Revrisond Baswir
Sudah lebih dari dua dekade saya membaca tulisan-tulisan Revrisond Baswir tentang ekonomi politik. Namanya berulang kali saya jumpai di koran, jurnal, dan berbagai forum diskusi. Anehnya, selama itu pula saya tak pernah benar-benar memperhatikan siapa pemilik nama akadmisi dan pemikir ekonomi dari UGM ini.
Entah mengapa, saya selalu membayangkan Revrisond Baswir sebagai seseorang yang memiliki darah asing. Nama depannya terdengar tidak lazim di telinga saya. Sedikit kebarat-baratan. Saya membayangkan sosok bule yang kebetulan fasih berbicara mengenai Indonesia.
Karena itu, ketika akhirnya bertemu langsung dengannya di Makassar, saya cukup terkejut. Revrisond ternyata asli Minang, lahir di Payakumbuh. Tak ada sedikit pun kesan kebule-bulean. Bahkan gaya bicaranya lebih mirip orang Indonesia Timur: santai, hangat, dan gemar melontarkan candaan. Saya pun mulai penasaran. Dari mana sebenarnya nama itu berasal?
Seorang teman yang duduk di samping saya berbisik, "Orang Minang memang suka memberi nama yang unik." Saya tertawa kecil. Masa iya?
Dia lalu menyebut beberapa nama: Philips J. Vermonte, Faldo Maldini, Jeffrie Geovanie, hingga Jefri Nichol. Nama-nama yang terdengar seperti gabungan berbagai belahan dunia.
Menurut teman itu, fenomena tersebut bukan hal baru. Ada konteks sejarah yang melatarbelakanginya. Setelah masa PRRI, banyak keluarga Minang mulai bereksperimen dengan penamaan. Nama-nama Barat muncul sebagai bentuk kreativitas, adaptasi budaya, sekaligus cara menegosiasikan identitas di lingkungan yang terus berubah.
Penjelasan itu membuat rasa ingin tahu saya semakin besar. Mumpung berhadapan langsung dengan Revrisond, saya pun bertanya."Pak, sebenarnya nama Revrisond itu dari mana?" Ia tersenyum.
"Nama saya itu singkatan dari Revolusi Republik Indonesia Sound," katanya.
Saya sempat mengernyit, memastikan tidak salah dengar. "Nama itu dibuat ayah saya untuk merekam konteks zaman yang sedang terjadi ketika saya lahir."
Revrisond lahir pada 1958, ketika gejolak PRRI/Permesta masih membekas kuat di Sumatera dan Sulawesi. Indonesia sedang berada dalam salah satu fase politik paling bergolak setelah kemerdekaan.
"Dari penamaan itu yang mungkin ingin ditangkap bukan substansi peristiwanya," lanjutnya. "Tapi suasananya. Mungkin ketika itu banyak suara tembakan. Saya tidak tahu apakah juga banyak ledakan bom. Yang jelas ada suasana yang ingin direkam."
Saya terdiam sejenak. Ternyata nama itu bukan sekadar rangkaian bunyi yang terdengar unik. Ia adalah kapsul waktu. Sebuah cara seorang ayah menyimpan ingatan sejarah ke dalam identitas anaknya.
Namun, kisah nama itu tidak berhenti di situ. Saat mulai belajar bahasa Inggris di sekolah dasar, Revrisond menghadapi persoalan yang tak pernah diperkirakan ayahnya.
"Teman-teman langsung tahu bagian belakang nama saya itu sound," katanya sambil tertawa. "Lalu saya dipanggil Sound... Sound... dengan logat bahasa Inggris. Saya kurang nyaman."
Akhirnya ia mengambil keputusan sendiri. Huruf "u" dalam Revrisound dihapus."Di generasi saya belum ada akta kelahiran seperti sekarang. Jadi perubahan nama lebih mudah. Di rapor saya ubah sendiri menjadi Revrisond. Sampai sekarang tetap begitu."
Ia kembali tertawa saat menceritakan pengalaman lain. "Banyak orang salah menyebut nama saya. Di Yogya saya sering dipanggil Revrisono."
Saya menyimak ceritanya sambil membandingkan dengan pengalaman masyarakat Buton. Rupanya, orang Minang tidak sendirian.
Di Buton, nama-nama Jawa juga bermunculan sejak dekade 1970-an. Salah satu sebabnya adalah adanya stigma yang pernah beredar bahwa Buton merupakan basis PKI. Stigma itu hidup cukup lama dan memengaruhi cara sebagian orang memandang identitas kebutonan
Dalam situasi seperti itu, banyak keluarga memilih nama-nama yang terdengar lebih umum, terutama nama Jawa yang ketika itu identik dengan pusat kekuasaan dan birokrasi negara.
Saya juga mendengar kisah sejumlah orang Buton yang merantau ke kawasan timur Indonesia. Ketika melamar pekerjaan atau mengikuti seleksi pegawai negeri, mereka memilih menggunakan nama yang terdengar Jawa. Bukan karena ingin meninggalkan identitas asalnya, melainkan karena berharap lebih mudah diterima dalam lingkungan birokrasi Orde Baru, yang masa itu familiar dengan nama jawa, seperti Harmoko, Suharto, Subroto, juga Prabowo.
Nama, pada akhirnya, bukan hanya urusan keluarga. Ia sering kali menjadi strategi untuk bernegosiasi dengan sejarah, kekuasaan, dan prasangka.
Saya kemudian teringat pada kajian antropologi tentang nama. Pierre Bourdieu pernah menyebut nama sebagai bentuk modal simbolik. Nama bukan sekadar penanda individu, melainkan sesuatu yang membawa berbagai makna sosial. Orang sering kali menilai latar belakang, etnis, kelas sosial, bahkan pendidikan seseorang hanya dari namanya.
Sementara antropolog Amerika David S. Slater melihat nama sebagai artefak sosial yang menyimpan jejak sejarah, harapan keluarga, identitas budaya, dan pengalaman kolektif suatu masyarakat.
Karena itu saya menyukai cerita Revrisond Baswir.
Di balik nama yang terdengar unik, tersimpan rekaman sebuah zaman yang penuh gejolak. Ada pemberontakan, ada suara tembakan, ada harapan seorang ayah, ada pengalaman seorang anak yang diejek teman-temannya, lalu ada keputusan untuk mengubah satu huruf demi kenyamanan hidup.
Nama sering kali menjadi ruang perjumpaan antara identitas dan sejarah. Nama-nama Jawa, nama-nama Arab, nama-nama modern, semuanya menyimpan cerita tentang bagaimana orang-orang berusaha menempatkan diri di tengah perubahan zaman.
Mungkin itulah sebabnya nama selalu menarik untuk ditelusuri. Ia bukan sekadar cara kita memanggil seseorang.
Nama adalah arsip kecil yang dibawa ke mana-mana. Kadang-kadang, sejarah sebuah bangsa diam-diam bersembunyi di dalam beberapa suku kata.
Pertanyaan akhir, kenapa ayah saya memberi nama Yusran “Ganteng” Darmawan”? Sepertinya butuh satu pitcher bir, malam yang syahdu, serta beberapa ladies yang manis manja dan merajuk untuk minta jawaban.
