Saat MoU dengan Jurnal Prisma


Saya ingat persis, di perpustakaan Unhas tahun 2000-an, saya menemukan bundel jurnal Prisma terbitan LP3ES, tahun 1970-an. Saya terkesima membaca tulisan ilmu sosial kritis yang disajikan pada masa itu. Prisma adalah barometer intelektualitas di tanah air. 

Saking sukanya jurnal itu, saya selipkan di balik maju dan membawanya keluar tanpa izin. Itu pengalaman pertama menjadi maling. Eh, tiba di Asrama Mahasiswa Unhas, rupanya ada beberapa bundel Jurnal Prisma tahun 1980-an yang diselundupkan kawan saya Andri. 

Ada  rasa bersalah sebab menutup akses bagi banyak orang untuk tercerahkan.  Ada rasa berdosa, karena buku yag harusnya dibaca orang kok malah dikuasai sendiri.

Sekian puluh tahun berikutnya, saya kembali bertemu pengelola Prisma. Kali ini, saya diminta menandatangani MoU. kerjasama Pengalaman masa lalu muncul kembali. 

Saya bisikkan cerita itu ke Pemimpin Redaksi Prisma, Fajar Nur Sahid. Eh, dia tertawa terbahak-bahak. Dia mengakui terbatasnya akses publik untuk mendapatkan jurnal bergengsi itu.

“Kalau gitu, ayo kita kolaborasi,” katanya.

“Ayo.”