Proklamasi dan Revolusi yang Memangsa Anak-Anaknya


Bertahun-tahun setelah revolusi berakhir, sejarawan Australia Robert Cribb datang menelusuri jejak kekerasan di Jakarta dan sekitarnya. 

Ia mendatangi tempat-tempat yang pernah menjadi wilayah kekuasaan para jagoan, berbicara dengan orang-orang yang masih menyimpan ingatan tentang masa ketika republik baru saja lahir, dan mengikuti kisah-kisah yang nyaris tenggelam dari sejarah resmi. 

Di antara kisah itu terdapat cerita tentang sungai dan kanal yang menjadi tempat pembuangan mayat orang-orang Tionghoa dan Eropa yang dibunuh dalam kekacauan revolusi. Dalam ingatan sebagian saksi, air bahkan digambarkan memerah oleh darah.

Cribb sedang mencari wajah lain dari sebuah revolusi yang selama ini lebih sering kita kenang melalui kisah kepahlawanan.

Hasil penelusurannya kemudian hadir dalam Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People's Militia and the Indonesian Revolution, 1945–1949, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945–1949. 

Buku itu membawa kita ke lorong-lorong yang jarang dimasuki buku sejarah sekolah. Di sana tidak hanya ada Sukarno, Hatta, Sjahrir, atau para pemuda yang mempertahankan kemerdekaan. Ada pula jagoan, bandit, pemimpin laskar, kelompok bersenjata, dan orang-orang yang menemukan peluang di tengah runtuhnya kekuasaan lama.

Mereka semua hidup pada sebuah masa ketika batas antara kepahlawanan dan kejahatan terkadang begitu tipis.

Kita memang terbiasa mengenang 17 Agustus 1945 sebagai sebuah garis yang terang. Sukarno dan Mohammad Hatta membacakan Proklamasi, Merah Putih dikibarkan, lalu sebuah bangsa lahir. Setiap tahun kita mengulang kembali ingatan itu melalui upacara, lagu kebangsaan, perlombaan, dan kisah para pahlawan.

Namun sejarah tidak pernah bergerak selurus itu.

Beberapa bulan setelah Proklamasi, darah masih mengalir di banyak tempat. Sebagiannya adalah darah para pejuang yang menghadapi tentara asing yang hendak mengembalikan kekuasaan kolonial. Tetapi sebagian lainnya adalah darah orang-orang yang dibunuh oleh sesama penghuni negeri yang baru merdeka. 

Ada bangsawan yang dibunuh karena dianggap feodal, pejabat yang dihukum karena dicurigai sebagai kaki tangan kolonial, warga sipil yang menjadi sasaran karena identitasnya, hingga pejuang yang akhirnya berhadapan dengan sesama pejuang.

Republik sudah diproklamasikan, tetapi negara belum sepenuhnya hadir.

Jepang menyerah, Sekutu datang, dan Belanda hendak kembali. Pada saat bersamaan, pemuda-pemuda merebut senjata dan berbagai laskar bermunculan. Sebagian tunduk kepada pemerintah, sebagian bergerak sendiri. Di tengah kekacauan itulah batas antara pejuang, jagoan, bandit, dan orang yang memanfaatkan revolusi menjadi kabur.

Cribb memperlihatkan paradoks tersebut dengan sangat menarik. Republik membutuhkan energi para pemuda, laskar, dan jagoan untuk mempertahankan dirinya. Tetapi ketika negara mulai terbentuk, sebagian kekuatan yang sebelumnya membantu revolusi justru harus ditertibkan oleh republik.

Di situlah sisi gelap sebuah revolusi mulai terlihat. Revolusi membuka pintu bagi keberanian dan patriotisme, tetapi melalui pintu yang sama dapat masuk dendam, oportunisme, kriminalitas, dan kekerasan. Terkadang, revolusi bahkan berbalik memangsa orang-orang yang ikut melahirkannya.

Darah Seorang Penyair

Salah satu kisah paling memilukan datang dari Sumatra Timur.

Amir Hamzah kita kenal sebagai penyair besar Pujangga Baru. Tetapi ia juga bangsawan Melayu dari Langkat. Identitas yang sebelumnya merupakan privilese itu berubah menjadi ancaman ketika revolusi sosial meledak pada 1946.

