Ariel Heryanto


Di era reformasi, saya pertama kali membaca catatan Ariel Heryanto di Kompas. Catatannya selalu asyik dan menyegarkan. Bukunya yang pertama saya baca adalah Perlawanan dalam Kepatuhan. Entah di mana buku itu kini.

Pada tulisan Ariel, saya menemukan sesuatu yang berbeda. Biasanya, orang yang mengaku intelektual Indonesia menulis dengan bahasa rumit dan berlapis-lapis istilah. “Biar dikira pintar,” kata seorang teman. Ada anggapan, semakin sulit dipahami sebuah tulisan, semakin tinggi pula kadar kecerdasannya.

Tapi Ariel menulis dengan sederhana, apa adanya. Padahal beliau profesor di kampus besar di Australia. Tulisannya mudah dipahami, bahkan oleh mereka yang baru mulai membaca buku-buku pengantar. Yang menarik, ia selalu membahas hal-hal yang sedang menjadi percakapan publik.

Saya ingat salah satu tulisannya yang cukup lama mengendap di pikiran. Kalau tak salah, ia membahas Nadine Chandrawinata. Saat itu, di panggung Miss Universe, Nadine berbicara dalam bahasa Inggris yang terbata-bata.

Media sosial langsung pecah. Nadine dicaci habis-habisan. Ia dianggap bodoh, tidak layak mewakili Indonesia, bahkan dituduh mempermalukan bangsa karena tidak fasih berbahasa Inggris.

Ariel melihatnya dari sudut yang sama sekali berbeda.

Ia tidak ikut mencaci. Justru ia membela Nadine. Menurutnya, wajar saja Nadine tidak fasih berbahasa Inggris. Itu bukan bahasa ibunya. Justru karena tidak fasih, ia merepresentasikan kenyataan banyak orang Indonesia. Dan keberaniannya berbicara di panggung dunia dengan segala keterbatasan itu menunjukkan betapa Indonesianya dia.

Saya terkesima.

Dari situ saya belajar tentang pentingnya sudut pandang. Dalam dunia akademik, ini disebut standpoint atau titik pijak. Di tengah arus opini mayoritas yang mengalir deras seperti air bah, selalu penting untuk berhenti sejenak, mengambil jarak, lalu melihat persoalan dari sisi yang lain.

Saya belajar bahwa pandangan arus utama tidak selalu benar. Kadang yang paling ramai justru yang paling dangkal. Diperlukan kejernihan untuk melihat sesuatu yang tersembunyi di balik kesepakatan massal.

Cara pandang Ariel terasa relevan hingga hari ini. Setiap hari kita menyaksikan bagaimana negara, kementerian, buzzer, dan para penikmat kekuasaan membangun berbagai wacana yang kemudian diterima begitu saja sebagai kebenaran.

Beberapa waktu lalu, saya melihat seorang pengamat hukum dicaci karena menyampaikan pendapat yang berbeda. Seorang menteri bahkan mempertanyakan kompetensinya membahas pertanian karena latar belakangnya bukan pertanian.

Logika itu terdengar masuk akal. Sampai kita menggunakannya secara konsisten. Sebab jika kompetensi menjadi syarat mutlak untuk berbicara, maka pertanyaan yang sama semestinya diajukan kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang memegang kekuasaan. 

Bagaimana mungkin seseorang yang sepanjang hidupnya dididik untuk strategi militer, baris-berbaris, menembak, dan merayap di bawah kawat duri, tiba-tiba dianggap otomatis kompeten mengelola persoalan tata negara, ekonomi, hukum, pendidikan, hingga pertanian?

Di situlah sering kali kita menemukan standar ganda. Kompetensi dipakai sebagai senjata untuk membungkam kritik, tetapi dilupakan ketika menyangkut orang yang sedang berkuasa.

Mungkin itulah yang paling saya sukai dari Ariel Heryanto. Ia tidak menawarkan cara pandang yang membuat kita merasa lebih hebat. Ia justru mengajak kita melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

Catatan-catatan Ariel ibarat cermin. Bukan cermin yang sudah diberi filter, pencahayaan yang diatur, atau wajah yang dipoles dengan berbagai lapisan skincare. Melainkan cermin biasa yang memperlihatkan diri kita apa adanya.

Di sana ada jerawat, ada kerutan, ada coreng-moreng yang selama ini ingin kita sembunyikan. Tapi justru itulah diri kita yang sesungguhnya.

Seperti Nadine yang terbata-bata berbahasa Inggris. Banyak orang melihatnya sebagai kekurangan. Ariel melihatnya sebagai kejujuran. 

Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang pandai berpura-pura menjadi orang lain, melainkan bangsa yang berani menjadi dirinya sendiri.

Dan mungkin, pelajaran paling penting dari semua itu adalah: sebelum sibuk menilai orang lain, sesekali bercerminlah. Lihat wajah kita apa adanya. Tanpa filter. Tanpa skincare.