Kampua: Ketika Peradaban Buton Memahami Ekonomi, Moneter, dan Nilai Uang
Di salah satu sudut Museum Bank Indonesia di Jakarta, langkah saya mendadak terhenti. Di balik sebuah vitrin kaca, tersimpan selembar kain tenun berukuran kecil. Warnanya telah memudar dimakan usia. Bentuknya sederhana, nyaris tak menarik perhatian di antara deretan uang logam emas, perak, dan uang kertas dari berbagai zaman.
Namun justru di situlah mata saya berhenti.
Di antara ratusan koleksi mata uang yang dipamerkan museum itu, hanya ada satu yang dibuat dari kain. Namanya Kampua. Mata uang dari Kesultanan Buton.
Saya memandangnya cukup lama. Sulit membayangkan bahwa selembar kain pernah menjadi alat pembayaran resmi sebuah kerajaan maritim. Selama ini kita terbiasa menganggap uang harus berupa logam, kertas, atau kini bahkan sekadar angka di layar telepon genggam. Padahal, berabad-abad silam, masyarakat Buton telah membangun sistem ekonomi di atas selembar kain tenun.
Kampua membawa kita kembali ke masa ketika Kesultanan Buton menjadi salah satu simpul penting perdagangan di kawasan timur Nusantara. Sejak abad ke-16 hingga ke-17, ketika sejarawan Anthony Reid menyebut Asia Tenggara memasuki Age of Commerce, laut Nusantara dipenuhi kapal-kapal dari Makassar, Maluku, Jawa, Melayu, Tiongkok, hingga Eropa.
Jalur rempah menjadikan laut sebagai urat nadi ekonomi, dan Buton berdiri tepat di salah satu persimpangan terpentingnya.
Letak geografis itu menjadikan Buton bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah ruang perjumpaan. Pedagang datang dan pergi, komoditas berpindah tangan, sementara orang-orang Buton sendiri membangun jaringan pelayaran hingga ke berbagai pulau di kawasan timur Nusantara. Dalam dunia maritim seperti itu, kehadiran alat tukar yang dipercaya bersama menjadi kebutuhan yang tak terelakkan.
Kampua hadir menjawab kebutuhan itu.
Yang menarik, Kampua bukan sekadar kain yang kebetulan dipakai untuk barter. Ia adalah mata uang yang diterbitkan dalam sebuah sistem yang terorganisasi. Produksinya dilakukan oleh putri-putri istana. Ukurannya ditetapkan. Jumlah yang beredar dicatat. Coraknya diawasi.
Di balik semua itu berdiri seorang pejabat yang dikenal sebagai Bonto Ogena. Dialah yang mengawasi proses pembuatan Kampua, menentukan standar ukurannya, mencatat setiap lembar yang beredar, bahkan mengganti motifnya secara berkala agar sulit dipalsukan. Pemalsuan dipandang sebagai kejahatan yang mengancam sendi-sendi kesultanan sehingga hukumannya sangat berat.
Sulit untuk tidak melihat kemiripannya dengan fungsi bank sentral pada masa kini. Memang, tentu tidak tepat menyamakan keduanya secara penuh. Namun prinsip yang dijalankan memiliki benang merah yang sama: menjaga kepercayaan terhadap mata uang.
Lebih dari itu, Kampua tidak hanya digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Wolio, pusat Kesultanan Buton. Mata uang ini menjadi perekat ekonomi bagi wilayah-wilayah yang berada dalam jaringan politik dan perdagangan Kesultanan.
Para pelaut, pedagang, pejabat, dan komunitas Buton yang bermukim di berbagai pulau di kawasan timur Nusantara mengenali nilai yang sama pada selembar Kampua. Laut yang memisahkan pulau-pulau itu justru dipersatukan oleh sebuah sistem ekonomi yang sama.
Bayangkan betapa pentingnya sebuah mata uang yang berlaku lintas pulau pada masa itu. Pada abad ke-20, negara-negara Eropa membutuhkan puluhan tahun perundingan, integrasi ekonomi, dan kompromi politik sebelum akhirnya melahirkan mata uang tunggal, euro.