Anthony Reid merekam periode tersebut dalam The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra. Revolusi di Sumatra ternyata bukan hanya pergulatan melawan Belanda. Persoalan tanah, perkebunan, ketimpangan sosial, kekuasaan bangsawan, dan dendam lama ikut meledak bersama revolusi.

Amir Hamzah berada di tengah pusaran itu. Ia bangsawan, tetapi juga nasionalis. Ia bagian dari kerajaan Melayu, tetapi sekaligus ikut membangun kebudayaan Indonesia modern.

Namun revolusi sering tidak mempunyai cukup waktu untuk membaca biografi seseorang secara lengkap. Manusia dipadatkan menjadi satu kata: feodal, bangsawan, mata-mata, pengkhianat, kiri, kanan, republik, atau kontra-revolusi. Begitu sebuah cap dilekatkan, manusia di belakangnya perlahan menghilang. Yang tersisa adalah kategori, dan kategori jauh lebih mudah dibenci daripada manusia.

Amir Hamzah akhirnya menjadi korban revolusi sosial Sumatra Timur. Seorang penyair yang ikut membayangkan Indonesia kehilangan nyawa ketika Indonesia yang dibayangkannya baru saja lahir.

Kemerdekaan telah datang, tetapi kemerdekaan tidak selalu membawa keselamatan.

Revolusi Turun ke Kampung

Pergolakan serupa terjadi di Brebes, Tegal, dan Pemalang dalam Peristiwa Tiga Daerah. Anton Lucas mengkajinya dalam One Soul One Struggle: Region and Revolution in Indonesia. Ia memperlihatkan revolusi dari bawah. 

Bagi sebagian rakyat, kemerdekaan bukan hanya mengusir Belanda, tetapi juga kesempatan membongkar struktur sosial lama. Kemarahan pun diarahkan kepada pejabat dan elite lokal yang dianggap bagian dari penindasan sebelumnya.

Apakah itu revolusi, perjuangan kelas, kriminalitas, atau pembalasan dendam? Barangkali semuanya bercampur menjadi satu.

Kekerasan juga menimpa warga sipil yang dianggap dekat dengan tatanan kolonial. Orang Indo-Eropa, Belanda, Ambon, Tionghoa, dan kelompok lain dalam situasi tertentu menjadi sasaran. Sebagian periode itu kemudian dikenang dalam historiografi Belanda dengan istilah Bersiap, istilah yang hingga kini masih diperdebatkan.

Mengakui kekerasan tersebut tidak berarti membenarkan kolonialisme. Belanda memang hendak kembali dan bangsa Indonesia berhak mempertahankan kemerdekaannya. Tetapi mengecam kolonialisme tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap kekejaman yang dilakukan sebagian orang Indonesia.

Sejarah bukan pertandingan sepak bola yang mengharuskan kita membela semua tindakan kesebelasan sendiri. Kita bisa mengatakan perjuangan kemerdekaan itu benar tanpa harus mengatakan semua tindakan atas nama perjuangan juga benar.

Tan Malaka dan Ironi Republik

Semakin lama revolusi berlangsung, musuh republik bukan lagi hanya Belanda. Di dalam republik sendiri terjadi pertarungan tentang jalan yang harus ditempuh. Ada yang memilih diplomasi, ada yang menginginkan perjuangan tanpa kompromi. Ada tentara reguler, laskar, nasionalis, sosialis, komunis, dan kelompok Islam. Masing-masing membawa bayangan tentang Indonesia.

Di tengah pertarungan itulah berdiri Tan Malaka.

Jauh sebelum Proklamasi, Tan Malaka sudah membicarakan republik melalui Naar de Republiek Indonesia. Ketika Republik Indonesia belum ada, republik itu sudah hidup dalam pikirannya. Ia kemudian menjalani sebagian besar hidup sebagai pelarian politik, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, menggunakan nama samaran, dan menghindari intelijen kolonial.

Indonesia baginya mula-mula adalah gagasan. Kemudian gagasan itu menjadi kenyataan.

Namun hubungannya dengan republik tidak pernah sederhana. Tan Malaka menganggap pemerintah terlalu mudah berkompromi dengan Belanda. Ia terlibat dalam Persatuan Perjuangan dan kemudian mendirikan Partai Murba. Konflik politik dan militer akhirnya menyeretnya semakin dalam ke pusaran revolusi.

