Guruh Sukarno dan Indonesia yang Tak Boleh Kehilangan Irama


Awal 1970-an. Di Amsterdam, seorang anak muda Indonesia memainkan gamelan di negeri yang pernah menjajah bangsanya. Namanya Guruh Soekarnoputra.

Ia datang ke Belanda untuk belajar arkeologi di Universiteit van Amsterdam. Namun, selama berada ribuan kilometer dari Jakarta, perhatiannya pada kebudayaan Indonesia malah semakin kuat. Guruh bergabung dengan lingkungan gamelan Jawa dan Bali serta ikut memperkenalkan kesenian Indonesia kepada orang-orang Eropa.

Episode Amsterdam ini menarik. Kita kadang baru melihat rumah dengan lebih jelas setelah meninggalkannya. Guruh pun demikian. Jarak dari Indonesia seakan memberinya kesempatan untuk melihat kembali negeri asalnya, sekaligus memikirkan satu persoalan yang kemudian berulang kali muncul dalam karya-karyanya: bagaimana menerima dunia modern tanpa kehilangan akar sendiri?

Kegelisahan itu tentu tidak muncul begitu saja. Guruh lahir di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Januari 1953. Nama lengkapnya Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, anak bungsu Soekarno dan Fatmawati. Nama ayahnya terlampau besar untuk dilepaskan dari perjalanan hidupnya. Namun, berada di bawah bayang-bayang nama besar itu tidak membuat Guruh sekadar menjadi "anak Bung Karno". Ia menemukan panggungnya sendiri.

Sejak kecil, Guruh sudah bersentuhan dengan tari, musik, dan berbagai tradisi Nusantara. Ia mempelajari tari Jawa, Sunda, dan Bali. Pada saat yang sama, piano dan musik Barat juga menjadi bagian dari masa pertumbuhannya. 

Semua itu berlangsung dalam lingkungan keluarga yang hampir setiap hari bersentuhan dengan pembicaraan tentang Indonesia, nasionalisme, kebudayaan, dan masa depan sebuah bangsa yang baru merdeka.

Ketika beranjak remaja pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, Guruh menyaksikan perubahan besar. Musik Barat mengalir semakin deras ke Indonesia. Rock menjadi bagian dari kehidupan anak muda. The Beatles, The Rolling Stones, Led Zeppelin, dan berbagai ikon musik dunia masuk ke ruang-ruang keluarga melalui radio dan piringan hitam.

Ia tidak menolak semua itu. Guruh sendiri menikmati dan mempelajari musik Barat. Yang membuatnya risau adalah kemungkinan generasi muda Indonesia begitu terpesona kepada dunia luar hingga kehilangan hubungan dengan kebudayaannya sendiri. 

Puluhan tahun kemudian, ketika mengenang masa tersebut, ia berkata, “Saya melihat generasi muda mulai kebarat-baratan. Mereka terhanyut dengan kebudayaannya yang membuat saya prihatin. Saya merasa sepertinya hal ini tidak bisa dibiarkan.”

Kegelisahan itu tidak dijawabnya dengan pidato panjang tentang nasionalisme. Ia memilih masuk ke studio dan membuat musik.

***

Dari kegelisahan itulah kemudian lahir Guruh Gipsy, salah satu eksperimen menarik dalam sejarah musik Indonesia. Guruh bekerja bersama sejumlah musisi muda berbakat seperti Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman. Mereka mempertemukan progressive rock dengan gamelan Bali serta berbagai unsur tradisi Nusantara.

Eksperimen tersebut cukup radikal untuk zamannya. Synthesizer, gitar elektrik, dan berbagai idiom musik Barat bertemu dengan gamelan. Alih-alih mempertentangkan Barat dan Timur, Guruh menaruh keduanya dalam komposisi yang sama. Ia memperlihatkan bahwa modernitas dan tradisi tidak harus saling menyingkirkan.

Apa yang dilakukannya punya konteks lebih panjang dalam perjalanan kebudayaan Indonesia. Indonesianis Jennifer Lindsay, yang banyak meneliti seni pertunjukan Indonesia, pernah menggambarkan bagaimana diplomasi kebudayaan negeri ini sejak masa awal republik berusaha menghadirkan Indonesia sebagai bagian dari “a new, young and moving world”—dunia baru, muda, dan terus bergerak.

Guruh seperti menemukan jalannya sendiri menuju gagasan tersebut. Baginya, gamelan tidak harus menjadi benda yang dikagumi dari kejauhan atau disimpan sebagai warisan masa lalu. Ia bisa dibawa ke studio, dipertemukan dengan synthesizer dan rock, lalu berbicara kepada generasi yang berbeda.

Salah satu contoh paling menarik terdapat dalam Chopin Larung. Di sana, Guruh mempertemukan nama besar musik klasik Eropa dengan kegelisahannya terhadap kebudayaan Indonesia. Ada sepenggal kalimat, “Nanging Chopin nenten ngugu...” Permainan itu terasa nakal sekaligus cerdas. Ia menggunakan bahasa musik Barat untuk membicarakan derasnya pengaruh Barat, seakan hendak mengatakan bahwa kita boleh mengagumi Chopin tanpa harus melupakan gamelan.

***

Perjalanan Guruh tidak berhenti di studio. Pada 1977, ia mendirikan Swara Maharddhika. Musik, tari, kostum, koreografi, dan tata panggung disatukan dalam pertunjukan besar. Dari lingkungan ini kemudian tumbuh dan bersinggungan sejumlah nama yang kelak dikenal luas dalam dunia hiburan Indonesia.

Sekarang kita mungkin menyebut apa yang dilakukannya sebagai membangun ekosistem kreatif. Pada masa itu, istilah tersebut belum menjadi bahasa populer. Guruh hanya mengerjakannya.

