Anna Tsing, Friction, dan dan Dunia yang Terus Bergesekan


Hari ini saya membaca buku yang ditulis Anna Lowenhaupt Tsing lagi. Kali ini, pembacaan itu terasa berbeda.

Perjumpaan saya dengan antropolog ini sebenarnya sudah lama. Waktu kuliah di Antropologi Universitas Indonesia, saya membaca In the Realm of the Diamond Queen, yang diterjemahkan oleh Achmad Fedyani Saifuddin menjadi Di Bawah Bayang Ratu Intan.

Dari buku itu saya pertama kali mengenal cara Tsing memasuki dunia masyarakat Meratus di Kalimantan. Dia hadirkan pengalaman dekat, detail, tapi pada saat yang sama membawa kita untuk melihat bagaimana orang-orang yang jauh dari pusat kekuasaan memahami dunia dengan cara mereka sendiri.

Setelah itu saya membaca Friction: An Ethnography of Global Connection dalam bahasa Inggris. Tsing masih membawa kita ke Kalimantan, tapi percakapannya jadi jauh lebih luas. Dia bicara soal kapitalisme, hutan, aktivisme lingkungan, ilmu pengetahuan, pembangunan, sampai gagasan-gagasan besar yang bergerak melintasi batas negara.

Hari ini saya membaca ulang Friction, tapi dalam terjemahan Indonesia. Ada pengalaman yang agak personal ketika memegang versi ini. Penerjemahnya, Hasriady, kebetulan saya kenal. Kami sama-sama alumni Universitas Hasanuddin dan pernah berada di lingkungan sesama penerima beasiswa Ford. 

Dunia seperti berputar dengan cara yang menarik. Dulu saya membaca Tsing sebagai mahasiswa antropologi UI, lalu membacanya dalam bahasa Inggris, dan sekarang kembali kepadanya lewat bahasa Indonesia yang diterjemahkan seorang kawan.

Membaca buku yang sama dalam bahasa berbeda ternyata memberi pengalaman yang berbeda pula. Ada gagasan yang dulu terasa jauh dan akademik, kini terasa lebih dekat. Salah satunya pembahasan Anna Tsing soal universals, sesuatu yang universal.

Kita hidup dikelilingi kata-kata universal. Mulai pembangunan, kemajuan, demokrasi, kebebasan, kesejahteraan, konservasi, keberlanjutan. Kata-kata itu terdengar begitu baik sampai hampir tidak ada orang yang mau menentangnya.

Siapa yang tidak ingin pembangunan? Siapa yang menolak kesejahteraan? Siapa yang tidak ingin lingkungan diselamatkan?

Tapi Tsing mengingatkan bahwa sesuatu yang universal tidak pernah bergerak di ruang hampa. Konsep itu harus melakukan perjalanan.

Pembangunan yang dirumuskan di Jakarta harus tiba di sebuah kampung. Konservasi yang dibicarakan dalam konferensi internasional harus berhadapan dengan orang yang hidup dari hutan. Gagasan investasi hijau yang disusun di ruang rapat perusahaan harus bertemu dengan masyarakat yang tinggal di sekitar tambang.

Di situlah terjadi apa yang Tsing sebut sebagai friction, gesekan.

Saya suka metafora ini. Kendaraan bisa bergerak karena ada gesekan antara ban dan jalan. Tanpa gesekan, roda hanya berputar di tempat. Tapi gesekan juga bisa memperlambat, mengubah arah, bahkan menghentikan kendaraan.

Begitulah globalisasi bekerja. Yang global tidak pernah tiba di suatu tempat dalam keadaan utuh. Ia bertemu sejarah lokal, kebudayaan, birokrasi, kepentingan ekonomi, pengetahuan masyarakat, konflik, dan hubungan kekuasaan yang sudah lebih dulu ada. Dalam perjumpaan itulah gagasan universal diterjemahkan, dinegosiasikan, dimanfaatkan, dibelokkan, bahkan kadang dilawan.

"Pembangunan" di Jakarta belum tentu berarti hal yang sama ketika tiba di sebuah desa di Sulawesi. "Konservasi" bagi lembaga internasional belum tentu sama artinya bagi masyarakat yang selama beberapa generasi hidup dari hutan. 

"Investasi hijau" yang terdengar menjanjikan di ruang konferensi bisa terlihat sangat berbeda dari rumah seseorang yang berhadapan langsung dengan kawasan tambang.

Ketika membaca bagian-bagian itu, saya teringat antropolog lain: Tania Murray Li, khususnya bukunya The Will to Improve. Saya seperti mendengar suara yang sama dari Tsing dan Li.

Li menunjukkan bagaimana pembangunan bekerja bukan hanya lewat proyek, anggaran, atau aparat negara, tapi juga lewat pengetahuan. Salah satu gagasannya yang paling membekas bagi saya adalah rendering technical: bagaimana persoalan yang sebenarnya politis dibuat menjadi persoalan teknis.

Bayangkan sebuah kampung miskin. Kita bisa bertanya: Siapa yang menguasai tanah? Siapa yang memperoleh konsesi? Ke mana hasil hutan atau tambang mengalir? Siapa yang mendapat keuntungan paling besar?