Tentu, Kesultanan Buton tidak dapat disamakan dengan Uni Eropa. Skala, struktur politik, dan konteks sejarahnya sangat berbeda. Namun keduanya memperlihatkan gagasan yang serupa: perdagangan menjadi lebih efisien ketika masyarakat berbagi kepercayaan terhadap satu alat tukar yang sama.
Di sinilah Kampua terasa begitu modern. Sebab, hakikat uang sesungguhnya bukan terletak pada bahan pembuatnya.
Sejarawan Yuval Noah Harari menjelaskan bahwa uang adalah salah satu sistem kepercayaan paling universal yang pernah diciptakan manusia. Uang tidak bernilai karena logamnya, kertasnya, atau bahan pembuatnya. Ia bernilai karena manusia sepakat mempercayainya. Ketika kepercayaan itu dijaga oleh otoritas yang sah, selembar kertas, sekeping logam, bahkan sederet angka di layar telepon dapat berubah menjadi alat tukar yang diterima oleh jutaan orang.
Kesultanan Buton tampaknya telah memahami prinsip itu jauh sebelum istilah "bank sentral" ataupun "kebijakan moneter" dikenal. Nilai Kampua bukan terutama berasal dari kain katunnya. Yang membuatnya berharga adalah kewibawaan kesultanan yang menerbitkannya, mengawasi peredarannya, menjamin keasliannya, serta menjadikannya alat pembayaran yang sah.
Dalam berbagai literatur, kita menemukan banyak peradaban yang pernah menggunakan tekstil sebagai alat pembayaran. Tiongkok mengenal sutra sebagai sarana pembayaran dan upeti. Beberapa masyarakat di Afrika menggunakan kain rafia sebagai alat tukar. Namun Kampua memiliki karakter yang berbeda.
Ia bukan sekadar kain bernilai tinggi, melainkan kain yang sejak awal dirancang menjadi mata uang resmi, dengan standar ukuran, pengawasan produksi, pengendalian jumlah yang beredar, dan perlindungan hukum dari negara.
Saya kembali menatap Kampua di balik kaca museum. Kain itu tampak sederhana, nyaris rapuh dimakan usia. Namun di balik tenunannya tersimpan sebuah gagasan besar: bahwa sebuah kesultanan di jazirah tenggara Sulawesi pernah memahami sesuatu yang hingga hari ini masih menjadi fondasi sistem keuangan dunia, yakni kepercayaan.
![]() |
| Informasi di Museum Bank Indonesia, Jakarta |
Ironisnya, ketika nama Buton disebut hari ini, yang paling sering muncul dalam percakapan publik justru perdebatan tentang benteng. Benarkah ia benteng terluas di dunia? Benarkah pernah diakui Guinness World Records? Energi kita sering habis untuk mempertahankan klaim-klaim yang sesungguhnya masih diperdebatkan.
Padahal, tanpa perlu klaim apa pun, sejarah Buton telah menyimpan begitu banyak pencapaian yang benar-benar nyata. Kampua adalah salah satunya.
Jika benteng menunjukkan bagaimana Buton menjaga kedaulatannya dari serangan luar, maka Kampua menunjukkan bagaimana kesultanan ini membangun kepercayaan dari dalam. Yang satu melindungi wilayah. Yang lain menggerakkan perdagangan. Yang satu dibangun dari batu. Yang lain ditenun dari benang. Keduanya sama-sama menopang tegaknya sebuah peradaban maritim.
Mungkin sudah saatnya kita lebih sering menceritakan Kampua daripada sibuk mencari pengakuan dari luar. Sebab kebesaran sebuah peradaban tidak selalu tampak pada tembok yang menjulang tinggi, tetapi pada kemampuannya membangun institusi yang dipercaya oleh rakyatnya.
Berabad-abad lalu, di sebuah negeri kepulauan yang menghadap Laut Banda, Buton telah menunjukkan bahwa bahkan selembar kain pun dapat menjadi uang, asal ada kepercayaan yang menopangnya.
Referensi:
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/cerita-bi/Pages/Kampua-Uang-Unik-dari-Kain-Tenun.aspx
https://www.kompas.id/artikel/uang-kampua-dan-naskah-buton

.png)
