Najwa dalam Hembusan Asap Djarum
NAJWA SHIHAB kini berada dalam lanskap bisnis yang berbeda. Media yang dibangunnya bersama dua rekannya, Narasi, berada di bawah kendali kelompok bisnis yang namanya selama puluhan tahun melekat pada salah satu merek rokok terbesar Indonesia: Djarum.
Pada September 2026, PT Global Digital International (GDI), perusahaan dalam ekosistem GDP Venture yang terafiliasi dengan Grup Djarum, mengambil alih hampir seluruh saham PT Narasi Citra Sahwahita. Berdasarkan dokumen korporasi yang diberitakan DealStreetAsia, GDI menguasai 6.910 dari 6.911 saham perusahaan. Satu saham lainnya berada pada PT Merah Cipta Media yang juga terafiliasi dengan Grup Djarum.
Praktis, Narasi kini berada dalam genggaman ekosistem Djarum.
Kabar itu menarik karena nama yang berdiri di depan Narasi adalah Najwa Shihab. Selama bertahun-tahun, Najwa membangun reputasi sebagai salah satu figur jurnalisme paling dikenal di Indonesia. Najwa mewawancarai presiden, menteri, politisi, aktivis hingga warga biasa. Program-programnya sering membawa persoalan publik ke ruang percakapan yang jauh lebih luas.
Sekarang, di belakang perusahaan media yang dibangunnya, berdiri sebuah konglomerasi.
Pertanyaannya bukan hanya apa yang akan terjadi pada Najwa atau Narasi. Ada pertanyaan ekonomi yang lebih menarik: mengapa Djarum membeli perusahaan media ketika bisnis media justru sedang memasuki salah satu periode paling sulit dalam sejarahnya?
Media yang Kehilangan Iklan
Dunia media sedang mengalami paradoks. Manusia tidak pernah mengonsumsi informasi sebanyak hari ini. Setiap pagi jutaan orang membuka telepon genggam, membaca berita, menonton video, mendengarkan podcast, menggulir TikTok, Instagram dan YouTube.
Perhatian manusia tidak berkurang. Yang berubah adalah ke mana uangnya pergi.
Dewan Pers menyebut nilai iklan digital Indonesia sekitar Rp71 triliun, tetapi sekitar 80 persen dikuasai Google, Meta dan TikTok. Perusahaan media membayar wartawan, editor, studio dan produksi berita. Namun ketika berita menemukan pembacanya di dunia digital, sebagian besar uang iklan justru mengalir kepada perusahaan teknologi yang menguasai jalur distribusi.
Model lama, yakni membuat berita, mendapatkan pembaca, memasang iklan, memperoleh pendapatan, tidak lagi bekerja seperti dahulu. Traffic website tidak otomatis menghasilkan uang yang memadai. Bahkan mesin pencari yang selama dua dekade menjadi pintu menuju situs berita mulai berubah akibat kecerdasan buatan.
Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut menghilang: perhatian manusia. Justru perhatian itulah yang semakin mahal.
Mengapa Narasi?
Djarum sebenarnya tidak membutuhkan Narasi jika sekadar ingin mempunyai portal berita. Dengan kekuatan modalnya, Grup Djarum bisa membangun studio, membeli teknologi dan merekrut ratusan wartawan. Tetapi ada sesuatu yang tidak mudah dibangun dengan uang: hubungan dengan audiens.
Menurut data yang dipublikasikan Narasi untuk kebutuhan bisnisnya, jaringan tersebut memiliki lebih dari 12 juta subscriber YouTube, sekitar 69 juta pengikut di berbagai platform media sosial, serta ratusan ribu anggota dalam basis komunitasnya. Narasi mempunyai attention.
Ada pula satu aset yang lebih sulit dihitung dalam laporan keuangan: Najwa Shihab. Najwa bukan sekadar presenter. Sosoknya menjadi wajah dan identitas yang menghubungkan Narasi dengan sebagian audiensnya. Orang datang bukan hanya untuk mengetahui sebuah peristiwa, tetapi juga melihat bagaimana Najwa membicarakannya.
Dalam ekonomi media modern, hubungan semacam itu sangat berharga.
Djarum Sudah Lama Datang
Masuknya Djarum sebenarnya bukan cerita baru. GDP Venture sudah menjadi investor Narasi sejak fase awal. Pada 2021, GDI memberikan pembiayaan utang kepada Narasi yang kemudian dikonversikan menjadi saham berdasarkan keputusan pemegang saham pada Desember 2025.
