La Yusrie
Biasanya kami jumpa di Baubau, kadang di Jakarta, kali ini kami jumpa di kota anging mammiri. Pria itu, La Ode Yusrie, atau kerap disapa La Yusrie. Dia ke Makassar untuk satu satu riset budaya.
Sejak mengenalnya lebih 10 tahun lalu,, saya mengaguminya. Sejak dulu, dia tekun menulis segala hal tentang budaya Buton di berbagai platform media sosial. Dia juga rajin menjelajah ke kampung-kampung lalu membagikan amatannya terhadap budaya. Dia juga mengelola podcast bertemakan budaya dan sejarah.
Saya pernah merekrutnya untuk menulis buku mengenai cerita-cerita rakyat di Buton Selatan Kami menulis tentang local hero, dan kisah-kisah rakyat. Mulai kisah penyebar Islam, manusia yang menikah dengan buaya, hingga cerita-cerita makhluk halus.
Saya menikmati pengalaman bekerja dengannya. Bagi saya, La Yusrie adalah anak muda yang unik. Di Buton, ada banyak anak muda yang menggemari sejarah dan budaya, tapi kebanyakan hanya bermodal tula-tula atau cerita dari leluhur. La Yusri beda. Dia mendalami itu secara keilmuan, membaca teks dan dokumen, serta menjelaskannya kembali dari sisi filologi.
Kadang saya berpikir, apakah La Yusrie tidak berpikir untuk menjadi kaya-raya dan hidup tajir sebagaimana mimpi anak muda lain?
Dalam pertemuan semalam, saya mendapatkan pandangan lain. Dia bercerita mengenai elite politik yang pulang kampung untuk menelusuri masa lalunya. Nah, banyak di antara mereka yang mencari La Yusrie untuk menelusuri silsilahnya. Rupanya ini menjadi peluang bisnis. Sebab mereka rela membayar mahal.
Siapa saja kliennya? Dia menyebut banyak tokoh. Mulai dari kepala daerah, pejabat negara, hingga anggota DPR RI. Bahkan setahun lalu, ada seorang menteri yang meminta La Yusrie menelusuri silsilahnya di tanah Buton, sebab sejak kecil, menteri itu telah merantau ke Banda, lalu Fakfak, kemudian Jayapura.
Saya penasaran. La Yusrie senyum- senyum melihat kebingungan saya. Tetiba, ada telepon masuk di HP teman di sebelah. Ringtone-nya berbunyi: “Buah apa yang paling manis?
Diakah?