Pertanyaan seperti itu segera membawa kita kepada kekuasaan.

Tapi pembangunan punya kemampuan luar biasa untuk mengubah pertanyaan. Kemiskinan diterjemahkan menjadi rendahnya produktivitas. Produktivitas rendah dijelaskan sebagai akibat kurangnya keterampilan. 

Kekurangan keterampilan membutuhkan peningkatan kapasitas. Masyarakat kemudian membutuhkan pelatihan, pendampingan, akses pembiayaan, penguatan kelembagaan, dan program pemberdayaan.

Bukan berarti semua program itu buruk. Pelatihan bisa berguna, pendampingan bisa membantu. Tapi Li mengajak kita memperhatikan sesuatu yang perlahan menghilang selama proses itu. Yang dimaksudnkannya adalah kekuasaan.

Pertanyaan "mengapa kami kehilangan tanah?" bisa berubah menjadi "bagaimana meningkatkan pendapatan masyarakat terdampak?"

Perubahan kalimat itu terlihat kecil, tapi sesungguhnya sangat politis. Bahasa pembangunan pun semakin teknis. Ada baseline survey, stakeholder mapping, capacity building, indikator kinerja, monitoring, evaluasi, dan sederet istilah yang lebih akrab bagi birokrat, konsultan, dan akademisi. 

Akhirnya terjadi sesuatu yang ironis. Orang yang kehidupannya hendak "diperbaiki" justru bisa menjadi orang yang paling asing terhadap bahasa yang dipakai untuk membicarakan kehidupannya sendiri. Di titik inilah Tsing dan Li seperti duduk di meja yang sama.

Tsing mengingatkan kita agar tidak begitu saja percaya pada sesuatu yang mengaku universal. Ikuti perjalanannya. Lihat apa yang terjadi ketika "pembangunan", "kemajuan", atau "keberlanjutan" tiba di suatu tempat.

Li seakan melanjutkan: setelah gagasan itu tiba, perhatikan siapa yang mendapat hak untuk mendefinisikan masalah. Siapa yang mengatakan masyarakat punya "masalah A" sehingga membutuhkan "program B"? Pengetahuan siapa yang dianggap sah? Persoalan apa yang menghilang ketika semuanya dijadikan persoalan teknis?

Keduanya membuat saya kembali memikirkan wajah kekuasaan. Kekuasaan tidak selalu datang membawa senjata. Kekuasaan bisa hadir dengan wajah yang jauh lebih ramah: seminar, proposal, survei, tabel, indikator, laporan konsultan, bahkan presentasi PowerPoint.

Kekuasaan bahkan bisa datang membawa niat baik. Orang-orang yang membawa pembangunan mungkin sungguh ingin memperbaiki kehidupan masyarakat. Itulah will to improve, kehendak untuk memperbaiki, yang dibicarakan Li.

Tapi siapa yang menentukan apa yang perlu diperbaiki?

Membaca Friction hari ini membawa ingatan saya ke Morowali. Saya pernah bertemu seorang warga lokal yang bercerita tentang perubahan kampungnya setelah industri nikel datang. Dulu dia menyambut tambang sebagai berkah. Ada pekerjaan, jalan, uang yang berputar, dan harapan tentang kehidupan yang lebih baik.

Bertahun-tahun kemudian, perasaannya berubah. Kampungnya sendiri mulai terasa asing. Dia terkenang masa ketika orang-orang saling mengenal dan ruang hidup di sekitarnya belum berubah secepat sekarang. Kemajuan memang datang, tapi bersamanya datang perubahan yang membuat seseorang tetap tinggal di tempat yang sama, namun perlahan merasa seperti orang asing.

Saya teringat Tsing.

Mungkin inilah friction dalam bentuknya yang paling nyata. Nikel dari Morowali masuk ke rantai industri dunia, bertemu investasi, teknologi, hilirisasi, kendaraan listrik, dan narasi besar mengenai masa depan ekonomi hijau. Semuanya bisa diterangkan lewat angka investasi, produksi, ekspor, pertumbuhan ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja.

Tapi ada sesuatu yang tidak mudah dimasukkan ke dalam tabel: perasaan seseorang yang melihat kampung tempat ia dilahirkan perlahan menjadi tempat yang tidak lagi dikenalnya.


Di situlah suara Tania Li kembali terdengar. Kita punya begitu banyak istilah untuk menjelaskan pembangunan, tapi warga yang saya temui itu tidak bicara tentang indikator, produktivitas, atau capacity building. Dia hanya sedang mengenang kampungnya.

Dunia kini semakin mengenal Morowali sebagai produsen baterai untuk mobil listrik. Tapi di tengah semua kemajuan itu, seorang warga justru sedang berusaha mengenali kembali kampungnya sendiri.

Saya rasa tugas ilmu sosial bukan sekadar menjelaskan bagaimana dunia berubah. Ilmu sosial juga perlu menjaga agar di tengah riuhnya kata-kata besar tentang pembangunan, investasi, dan kemajuan, kita masih sempat mendengar suara orang-orang yang mengajukan pertanyaan sederhana.

Di antara pertanyaan itu adalah: “Ketika semua ini selesai dibangun, apakah kami masih merasa berada di rumah?”