Antropologi Kuliner Buton, Mencari Makna di Meja Makan


Di sebuah sudut Kota Ambon, pagi baru saja bergerak. Dari dapur sebuah rumah sederhana milik keluarga perantau Buton, aroma ikan bakar perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan harum teh panas yang baru diseduh.

Di atas meja kayu, sepiring kasoami telah tersaji. Bentuknya kerucut, putih kekuningan, mengepulkan uap tipis.  Di sampingnya terletak sambal colo-colo, sepotong ikan bakar, dan piring-piring kecil yang menunggu disentuh. Suasana itu terasa biasa, nyaris tanpa kemewahan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan sesuatu yang lebih besar: ingatan tentang tanah asal.

Bagi banyak keluarga Buton yang telah lama hidup di perantauan, dari Ambon hingga Ternate, dari Sorong hingga pesisir Merauke, makanan adalah penanda identitas yang paling setia. Makanan membawa mereka ke kampung halaman.

Rumah bisa berpindah, pekerjaan bisa berubah, bahkan generasi baru bisa tumbuh jauh dari kampung leluhur, tetapi rasa sering kali bertahan lebih lama daripada semuanya. 

Itulah sebabnya kasoami tetap hadir di meja makan. Bersamanya datang pula kapusu nasu, perpaduan jagung, kacang merah, dan santan yang mengenyangkan; lapa-lapa yang tak pernah absen pada hari raya; ikan parende dengan kuah segarnya; ikan dole yang ditumbuk bersama kelapa; hingga hugu-hugu, olahan singkong yang lahir dari teknik pengawetan tradisional . 

Semua itu membentuk satu lanskap rasa yang khas: sederhana, bersahaja, tetapi kokoh bertahan melintasi waktu.

Merreka yang mencicipi kuliner Buton, sering bertanya, mengapa kuliner ini identik dengan kesederhanaan? Mengapa bahan-bahan pokoknya justru berasal dari tanaman yang kerap diasosiasikan dengan pangan rakyat biasa -singkong, jagung, ubi—alih-alih bahan yang dianggap lebih “bergengsi”? 

Dan mengapa masyarakat yang hidup di wilayah maritim, dengan akses melimpah terhadap hasil laut, justru mengolah ikan dengan cara yang cenderung minimalis?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan melihat resep. Ia harus dibaca melalui kacamata antropologi, karena makanan, sebagaimana diingatkan antropolog Sidney Mintz, tidak pernah semata-mata soal rasa. 

Makanan adalah hasil dari sejarah, lingkungan, relasi sosial, bahkan struktur ekonomi yang membentuk suatu masyarakat. Apa yang tersaji di meja makan pada dasarnya adalah jejak panjang dari cara manusia bernegosiasi dengan dunianya.

Dalam konteks Buton, negosiasi itu dimulai dari geografi. Pulau Buton bukan wilayah agraris yang subur seperti Jawa, dengan bentangan sawah luas dan tanah vulkanik yang ramah bagi padi. Buton adalah wilayah dengan karakter tanah berbatu, relatif kering, dan tidak mudah ditaklukkan oleh pertanian sawah intensif. 

Dokumen tentang kuliner Buton bahkan mencatat bahwa justru karena kondisi geografis itulah singkong tumbuh menjadi tanaman yang paling cocok di wilayah ini . Dalam situasi seperti itu, pilihan pangan bukanlah perkara selera, melainkan strategi bertahan hidup.


Di titik inilah kasoami menjadi lebih dari sekadar makanan pokok. Ia adalah jawaban kebudayaan terhadap tantangan ekologis. Ketika alam tidak menyediakan kelimpahan padi, masyarakat Buton tidak menyerah pada keterbatasan. 

Mereka menciptakan sistem pangan sendiri. Singkong diparut, diperas, dikeringkan, diolah menjadi kaopi, lalu dikukus menjadi kasoami. Sebagian difermentasi, sebagian diolah menjadi bentuk lain seperti hugu-hugu. Semua itu menunjukkan bahwa yang tampak sederhana di meja makan sesungguhnya adalah hasil dari pengetahuan ekologis yang panjang dan teruji.

Dalam antropologi, ini dikenal sebagai bentuk adaptasi budaya terhadap lingkungan. Kesederhanaan dalam konteks ini bukan cermin kemiskinan, melainkan kecerdikan. Ia menunjukkan bagaimana sebuah masyarakat belajar memahami tanah tempat mereka hidup, lalu membangun kebudayaan pangan yang selaras dengannya.