Djarum tidak tiba-tiba datang membawa koper dan membeli Narasi. Djarum sudah berada di dalam rumah. Akuisisi 2026 lebih menyerupai tahap akhir perjalanan panjang: dari investor, pemberi pembiayaan, kemudian menjadi pemegang kendali.
Narasi juga bukan satu-satunya. Kelompok yang sama sebelumnya masuk dan kemudian mengambil kendali atas Kumparan. GDP Venture juga memiliki jejak investasi pada perusahaan media, konten dan entertainment, termasuk IDN Media dan Visinema.
Jika kepingan itu diletakkan di atas meja, gambarnya mulai terlihat. Mungkin yang sedang dibangun bukan sekadar kumpulan perusahaan media, melainkan ekosistem perhatian.
Dari Rokok ke Ekosistem Digital
Untuk memahami Narasi, kita harus berhenti melihat Djarum hanya sebagai perusahaan rokok.
Bisnis keluarga Hartono telah lama bergerak jauh melampaui tembakau. Salah satu aset terpenting mereka adalah Bank Central Asia (BCA). Di dunia digital terdapat Blibli melalui PT Global Digital Niaga Tbk, yang membangun ekosistem perdagangan dan gaya hidup bersama tiket.com. Ada pula Ranch Market yang masuk dalam ekosistem Blibli.
Di lapisan lain terdapat GDP Venture, kendaraan investasi digital yang sejak 2010 menanamkan modal pada berbagai perusahaan teknologi, media, entertainment dan layanan digital. Arah bisnisnya menarik.
Perbankan berada dekat dengan transaksi. E-commerce dengan belanja konsumen. Travel dengan pengalaman dan gaya hidup. Teknologi advertising bergerak pada data dan monetisasi audiens. Media berada di bagian paling awal: merebut perhatian manusia.
Bukan berarti seluruh perusahaan itu bekerja dalam satu mesin atau saling membagikan data. Struktur, regulasi dan tata kelola masing-masing harus tetap dibedakan. Tetapi dari perspektif portofolio bisnis, arahnya terlihat: dari manufaktur menuju perbankan, teknologi, commerce, entertainment dan ekonomi digital. Media menjadi salah satu keping dalam bentang tersebut.
Dari Attention Menuju Transaction
Di sinilah akuisisi Narasi menjadi menarik. Bayangkan perjalanan seorang konsumen digital. Pagi hari menonton video Narasi. Siang hari membaca Kumparan. Pada kesempatan lain berbelanja melalui Blibli atau memesan perjalanan melalui tiket.com.
Tidak berarti seluruh aktivitas tersebut terhubung secara langsung. Namun secara bisnis terdapat dua wilayah besar dalam ekonomi internet: attention dan transaction.
Perusahaan media hidup di wilayah pertama. E-commerce, travel dan berbagai layanan digital berada lebih dekat dengan wilayah kedua.
Perusahaan yang mempunyai posisi pada kedua ujung itu memiliki ruang bisnis jauh lebih besar daripada media yang hanya menjual banner iklan. Kumparan dan Narasi pun membawa kekuatan berbeda. Kumparan memiliki karakter sebagai digital news platform dengan distribusi besar. Narasi kuat pada video, personality, percakapan publik, komunitas dan event.
Sederhananya, jika Kumparan menawarkan scale, Narasi menawarkan engagement dan personality.
Senjakala Media
Karena itu, menyebut bisnis media sedang menuju senja hanya separuh benar. Yang menuju senja adalah model bisnis media lama.
Dahulu perusahaan media menguasai konten sekaligus distribusinya. Surat kabar mempunyai mesin cetak dan jaringan distribusi. Televisi memiliki frekuensi. Radio memiliki gelombang. Internet memisahkan keduanya.
Media masih membuat konten, tetapi distribusinya semakin dikuasai Google, YouTube, Facebook, Instagram dan TikTok. Uang kemudian mengikuti distribusi. Media pun mencari jalan lain: subscription, membership, branded content, event, intellectual property, creator economy, merchandise hingga commerce.
Media tidak lagi cukup menjadi media. Media harus menjadi ekosistem.
Narasi sudah bergerak ke arah tersebut. Ada Mata Najwa, program video, event, komunitas dan kolaborasi brand. Karakter seperti inilah yang membuat Narasi menarik ketika artikel berita semakin sulit dimonetisasi.
Apakah Ada Politik?
