego, ketakutan, harapan, kepentingan, harga diri, serta kebutuhan untuk dihargai. 

Itulah sebabnya salah satu kisah yang paling menggambarkan metode Bahlil bukan terjadi di ruang rapat berpendingin udara.

Ketika menghadapi persoalan tanah proyek Rosneft-Pertamina di Tuban, Bahlil memilih turun menemui masyarakat. Dia datang membawa sarung, kopi, dan kacang, tidur di musala, serta berbicara langsung dengan warga. 

Skalanya sudah berubah. Dulu proposal organisasi mahasiswa. Kini investasi bernilai sangat besar. Tetapi logikanya sama: jangan memulai dari kertas. Mulailah dari manusia.

Di sinilah istilah olah-olah menjadi menarik sekaligus problematis. Dalam politik Indonesia, kata “mengolah” orang mudah diasosiasikan dengan manipulasi: membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkannya. Olah-olah pun mudah dicurigai sebagai nama lain dari kelihaian transaksional.

Hasbi menolak tafsir itu. Baginya, pengalaman mereka di HMI menunjukkan akar yang berbeda. Olah-olah muncul sebagai kreativitas para aktivis yang hampir selalu kekurangan sumber daya. Mereka harus membuat organisasi tetap berjalan, membangun dukungan, mempertemukan kepentingan yang berbeda, dan menyelesaikan masalah tanpa mempunyai kekuasaan formal.

“Olah-olah bukan tipu-tipu,” demikian inti kesaksian Hasbi. Baginya, ia adalah strategi kepemimpinan: negosiasi yang memberikan ruang kepada berbagai pihak tanpa kehilangan tujuan utama. 

Tentu saja, sebagaimana setiap keterampilan politik, olah-olah pada akhirnya bergantung kepada tujuan orang yang menggunakannya. Kemampuan membaca karakter bisa dipakai untuk membangun kesepakatan, tetapi secara teoritis juga bisa berubah menjadi manipulasi. Garis pemisah keduanya terletak pada tujuan, nilai, dan batas yang dipertahankan.

Bahlil sendiri menempatkan prinsip sebagai batas tersebut. Barangkali karena itu ia selalu kembali kepada HMI ketika menjelaskan perjalanan hidupnya. Ia tidak melihat organisasi itu sekadar sebagai tempat mendapatkan teman atau membangun koneksi. HMI adalah tempat seseorang diuji: berbicara, berdebat, berorganisasi, mencari uang kegiatan, turun ke jalan, ditahan, kalah dalam perdebatan, kemudian kembali ke sekretariat dan mencoba lagi.

“Tidak akan pernah mungkin dalam catatan sejarah saya untuk kemudian menjadi sukses kalau tidak pernah berproses ditempa dan dilatih di HMI,” katanya. 

Sekolah Membaca Manusia

Ada banyak cara membaca perjalanan Bahlil Lahadalia. Orang bisa melihatnya sebagai kisah mobilitas sosial: anak muda yang pernah hidup dalam keterbatasan, mengenakan “sepatu miring”, menjadi aktivis, pengusaha, lalu masuk ke pusat kekuasaan.

Orang juga bisa membacanya sebagai kisah mengenai jaringan. HMI membuka pintu dari Jayapura menuju Jakarta, mempertemukannya dengan orang-orang yang sebelumnya hanya bisa dilihat dari televisi.

Namun ada lapisan yang lebih menarik. HMI mengajarinya membaca manusia. Dari sekretariat yang riuh, ia belajar berargumentasi. Dari proposal yang harus dibawa kepada senior, ia belajar melobi. Dari demonstrasi, ia belajar membaca tekanan. 

Dari sebelas kali berurusan dengan penahanan, ia belajar risiko. Dari pergaulan lintas agama dan organisasi di Papua, ia belajar menerima perbedaan. Dari PB HMI, ia belajar membaca jaringan kekuasaan. Dan ketika kemudian menjadi pengusaha serta pejabat negara, seluruh pengalaman itu menemukan medan baru.

Semua itulah yang diringkas Bahlil dalam satu ungkapan sederhana: olah-olah. Mungkin itu sebabnya ia begitu percaya pada “kampus alternatif” bernama organisasi. Kampus formal mengajarkan teori tentang manusia. Organisasi mempertemukan seseorang dengan manusia sebenarnya: yang keras kepala, pemarah, murah hati, penuh kepentingan, idealis, oportunis, setia, atau berubah ketika keadaan berubah.

Tidak ada buku teks yang sepenuhnya bisa menjelaskan mereka. Mereka harus ditemui. Harus diajak bicara. Harus didengarkan. Dan kadang-kadang, harus ditemani duduk berjam-jam dengan kopi dan kacang.

Di sanalah olah-olah menemukan maknanya. Bukan sekadar kelihaian berbicara, melainkan kemampuan merasakan kapan harus bicara dan kapan harus mendengar; kapan harus menekan dan kapan harus mengalah; bagaimana memahami kepentingan orang lain tanpa kehilangan kepentingan yang sedang diperjuangkan.

Hasbi Suaib mengenal Bahlil sebelum semua panggung besar itu datang. Ia melihat sahabatnya ketika sepatu masih miring, organisasi kekurangan uang, dan masa depan belum mempunyai bentuk. Karena itu, ketika orang lain melihat perjalanan Bahlil sebagai sebuah lompatan yang mengejutkan, Hasbi justru tidak terlalu heran.

Ia sudah melihat prosesnya. Bahlil tidak tiba-tiba belajar bernegosiasi ketika menjadi pejabat. Tidak mendadak belajar membangun jaringan ketika masuk Jakarta. Tidak baru belajar menghadapi tekanan ketika menjadi menteri.

Semua itu sudah dimulai jauh sebelumnya. Dimulai di sekretariat, di jalanan Jayapura, di antara proposal kegiatan yang harus dibiayai, perdebatan yang tak kunjung selesai, demonstrasi, senior-senior yang harus diyakinkan, serta pertemanan lintas kelompok yang dibangun sedikit demi sedikit. Di sanalah Bahlil ditempa.

Di sanalah pula kita menemukan penjelasan paling sederhana mengenai olah-olah Bahlil di HMI: sebuah seni membaca manusia yang bermula sebagai cara seorang aktivis bertahan hidup, lalu tumbuh menjadi cara seorang pemimpin menghadapi dunia.


BACA:

Bahlil Kecil di Tiimur Indonesia: Dari Wakatobi, Banda, Hingga Fakfak