Pesta Babi, Kontra Narasi, dan Mengapa Film Ini Dianggap Berbahaya?
Sejujurnya, tak ada yang benar-benar baru dari film dokumenter Pesta Babi. Kita telah terlalu sering mendengar kisah serupa: masyarakat adat yang tersingkir atas nama pembangunan, hutan yang dibuka dengan dalih kemajuan, tanah yang berpindah tangan demi proyek-proyek besar, dan komunitas lokal yang perlahan kehilangan ruang hidup yang selama ini menjadi bagian dari identitas mereka.
Cerita seperti ini bukan sesuatu yang asing dalam sejarah Indonesia, bahkan dalam sejarah dunia. Ia telah hadir dalam laporan penelitian, catatan para antropolog, liputan jurnalistik, hingga karya-karya dokumenter dari berbagai generasi.
Jika demikian, pertanyaannya bukan lagi apakah Pesta Babi menghadirkan sesuatu yang baru, melainkan mengapa film ini tetap memunculkan kegelisahan, bahkan resistensi, terutama dari aparat dan mereka yang merasa berkepentingan menjaga ketertiban narasi pembangunan. Mengapa flm ini dianggap berbahaya?
Jawabannya mungkin justru terletak pada konteks kemunculannya. Film ini hadir bukan di ruang hampa. Ia muncul pada saat negara sedang begitu percaya diri dengan proyek besar bernama pembangunan.
Dalam beberapa tahun terakhir, publik terus disuguhi narasi tentang hilirisasi, industrialisasi, transisi energi, ketahanan pangan, dan ambisi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok global. Bahasa yang digunakan selalu penuh optimisme.
Kita diajak percaya bahwa sumber daya alam adalah berkah yang harus dioptimalkan, bahwa investasi adalah jalan menuju kesejahteraan, dan bahwa proyek-proyek strategis nasional adalah penanda sebuah bangsa yang sedang bergerak menuju masa depan.
Tidak ada yang salah dengan cita-cita itu. Tidak ada bangsa yang tumbuh tanpa ambisi. Tidak ada negara yang bisa bertahan jika terus terjebak dalam nostalgia masa lalu. Namun setiap narasi besar tentang kemajuan hampir selalu memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan realitas.
Dalam semangat untuk bergerak cepat, pembangunan sering kali hanya dihitung melalui angka investasi, volume produksi, atau pertumbuhan ekonomi, sementara pengalaman manusia yang hidup di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran pembangunan justru diletakkan di pinggir percakapan.
Di situlah Pesta Babi menjadi pengganggu. Film ini hadir sebagai kontra-narasi terhadap cerita resmi tentang pembangunan. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap proyek yang disebut strategis, ada manusia yang harus menghadapi konsekuensinya.
Di balik bahasa tentang ketahanan pangan, ada masyarakat yang kehilangan tanah ulayatnya. Di balik retorika tentang energi masa depan, ada komunitas yang dipaksa melepaskan ruang hidup yang selama ini menopang identitas dan kebudayaannya.
Film ini tidak menawarkan argumen teknokratis yang rumit. Ia hanya menunjukkan manusia dan kehilangan yang mereka alami. Tetapi justru karena kesederhanaan itu, daya gugahnya menjadi kuat.
Ketidaknyamanan terhadap film ini juga tidak bisa dilepaskan dari momentum politik-ekonomi yang sedang berlangsung. Pesta Babi hadir ketika negara sedang berada dalam fase yang sangat agresif dalam mengekstraksi sumber daya alam.
Papua, sebagaimana wilayah-wilayah kaya sumber daya lainnya, dibaca sebagai frontier pembangunan baru. Hutan tidak lagi semata dipandang sebagai ruang ekologis atau ruang budaya, tetapi sebagai aset ekonomi yang harus dioptimalkan. Tanah diterjemahkan ke dalam bahasa investasi. Alam dibaca melalui potensi produktivitasnya.
Dalam logika seperti ini, keberadaan masyarakat adat sering kali dipandang sebagai variabel yang harus disesuaikan, bukan sebagai subjek utama yang hak-haknya perlu dihormati sejak awal.
Apa yang membuat situasi ini terasa ironis adalah karena semua itu dilakukan atas nama kepentingan nasional. Atas nama kemajuan bersama, ada kelompok-kelompok yang justru harus menanggung ongkos terbesar. Ini bukan pola yang sepenuhnya baru.
Sejarah kolonialisme menunjukkan logika yang mirip: wilayah-wilayah tertentu dipetakan berdasarkan nilai ekonominya, sumber daya diidentifikasi, lalu kekuasaan hadir untuk memastikan proses ekstraksi berjalan lancar.
Yang berubah hanyalah bahasa dan aktor. Jika kolonialisme lama datang dengan retorika peradaban dan misi modernisasi, kolonialisme modern datang dengan bahasa investasi, pembangunan, dan transformasi ekonomi. Tetapi bagi mereka yang tanahnya diambil, hutan yang mereka kenal hilang, dan cara hidupnya tercerabut, perbedaan istilah mungkin tidak terlalu berarti.