Relasi serupa juga terlihat dalam cara masyarakat Buton memperlakukan laut. Sebagai masyarakat maritim, mereka hidup berdampingan dengan sumber protein yang melimpah. 

Namun menariknya, ikan dalam kuliner Buton jarang diolah dengan teknik yang rumit. Ikan dibakar, dimasak menjadi parende, diasapi, atau ditumbuk bersama kelapa seperti dalam ikan dole. Sekilas, ini mungkin terlihat sebagai bentuk kesederhanaan teknis. Tetapi antropologi justru mengajarkan bahwa dalam banyak budaya pesisir, kesegaran bahan itu sendiri adalah bentuk kemewahan.

Claude Fischler, antropolog yang banyak meneliti relasi antara makanan dan identitas, menjelaskan bahwa apa yang dimakan manusia bukan hanya soal kebutuhan biologis, tetapi juga cerminan cara suatu masyarakat memahami dirinya. 

Dalam masyarakat yang dekat dengan laut, hubungan dengan bahan makanan segar melahirkan logika kuliner yang berbeda. Ketika ikan baru saja diangkat dari laut, tidak ada kebutuhan untuk menutup rasa alaminya dengan lapisan teknik yang berlebihan. Kesegaran sudah cukup menjadi pusat pengalaman rasa. Logika yang sama dapat ditemukan dalam sashimi Jepang, atau dalam tradisi ikan bakar Bugis-Makassar.

Dengan demikian, kesederhanaan kuliner laut Buton bukan karena kekurangan kreativitas. Justru ia mencerminkan rasa hormat terhadap bahan.

Namun kisah kuliner Buton tidak hanya dibentuk oleh tanah dan laut. Ia juga dibentuk oleh sejarah mobilitas. 

Orang Buton dikenal sebagai pelaut dan perantau. Selama berabad-abad, mereka bergerak dari satu pulau ke pulau lain, membangun jaringan perdagangan, menetap di wilayah-wilayah baru, dan menciptakan komunitas diaspora yang luas. Budaya seperti ini hampir selalu melahirkan makanan yang praktis, tahan lama, mudah dibawa, dan mampu menopang perjalanan panjang.

Kasoami memenuhi semua kebutuhan itu. Ia tidak cepat basi seperti nasi, padat energi, mudah dibawa, dan relatif sederhana dalam penyajiannya. Dalam pengertian ini, kasoami bukan sekadar makanan rumah tangga. Ia adalah makanan mobilitas. Ia lahir dari masyarakat yang terbiasa bergerak, bukan masyarakat yang hidup menetap di satu bentang agraris.

Tetapi pada akhirnya, penjelasan ekologis dan historis saja belum cukup. Ada satu lapisan yang lebih dalam: struktur sosial. Dalam budaya Buton, makanan bukan hanya urusan memenuhi perut, tetapi juga membangun hubungan antar-manusia. 


Tradisi Pekande-kandea menunjukkan hal itu dengan sangat jelas. Dalam ritual ini, makanan tidak hadir sebagai simbol kemewahan personal, melainkan sebagai medium kebersamaan. Talam-talam berisi makanan disusun untuk disantap bersama, sebagai bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus pengikat solidaritas sosial .

Dalam konsep antropologi, ini dikenal sebagai commensality, praktik makan bersama yang membangun kohesi sosial. Yang penting bukan bagaimana satu hidangan tampak mewah di atas meja, melainkan bagaimana makanan itu bisa dibagikan, dinikmati bersama, dan memperkuat rasa kebersamaan.

Mungkin di situlah inti sesungguhnya dari kuliner Buton. Ia tidak tumbuh dari logika pertunjukan, melainkan dari logika keberlanjutan. Ia tidak dibangun untuk mengesankan mata, tetapi untuk menopang hidup, menjaga hubungan sosial, dan memastikan identitas tetap bertahan meski manusia berpindah-pindah.

Karena itu, ketika kasoami tetap mengepul di meja makan sebuah rumah sederhana di Ambon, yang hadir di sana bukan sekadar sarapan. Yang hadir adalah sejarah panjang tentang manusia yang belajar hidup di tanah keras, bersahabat dengan laut, menjelajah jauh, dan membawa pulang kampung halaman dalam bentuk rasa.