Saat DEWA KIPAS Turun dari Langit


Rekor itu akhirnya pecah. Tayangan pertandingan catur antara Dewa Kipas vs Irene ditonton lebih 1 juta orang. Tayangan di akun Yutub itu tidak hanya bergema di dalam negeri, tetapi juga manca-negara.

Federasi Catur Internasional (FIDE) membagi link pertandingan itu di akun Twitter. Bahkan beberapa Grand Master International ikut memantau pertandingan itu lalu menjelaskan langkah demi langkah. Semuanya penasaran dengan sosok Dewa Kipas.

Jika dunia catur ibarat rimba persilatan, Dewa Kipas adalah sosok yang menggoyang kemapanan. Di dunia catur online, sosoknya menebas banyak orang hingga mengalahkan pemain catur yang punya reputasi hebat. 

Dewa Kipas bukanlah sosok yang dibesarkan dari pertandingan demi pertandingan. Dia tiba-tiba saja muncul, entah dari mana, tiba-tiba menggegerkan dunia catur online. 

Saat dia dituduh curang yakni menggunakan algoritma dan kecerdasan buatan, para pendukungnya meradang. Dengan dalih nasionalisme, pendukungnya menyerbu situs catur dunia, lalu menyerang akun GothamChess, seorang International Master yang dikalahkan Dewa Kipas.

Di negeri +62, banyak orang menyukai kisah “from zero to hero” atau “from nothing to something.” Orang suka dengan kisah bukan siapa-siapa namun bisa kalahkan para master. Dewa Kipas ibarat seorang “zero” yang mengalahkan para “hero.” Dia makin populer. Bahkan dia diundang oleh “Cahyadi”, nama lain dari yutuber populer itu.

Hingga akhirnya datanglah Irene Sukandar. Grand Master Wanita ini membuat surat terbuka. Cahyadi mengendusnya sebagai peluang bisnis. Dia menjadi promotor yang mempertemukan dua pendekar ini.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, catur menjadi tontonan yang ditunggu banyak orang. Pertama kalinya saya menyaksikan pertandingan catur, dengan komentator Grand Master Susanto Megaranto yang smart, dan International Woman Master Chelsie Monica yang tampil cantik dan centil. 

Catur menjadi tontonan serupa sepak bola yang mempersatukan semua kelompok di tanah air, mulai dari cebong vs kampret, hingga kelompok bumi datar vs bumi bulat.

Dewa Kipas yang tadinya misterius karena bermain di langit online, kini harus turun ke bumi. Dia menjadi dirinya sendiri, tanpa ada siapa-siapa. Dia bukan lagi Dewa Kipas, melainkan menjadi Pak Dadang.

Selama ini dia bermain di dunia online, bisa jadi sembari duduk di pos ronda dengan asap mengepul, serta kopi. Kini, dia berada di studio dan menjadi tontonan warga global. Dia pun serba kikuk saat berhadapan dengan Irene yang menatap papan catur dengan style seperti Beth Harmon yang menatap lawan mainnya dalam serial Queens Gambit.

Kali ini, Pak Dadang tak membawa kejutan. Dua komentator yakni Susanto Megaranto dan Chelsie Monica dengan mudahnya menebak semua langkahnya. Mereka cukup humble saat menyebut Pak Dadang "hampir" mencapai level master. Irene menang telak, tanpa perlawanan berarti.

 

Saya, yang tak paham catur, sejak awal sudah menebak hasil pertandingan ini, meskipun saya berharap ada kejutan. Jika ingin pertandingan ini seru, maka Pak Dadang harus tetap menjadi Dewa Kipas, dan bermain di arena kesukaannya yakni online.

Tayangan pertandingan itu menjadi panggung penuh inspirasi. Para komentator kian populer karena mengapresiasi Pak Dadang. Irene menampilkan kedewasaan dengan menghargai Pak Dadang dan tidak jumawa. Biarpun kalah, Pak Dadang tetap membawa uang 100 juta. 

