Messi, Anak Emas FIFA?
Peluit panjang itu akhirnya berbunyi. Di salah satu sudut lapangan, Lionel Messi mengepalkan kedua tangannya. Para pemain Argentina berlarian memeluk satu sama lain.
Sebaliknya, para pemain Mesir jatuh terduduk. Ada yang menengadah ke langit, ada yang menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, seolah masih sulit menerima bagaimana keunggulan dua gol dapat menguap dalam sembilan puluh menit.
Skor 3-2 terpampang di papan pertandingan. Argentina lolos. Mesir pulang.
Namun, seperti sering terjadi dalam sepak bola modern, peluit wasit ternyata tidak mengakhiri pertandingan. Ia hanya memindahkan arena dari rumput hijau ke media sosial.
Potongan video penalti Argentina beredar ke mana-mana. Gol Mesir yang dianulir diperlambat dari berbagai sudut kamera. Tayangan VAR dibedah tanpa henti. Dalam hitungan menit, stadion berubah menjadi ruang sidang.
Dan di ruang sidang itu, vonis datang lebih cepat daripada analisis. "Messi adalah anak emas FIFA."
Kalimat itu kembali menggema. Hampir setiap kali Argentina melewati pertandingan dramatis, tuduhan yang sama selalu muncul.
Padahal, pertandingan itu jauh lebih rumit daripada satu atau dua keputusan wasit.
Mesir tampil luar biasa. Mereka membuat juara dunia limbung dan unggul dua gol. Dunia mulai percaya sebuah kejutan sedang lahir. Namun Argentina menemukan momentum, bangkit, lalu membalikkan keadaan menjadi 3-2.
Yang tersisa setelah peluit akhir bukan hanya kisah comeback Argentina, melainkan pertanyaan yang terus berulang: benarkah Messi selalu mendapat perlakuan istimewa?
Mohamed Salah tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Setelah mengucapkan selamat kepada Argentina, ia berkata, "Saya tidak berpikir pertandingan itu hanya diputuskan oleh sepak bola."
Menurut Salah, beberapa keputusan wasit mengubah arah pertandingan. "Sepak bola seharusnya diputuskan oleh para pemain," ujarnya.
Nada serupa datang dari legenda Brasil, Ronaldo Nazário. Ia mengakui mental juara Argentina, tetapi mempertanyakan konsistensi kepemimpinan wasit.
"Kalau yang melawan Mesir hari ini bukan Argentina, apakah keputusan-keputusan itu akan tetap sama? Jujurlah kepada diri sendiri, dan di situlah jawabannya." Ronaldo lalu menutup komentarnya dengan kalimat yang sederhana namun kuat: "Football deserves better."
Pernyataan Salah dan Ronaldo tentu bukan putusan akhir. Tetapi keduanya menunjukkan bahwa kontroversi malam itu tidak hanya lahir dari media sosial.
Benar atau tidaknya tuduhan tersebut memang sulit dipastikan.
Sepak bola hidup dalam wilayah tafsir. VAR membantu mengurangi kesalahan, tetapi tidak pernah menghapus seluruh ruang perdebatan. Yang menarik justru bukan kontroversinya. Yang menarik adalah betapa cepatnya manusia membutuhkan seseorang untuk dipersalahkan.
Filsuf Prancis René Girard menyebutnya sebagai mekanisme scapegoat, kambing hitam. Ketika ketegangan memuncak, masyarakat cenderung menunjuk satu sosok agar dunia yang rumit terasa kembali sederhana.
Dalam sepak bola modern, sosok itu bisa wasit, VAR, FIFA, atau Lionel Messi. Ironisnya, semakin besar seorang tokoh, semakin sulit orang menerima bahwa keberhasilannya mungkin memang lahir dari kualitasnya sendiri.
Messi telah memenangkan hampir semua yang bisa dimenangkan. Ia bukan lagi sekadar pemain sepak bola, melainkan simbol. Dan terhadap simbol, manusia hampir selalu membawa prasangka.
Media sosial memperkuat kecenderungan itu. Yang viral bukan analisis, melainkan keyakinan. Akibatnya, pertandingan sering kali kalah oleh narasi.
Keberanian Mesir yang sempat membuat juara dunia bertekuk lutut tenggelam oleh perdebatan mengenai penalti dan VAR. Kebangkitan Argentina berubah menjadi bahan bakar teori konspirasi. Messi, sekali lagi, menjadi terdakwa utama dalam pengadilan yang tak pernah mengenal putusan akhir.
Namun sejarah selalu memiliki cara memisahkan kontroversi dari pencapaian.
Beberapa tahun dari sekarang, orang mungkin masih memperdebatkan penalti, VAR, atau keputusan-keputusan wasit malam itu. Tetapi sejarah juga akan mencatat satu hal yang tak terbantahkan: Argentina bangkit dari ketertinggalan dua gol dan menolak menyerah ketika hampir semua orang mengira perjalanan mereka telah usai.
Itulah watak seorang juara.
Mereka boleh kehilangan arah, tetapi tidak kehilangan keyakinan. Di tengah tekanan, Argentina menemukan jalan pulang. Mereka tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga mengalahkan kepanikan.
Barangkali karena itulah Lionel Messi menangis ketika peluit panjang berbunyi.
Air mata itu bukan sekadar karena Argentina lolos ke perempat final. Itu adalah pelepasan dari sembilan puluh menit yang menguras tenaga, emosi, dan keyakinan. Untuk sesaat, mimpi mereka berada di ujung tanduk.
Mereka melihat kemungkinan pulang lebih cepat. Namun, seperti yang telah berkali-kali mereka tunjukkan, Argentina selalu menemukan kekuatan untuk bangkit ketika keadaan tampak paling gelap.
Filsuf Romawi Seneca pernah menulis, "Difficulties strengthen the mind, as labor does the body." Kesulitan menguatkan jiwa, sebagaimana kerja keras menguatkan tubuh.
Kalimat itu seolah menemukan bentuknya malam itu. Argentina tidak dikenang karena sempat tertinggal dua gol. Mereka dikenang karena mampu mengubah keputusasaan menjadi harapan, lalu harapan menjadi kemenangan. Itulah yang membedakan tim biasa dengan seorang juara.
Sepak bola mungkin akan terus memperdebatkan pertandingan ini. Sebagian akan mengingat penalti, VAR, dan segala kontroversinya. Sebagian lain akan mengenang keberanian Mesir yang nyaris menciptakan kejutan terbesar di Piala Dunia.
Namun sejarah, seperti biasa, akan memilih kisah yang paling bertahan lama.
Kisah tentang sebuah tim yang menolak menyerah. Kisah tentang seorang kapten yang menangis bukan karena kelemahan, melainkan karena ia tahu betapa mahal harga sebuah kemenangan.
Dan kisah tentang juara dunia yang sekali lagi membuktikan bahwa menjadi juara bukan berarti tak pernah tertinggal, melainkan selalu menemukan jalan untuk bangkit ketika dunia mulai percaya bahwa kisahmu telah selesai.
.png)