Sejarawan Harry A. Poeze menelusuri perjalanan itu dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Pada Februari 1949, Tan Malaka akhirnya dieksekusi oleh unsur tentara Republik di Jawa Timur.

Di sinilah sejarah seperti sedang memainkan ironi yang kejam.

Tan Malaka bertahun-tahun dikejar pemerintah kolonial karena menginginkan Indonesia merdeka. Ia berpindah dari satu negara ke negara lain dan menggunakan berbagai identitas untuk menghindari penangkapan. Ia selamat dari pengejaran kolonial.

Tetapi setelah republik yang diperjuangkannya lahir, ia justru tidak selamat dari konflik di dalam republik itu sendiri.

Bertahun-tahun setelah kematiannya, Tan Malaka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Republik yang dahulu gagal melindunginya kemudian memuliakan namanya.

Mengingat Bagian yang Gelap

Tentu mudah bagi kita sekarang menghakimi manusia yang hidup pada 1945. Kita sudah mengetahui bagaimana cerita berakhir. Mereka tidak. Mereka tidak tahu apakah republik akan bertahan. Belanda hendak kembali, senjata beredar, pemerintahan belum kokoh, sementara desas-desus bergerak lebih cepat daripada informasi.

Dalam keadaan seperti itu, batas antara patriotisme dan kebencian, perjuangan dan kejahatan, menjadi mudah kabur.

Robert Cribb menunjukkan kerumitan itu melalui para jagoan Jakarta. Anton Lucas menemukannya dalam Peristiwa Tiga Daerah. Anthony Reid melihatnya dalam revolusi sosial Sumatra. 

Harry Poeze menemukannya dalam perjalanan tragis Tan Malaka. Mereka mengingatkan kita bahwa revolusi Indonesia bukan hanya kisah orang baik melawan orang jahat. Revolusi adalah kisah manusia yang hidup ketika hampir semua kepastian sedang runtuh.

Setiap 17 Agustus kita tentu boleh mengenang pagi di Pegangsaan Timur 56. Kita perlu mengingat Sukarno membaca Proklamasi, Fatmawati menjahit Merah Putih, dan para pemuda mempertaruhkan nyawa. Bangsa membutuhkan pahlawan.

Tetapi bangsa juga membutuhkan keberanian untuk memasuki ruang gelap sejarahnya sendiri.

Di ruang itu ada Amir Hamzah. Ada korban-korban revolusi sosial yang namanya tidak pernah kita ketahui. Ada warga sipil yang dibunuh karena dianggap berada dalam kelompok yang salah. Dan ada Tan Malaka, lelaki yang membayangkan republik jauh sebelum republik berdiri, tetapi akhirnya mati di tangan tentara republik sendiri.

Mengakui mereka tidak mengecilkan kemerdekaan. Justru dari mereka kita belajar bahwa cita-cita yang mulia tidak otomatis membuat semua tindakan atas namanya menjadi mulia.

Chairil Anwar seperti memberi suara kepada mereka yang mati pada zaman revolusi ketika menulis dalam Karawang-Bekasi: “Kami cuma tulang-tulang berserakanT api adalah kepunyaanmu.”

Tulang-tulang itu tidak semuanya jatuh dengan cerita yang sederhana. Ada yang ditembak musuh, ada yang menjadi korban dendam sosial, dan ada pula yang mati di tangan orang-orang yang sama-sama meneriakkan kemerdekaan.

Maka tugas kita bukan memutihkan sejarah, bukan pula menghitamkannya. Tugas kita adalah mengingatnya secara utuh. Barangkali karena itulah kalimat Chairil terdengar seperti pesan yang dikirimkan dari tahun-tahun revolusi kepada kita yang hidup delapan puluh tahun kemudian:“ Kenang, kenanglah kami.”

Kita mengenang mereka bukan untuk membuka kembali dendam lama, melainkan agar memahami bahwa revolusi memang dapat melahirkan sebuah bangsa. Tetapi sejarah juga memberi peringatan: ketika kebencian mengambil alih akal sehat, revolusi dapat memangsa anak-anaknya sendiri.