Karya-karyanya pun terus mengalir: "Gita Cinta", "Galih dan Ratna", "Renjana", "Lenggang Puspita", "Zamrud Khatulistiwa", hingga "Kembalikan Baliku". Lagu terakhir menarik karena kegelisahan mengenai identitas kebudayaan terlihat cukup terang di sana. Bali sedang berubah akibat pariwisata, modernisasi, dan kepentingan ekonomi. Guruh menangkap perubahan itu melalui lagu.

Ada benang yang terus muncul dalam perjalanan tersebut: ketika dunia datang begitu deras, apa yang harus kita pertahankan dan apa yang boleh berubah?

Pertanyaan itu rupanya tidak pernah benar-benar meninggalkannya, bahkan setelah Guruh masuk ke dunia politik dan selama bertahun-tahun duduk sebagai anggota DPR. Pada 2024 ia mengatakan, “Generasi ini makin banyak yang tidak mengenal Indonesia dan ke-Indonesia-an.” Kalimat tersebut seperti membawa kita kembali kepada kegelisahannya pada masa muda.

Pada 2026, ketika berbicara tentang kemerdekaan dan generasi muda, Guruh kembali menyinggung soal regenerasi. “Harapan saya, karya seni bisa memotivasi generasi muda agar menjadi penerus bangsa yang bermutu dan berdaya,” katanya.

Beberapa bulan kemudian, pada Sabtu pagi, 26 September 2026, Guruh Soekarnoputra meninggal dunia di Jakarta dalam usia 73 tahun.

***

Kepergian Guruh membuat karya dan kegelisahannya layak dibaca kembali. Apalagi dunia yang kita hadapi hari ini jauh berbeda dengan dunia yang dihadapinya pada awal 1970-an.

Dulu, pengaruh kebudayaan asing datang melalui piringan hitam, radio, majalah, bioskop, dan televisi. Sekarang seluruh dunia masuk melalui layar yang kita genggam sepanjang hari. Seorang anak di Makassar, Jakarta, Baubau, atau Jayapura dapat mendengarkan K-pop, menonton serial Amerika, mengikuti anime Jepang, dan mengetahui tren terbaru dari Eropa dalam satu sore. TikTok, YouTube, Instagram, dan Spotify membuat batas-batas kebudayaan semakin tipis.

Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Guruh sendiri justru memperlihatkan betapa perjumpaan dengan dunia luar dapat menghasilkan kreativitas. Ia mengenal musik Barat, mempelajarinya, lalu mempertemukannya dengan tradisi Indonesia.

Yang menjadi soal adalah ketika kita berhenti mengenali apa yang kita miliki sendiri.

Di titik ini, pemikiran Guruh terasa tetap relevan. Ia tidak menawarkan gagasan agar Indonesia menutup pintu dari pengaruh dunia luar. Cara berkaryanya justru menunjukkan hal sebaliknya. Pintu boleh dibuka selebar-lebarnya, tetapi ketika tamu dari berbagai penjuru masuk, pemilik rumah sebaiknya tetap mengenali rumahnya sendiri.

Mungkin karena itulah gamelan bisa bertemu synthesizer di tangannya. Tradisi tidak perlu disimpan dalam lemari agar tetap dianggap asli. Ia bisa disentuh, ditafsirkan ulang, bahkan dipertemukan dengan sesuatu yang datang dari tempat yang sangat jauh.

***

Ada hal lain yang membuat perjalanan Guruh menarik ketika diletakkan berdampingan dengan ayahnya. Soekarno percaya kepada kekuatan kata-kata. Ia berdiri di podium dan berbicara tentang revolusi, kolonialisme, persatuan, kemerdekaan, dan masa depan Indonesia. Pidato adalah salah satu panggung terbesarnya.

Putra bungsunya tumbuh dengan bahasa yang lain. Panggung Guruh dipenuhi penari, gamelan, piano, kostum, cahaya, dan musik. Jika Soekarno berusaha menjelaskan Indonesia melalui pidato dan politik, Guruh mencoba membuat orang merasakan Indonesia melalui bunyi dan gerak.

Jalan mereka berbeda, tetapi ada satu pertanyaan yang mempertemukannya: sebenarnya, apa itu Indonesia?

Soekarno pergi pada 1970. Fatmawati menyusul sepuluh tahun kemudian. Kini Guruh pun menyelesaikan perjalanannya. Sementara itu, Indonesia yang mereka kenal terus berubah. Generasi berganti, teknologi berkembang, musik berubah, dan selera bergerak ke arah yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan.

Karena itu, kepergian Guruh rasanya terlalu sayang jika hanya diperingati dengan nostalgia terhadap lagu-lagu lama atau kemegahan Swara Maharddhika. Ada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan kita sekarang. Ketika anak-anak Indonesia tumbuh dalam arus kebudayaan global, siapa yang membuat mereka jatuh cinta kepada kebudayaan negerinya sendiri?

Barangkali kita memang tidak membutuhkan penjaga kebudayaan yang sibuk berdiri di depan pintu dan melarang dunia masuk. Kita lebih membutuhkan orang-orang seperti Guruh yang cukup percaya diri membawa kebudayaannya keluar rumah, mempertemukannya dengan dunia, lalu mengolah perjumpaan itu menjadi sesuatu yang baru.

Dari Istana Merdeka ke Amsterdam, dari studio Guruh Gipsy ke panggung Swara Maharddhika, perjalanan hidupnya dapat dibaca sebagai pencarian panjang tentang Indonesia.

Kini Guruh telah meninggalkan panggung. Namun satu pertanyaan yang dibawanya sejak muda masih tinggal bersama kita: Ketika dunia semakin seragam, masihkah kita mengenali irama kita sendiri?