Karena itu, sulit mengabaikan kesan bahwa Pesta Babi sedang berbicara tentang bentuk kolonialisme yang lebih mutakhir. Bukan kolonialisme yang datang dari negeri jauh, melainkan kolonialisme yang lahir dari cara pandang pembangunan yang melihat tanah terutama sebagai sumber daya, bukan sebagai ruang hidup.
Antropolog Anna Tsing dalam The Mushroom at the End of the World menulis tentang bagaimana kapitalisme ekstraktif modern tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menciptakan reruntuhan—ekologis, sosial, dan kultural.
Di balik janji keteraturan dan efisiensi, sering kali ada komunitas yang dipaksa hidup dalam dunia yang telah retak. Apa yang diperlihatkan Pesta Babi terasa sangat dekat dengan gagasan itu. Pembangunan hadir dengan seluruh bahasa optimisme modern, tetapi yang tertinggal adalah masyarakat yang harus menata ulang hidup di atas puing-puing dunianya sendiri.
Aspek lain yang membuat film ini sensitif adalah cara ia merekam kehadiran aparat keamanan. Kehadiran itu tidak muncul sebagai elemen insidental, melainkan sebagai motif visual yang berulang.
Dalam film, pembangunan tidak digambarkan hanya sebagai proses teknokratis yang netral. Ia tampak sebagai proyek yang juga membutuhkan pengamanan, pengawasan, dan kehadiran kekuasaan yang bersifat koersif. Ini penting, karena secara visual film tersebut membangun asosiasi bahwa pembangunan bukan selalu hasil konsensus, melainkan kadang berlangsung di bawah bayang-bayang tekanan.
Di sinilah kegelisahan aparat mungkin menemukan salah satu sumbernya. Sebab film ini tidak hanya mengkritik proyek pembangunan, tetapi juga secara implisit mempertanyakan posisi negara.
Apakah negara hadir sebagai pelindung seluruh warga negara, ataukah dalam praktik tertentu justru lebih tampak sebagai pengawal proyek-proyek ekonomi? Pertanyaan seperti ini tentu tidak nyaman, terutama dalam konteks politik yang sangat menekankan stabilitas dan keberhasilan pembangunan sebagai legitimasi utama.
James C. Scott, dalam Seeing Like a State, menjelaskan bagaimana negara modern cenderung menyukai realitas yang sederhana, rapi, dan mudah diatur. Hutan menjadi kawasan ekonomi. Tanah menjadi blok investasi. Komunitas adat menjadi data demografis. Dalam proses penyederhanaan itu, kompleksitas kehidupan lokal sering hilang.
Pengetahuan masyarakat tentang hutan, hubungan spiritual dengan tanah, atau cara hidup yang tidak cocok dengan logika administratif modern menjadi tak terlihat. Pesta Babi justru melakukan hal sebaliknya: ia mengembalikan wajah-wajah manusia ke dalam peta yang selama ini terlalu abstrak.
Yang membuat Pesta Babi tidak nyaman bagi sebagian pihak bukan karena ia menyampaikan sesuatu yang sepenuhnya baru. Justru karena ia menyampaikan sesuatu yang sebenarnya sudah lama diketahui, tetapi terlalu sering disisihkan dari percakapan resmi.
Adegan paling membekas justru mungkin bukan adegan-adegan besar tentang alat berat atau proyek negara, melainkan momen-momen kecil yang diam-diam menyisakan rasa bersalah.
Ada satu adegan ketika seekor kasuari terlihat tersesat di kawasan hutan yang pohon-pohonnya telah diratakan eskavator. Burung itu tampak seperti kehilangan orientasi, berjalan di ruang yang tak lagi dikenalnya, seolah sedang mencari dunia yang telah dirampas darinya.
Pada momen lain, manusia-manusia adat Papua mendirikan Salib Merah sebagai simbol perlawanan: gestur sederhana, nyaris sunyi, tetapi sarat makna. Tidak ada pidato besar. Tidak ada slogan yang meledak-ledak. Hanya isyarat luka, penolakan, dan upaya mempertahankan martabat.
Dalam diam dan suara-suara yang lirih itu, mereka sesungguhnya sedang berbicara. Mereka mencoba memberi tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara kita memaknai kemajuan.
Tetapi suara itu begitu mudah tenggelam oleh deru mesin eskavator, oleh kebisingan jargon pembangunan, oleh ambisi sebuah negara yang terlalu sibuk menatap masa depan hingga lupa melihat siapa yang tertinggal di belakang.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan Pesta Babi: ia membuat kita, setidaknya untuk sesaat, merasa tidak nyaman sebagai penonton. Karena kita sadar, dalam banyak hal, kita juga bagian dari dunia yang membiarkan itu semua terjadi.
.png)