Filosofi Vietnam Drip


Momen terbaik untuk menikmati kopi adalah saat senja di tengah gerimis. Betapa beruntungnya saya yang tinggal di Bogor, kota hujan. Di sini, kopi, senja, dan gerimis adalah keping puzzle yang saling melengkapi.

Biasanya, saya memesan kopi tergantung mood dan situasi. Saat sedang sendiri dan bekerja, saya akan memesan Espresso. Saat sedang santai sambil ketawa-ketiwi dengan teman, saya memilih Capuccino. 

Saat sedang ingin melamun, saya akan pesan kopi tubruk. Pada kopi tubruk, ada kesederhanaan, juga ketulusan, dan sesuatu yang apa adanya. 

Namun saat sedang lelah di tengah suasana gerimis, saya memesan Vietnam Drip. Rasanya nikmat saat melihat tetes demi tetes kopi vietnam drip mengucur ke gelas, sementara di luar sana, ada tetes-tetes hujan dengan irama teratur.

Hari ini saya memandang Vietnam Drip sambil membaca buku berjudul Belalang Komunis yang ditulis Andre Barahamin, seorang peneliti dan penulis di Indoprogress yang tidak malu2 mengakui kalau dirinya menyukai buku2 komunisme. 

Andre bekerja sebagai seorang peneliti yang sering mengunjungi negara-negara Indocina, yakni Vietnam, Thailand, Laos, dan Cambodia. Saya belum pernah bertemu fisik dengannya. Banyak sahabat saya mengenalnya. Ada banyak gosip tentang dia. Tapi saya tak ingin bahas di sini. Itu urusan dia.

Di satu lembaran, saya temukan kisah tentang Vietnam Drip. Kata Andre, kebiasaan orang Vietnam menyuguhkan kopi dengan penyaring tunggal di setiap gelas adalah taktik untuk menyiasati langkanya mesin pembuat kopi.

Mereka menyebutnya phin. Penyaring itu terdiri atas ruang penyaring (filter chamber) penekan saringan (filter press), cangkir pas (cup spanner), dan tentu saja tutup saringan.

Di Vietnam, orang lebih suka menggunakan gelas kaca untuk menampung kopi, persis di sini. Mengapa? Sebab dengan gelas kaca, mereka bisa menyaksikan kopi yang jatuh perlahan. 

Mereka merenung atau kontemplasi ketika bertemu kopi. Tetes demi tetes kopi itu memberikan cukup waktu untuk mengambil napas. Kata Andre, persis seperti jeda antara kecupan dan gairah yang meletup.

Seorang dosen sejarah di Hue University, Vietnam, punya kisah lain. Katanya, Vietnam Drip punya makna historis bagi orang Vietnam. Menggunakan phin saat minum kopi adalah cara mereka melupakan perang. 

Sepanjang sejarahnya, orang Vietnam adalah barisan para petani yang gagah berani saat bertempur mempertahankan jengkal wilayahnya. Di era kerajaan, mereka melawan Cina, kemudian melawan Perancis di era perang dunia. 

Terakhir, mereka dengan gagah berani mengalahkan Amerika Serikat (AS). Demi menutup malu, Amerika harus membuat fiksi tentang Letnan John Rambo yang seorang diri mengalahkan Vietcong. 

Perang meninggalkan trauma yang dalam dan membekas di diri semua orang. Hingga kini, mereka memilih tidak membicarakannya secara terbuka. 

Mereka mencari cara agar semua trauma dan kengerian akibat perang itu bisa disalurkan dalam kanal-kanal aktivitas. Di titik ini, mereka mengalirkan trauma itu dalam tetes-tetes Vietnam Drip.

Saya ingat perjalanan saya ke Timor Leste setahun lalu. Saya bertemu para ibu yang mengalirkan semua trauma akibat perang dalam aktivitas menenun dan menanam. Mereka tidak ingin tenggelam dalam trauma dan kesedihan. Mereka bangkit dan bekerja. Mereka menatap masa depan, serta tidak ingin tenggelam dalam kesedihan.

Saya kembali menatap Vietnam Drip di hadapan saya. Saya pun bersiap untuk mencicipi seteguk. Sayup-sayup saya mendengar berta tentang orang demonstrasi yang menuntut hak. Saya ingat sejumlah anak remaja yang beberapa hari lalu diangkut polisi karena berdemonstrasi. 

Saya ingat kawan-kawan yang amat suka menyuruh demo, tapi tak pernah menampakkan wajahnya di tengah massa aksi. Mereka ingin menyalakan bara, tanpa mau menjadi kayu bakar. 

Terakhir saya ingat gadis Vietnam yang saya temui di Mangga Besar, Jakarta. Ah, semoga dia baik saja. 

Srupp....!!


BACA: Perempuan Vietnam di Sudut Mangga Besar


 


0 komentar:

Post a Comment