Bahkan tayangan itu mengangkat pamor catur selangkah lebih tinggi. Catur menjadi lebih menarik. Sponsor dan iklan berdatangan. Yang paling banyak dapat cuan adalah pemilik lapak, si youtuber botak itu. Kanalnya kian ramai. Dia makin berkibar di barisan para yutuber yang akan segera menenggelamkan stasiun televisi.

Saya sih melihat, ada elemen storytelling yang kuat dan memaksa orang untuk menyaksikannya secara langsung. Tayangan apa pun akan selalu ramai jika ada drama dan kisah yang seru. Sama halnya dengan olah raga lain seperti bola dan bulu tangkis, orang tak sekadar menyukai permainan, tapi kisah-kisah para pemainnya di balik layar. 

Seusai pertandingan semua bersalaman. Masalah dianggap selesai. Semua tersenyum. Irene membawa hadiahnya. Dewa Kipas mengakui kehebatan Irene. Semuanya tersenyum ceria.

Namun, satu pertanyaan yang belum terjawab, apakah Dewa Kipas curang dalam permainan catur online? Di akun Twitter, beberapa Grand Master memperlihatkan betapa tidak konsisten, betapa banyak blunder dari permainan Pak Dadang. Sungguh berbeda dengan permainannya di online yang akurasinya tinggi.

Saat pertandingan kedua, Grand Master Susanto Megaranto cukup berhati-hati memberikan respon. Saat pertandingan pertama usai, dia sudah memberikan semacam clue, kalau level Dewa Kipas levelnya di bawah Irene. Seusai pertandingan, Chess.com kian yakin kalau Dewa Kipas memang curang.

Federasi Catur Internasional ikut mengumumkan pertandingan itu

Saya memantau postingan beberapa pemain Chess.com di luar negeri yang heran melihat permainan Dewa Kipas yang banyak blunder, namun lebih heran lagi saat mengetahui bahwa Dewa Kipas malah menerima 100 juta rupiah atau 7.000 dollar AS. Dia tampil memamerkan pengetahuannya yang biasa saja di arena catur demi hadiah. 

Banyak yang heran karena Dewa Kipas dianggap berani dan inspiratif, padahal dia dianggap bermain curang di arena online. Banyak yang heran karena bangsa kita memuji dan memberi penghargaan pada seseorang yang curang.

Namun, bagi netizen kita, kebenaran itu jadi tak penting. Kisah Dewa Kipas diubah jadi kisah inspiratif. Tak perlu lagi ada vonis. Cukuplah diam-diam malu karena sudah mem-bully secara berjamaah akun chess.com, serta menebas akun GothamChess dengan kejam. 

Dan kita tutup mata pada banyak hal, sembari mencari isu apa lagi yang menyatukan netizen kita. Setelah pekan lalu pernikahan Aurel, kini pertandingan Dewa Kipas. Entah, besok isu apa lagi yang akan membuat kita bersatu.

7 komentar:

Unknown said...

Tapi sya selalu terpukau dg jalinan kata yg renyah dr kk Yusran...

Firman Hendri yansah said...

Selalu luar biasa kanda Yusran

Mr.loba said...

Mungkin...netizen kita memang butuh hero hero yg sebenarnya..untuk memuaskan ego tas ketertinggalan bangsa ini

Mr.loba said...

Mungkin...netizen kita memang butuh hero hero yg sebenarnya..untuk memuaskan ego tas ketertinggalan bangsa ini

Amiruddin Magga said...

Selalu menarik jika membaca tulisan bang Yusran,kita diajak melihat perspektif lain dari sebuah fenomena sosial. Terus menulis bang dan tetap unik

Layworu said...

Jadi pertandingan ini yg meme nya viral.

Prayogo said...

Tulisan yang sangat renyah untuk dinikmati. Menunggu tulisan2 renyah yang lain.

Post a Comment