Setiap kali konglomerasi mengambil alih media, pertanyaan mengenai independensi redaksi hampir selalu muncul. Pertanyaan itu sah. Narasi memproduksi jurnalisme, membicarakan kekuasaan dan ikut membentuk percakapan publik. Najwa Shihab juga merupakan salah satu figur media paling dikenal di Indonesia.
Namun sejauh informasi publik yang tersedia, belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan pengambilalihan Narasi dilakukan Djarum untuk mengendalikan agenda editorial atau menjalankan kepentingan politik tertentu. Karena itu, terlalu dini mengatakan Najwa menjadi corong kepentingan pemilik modal.
Yang lebih penting adalah melihat apa yang terjadi sesudah akuisisi. Apakah struktur redaksi berubah? Apakah independensi editorial tetap dipertahankan? Apakah posisi Najwa berubah? Apakah pilihan isu mengalami pergeseran? Dan apakah muncul integrasi bisnis dengan aset digital Djarum lainnya? Waktu yang akan menjawabnya.
Media sebagai Infrastruktur
Ada cara lain melihat transaksi ini. Dalam ekonomi digital, media dapat berfungsi sebagai infrastruktur perhatian. Konten mendatangkan manusia. Manusia membentuk komunitas. Komunitas menghasilkan hubungan. Hubungan membantu advertising dan commerce. Dari sana dapat berkembang event, intellectual property, entertainment dan berbagai bisnis lainnya.
Rantainya jauh lebih panjang daripada sekadar berita dan iklan. Konglomerasi mempunyai kemewahan yang tidak dimiliki banyak perusahaan media independen. Mereka tidak harus menuntut setiap media menghasilkan keuntungan maksimal sebagai entitas yang berdiri sendiri. Nilainya bisa muncul di tempat lain dalam ekosistem.
Jika tesis ini benar, Djarum tidak sedang membeli industri yang sekarat. Mereka membeli sesuatu yang tetap hidup setelah model bisnis media lama mati: audiens.
***
Di situlah Najwa kini berdiri. Di depannya ada kamera, percakapan publik dan jutaan orang yang mengenalnya sebagai jurnalis. Jauh di belakang kamera terdapat sebuah ekosistem bisnis yang ukurannya berkali-kali lipat lebih besar daripada Narasi.
Belum ada alasan untuk menyimpulkan bahwa asap Djarum akan mengubah apa yang dikatakan Najwa di depan kamera. Independensi jurnalistik tidak otomatis hilang hanya karena struktur kepemilikan berubah. Namun pertanyaan mengenai siapa pemilik media tetap penting, terutama ketika industri sedang mencari model bisnis baru.
Dahulu konglomerasi membeli koran dan televisi karena di sanalah masyarakat berkumpul. Hari ini masyarakat berkumpul di layar telepon genggam, mengikuti figur yang dipercaya, menonton video, bergabung dalam komunitas dan menghadiri event.
Perjalanan bisnis keluarga Hartono sendiri memperlihatkan perubahan itu: dari rokok menuju bank; dari perbankan menuju teknologi; dari teknologi menuju e-commerce dan travel; dari investasi digital menuju entertainment dan media.
Sekarang Narasi berada di dalam orbit tersebut.
Djarum bisa membeli kamera. Studio bisa dibangun. Teknologi bisa dikembangkan. Wartawan terbaik bisa direkrut. Tetapi ada sesuatu yang tidak dapat diproduksi sebuah konglomerasi dalam semalam: kepercayaan dan perhatian jutaan manusia.
Narasi telah mengumpulkannya selama bertahun-tahun. Najwa menjadi salah satu wajah terkuat dari kepercayaan tersebut. Maka pertanyaan setelah akuisisi ini bukan lagi sekadar mengapa Djarum membeli Narasi.
Pertanyaannya bergeser: setelah memiliki Narasi, Kumparan dan berbagai kepingan dalam ekonomi digital Indonesia, apa sebenarnya yang hendak dibangun Djarum?
Mungkin bukan kerajaan media seperti yang kita kenal pada masa lalu. Bisa jadi sesuatu yang lebih besar: sebuah ekosistem yang bergerak dari attention menuju transaction, dari orang yang menonton menuju orang yang berbelanja, bepergian, menikmati hiburan dan menggunakan berbagai layanan digital.
Untuk sementara, Najwa tetap berada di depan kamera. Lampu studio tetap menyala. Pertanyaan-pertanyaan tetap diajukan. Hanya saja kini, jauh di belakang panggung itu, berembus asap dari sebuah kerajaan bisnis yang jauh lebih besar.
