Mencari Hikmah dari Kencan yang Berakhir Mutilasi



Dari mana datangnya cinta? 

Dari mata turun ke hati

Dari mata datangnya nafsu?

Dari online turun ke offline

Pantun itu tepat benar menggambarkan peristiwa heboh tentang temuan tubuh yang dimutilasi di Kalibata City. Bermula dari perkenalan di situs Tinder, lanjut ke kencan di satu apartemen di Pasar Baru. 

Lelaki itu bukan orang sembarangan. Dia bekerja sebagai HRD satu perusahaan. Dia terbilang mapan. Di usia muda, sudah punya karier hebat. Pergaulannya internasional. Bahkan, alumnus satu kampus di Jepang ini pernah menikah dengan orang Jepang. 

Dia bisa mendapatkan apa saja yang dia mau. Kalau mau, dia bisa saja memilih hendak pacaran dengan siapa. Namun di kota sebesar Jakarta yang warganya serba terbatas dalam interaksi, dia merasa lebih aman dengan gerilya di situs kencan online. Di dunia online yang acak, ada banyak kejutan-kejutan.

Bertemulah dia dengan perempuan alumnus Universitas Indonesia (UI) itu. Mereka nyambung. Klik. Saya membayangkan dialog mereka bukan cuma bahas BO, short time, dan berbagai teknik melakukan penetrasi. Percakapan mereka tingkat tinggi. Mereka sama-sama punya wawasan. Bisa bahas global hingga lokal.

BACA: Perempuan Vietnam di Sudut MANGGA BESAR


Lelaki itu Youtuber, sedangkan perempuan itu blogger yang menulis tema-tema filosofis. Membaca blog perempuan itu, terasa benar kalau dia cerdas. Catatannya di blog membahas tema-tema tidak biasa. Ketika kasus itu merebak, banyak orang mengutip kalimat-kalimatnya yang lugas dan bertenaga di blog pribadinya.

Puncaknya mereka ingin bertemu. Lelaki itu membayar apartemen di Pasar Baru yang ditempati perempuan itu selama seminggu. Di hari H, lelaki itu datang. Dia membayangkan pertempuran yang lebih berkelas, sesuai dengan topik yang mereka diskusikan.

Apa daya, pertemuan mereka tak sesederhana para petualang di dunia perlendiran online. Ada skenario lain yang disiapkan perempuan cerdas itu. Kekasihnya menunggu di kamar mandi. Saat dua tubuh telanjang menyatu di sela-sela dengus napas menembus dinding tembok, kekasih perempuan itu keluar dari kamar mandi, kemudian melabrak.


Dia hantamkan bata tujuh kali. Lelaki kaya dan cerdas itu ditusuk sampai tujuh kali. Dia tewas di tempat. Dompetnya digeledah, ATM-nya diambil. Kemudian pasangan kekasih itu mulai memutilasi tubuh lelaki itu, lalu dibawa ke Kalibata. Rencananya hendak dikubur di rumah kontrakan di Depok. 

Skenario itu bubar saat polisi mengendus apa yang terjadi. Mereka ditangkap. Dunia media sosial sontak heboh. Penangkapan itu ibarat membuka kotak pandora yang mengungkap banyak hal.

Jejak digital keduanya ditelusuri. Pasangan kekasih yang memutilasi ini dulu menghebohkan dunia maya. Perempuan cerdas itu punya jejak digital sebagai pelakor. Setahun silam, dia merebut seorang suami dari pelukan istrinya dengan begitu pongah. Dia pelakor yang tidak merasa bersalah, malah berani menantang istri sah lelaki yang direbutnya itu. 

Mungkin saja dia membaca mazhab berpikir yang melihat cinta adalah soal kesepakatan. Saat hati berubah, kesepakatan bisa berubah. Lelaki yang direbutnya itu tunduk patuh pada keinginannya. Hingga skenario pembunuhan itu pun dirancang. Korban ditemukan melalui aplikasi kencan online.

Kita seakan tak percaya. Kisah secanggih ini rasanya cuma ada di sinetron atau drama seri Criminal Mind. Sedari kecil kita dijejali cerita kalau kejahatan dilakukan oleh orang tidak sekolah yang gelap mata saat tak punya uang. 

Kasus di Kalibata itu memberikan banyak pelajaran berharga buat kita semua:

Pertama, tindak kriminal bisa dilakukan oleh siapa saja. Biar pun tingkat pendidikan seseorang tinggi dan punya wawasan cerdas, bukan berarti akan menjalani peran yang baik-baik di masyarakat kita. Kata Bang Napi, “Kejahatan bisa terjadi di mana saja dan dilakukan siapa saja Waspadalah! Waspadalah!

BACA: Siasat Perlawanan: Dari Seks Hingga Lipstick


Kedua, kita harus memperbaiki cara pandang kita. Jangan melihat casing, lihat isi. Biar orang itu alumni perguruan tinggi bonafid bukanlah pertanda niat yang setulus merpati. Biar orang itu tampak baik-baik, tetap saja, kita harus melihatnya seimbang. Semua orang berpotensi jadi jahat, sepanjang ada kesempatan dan keinginan yang dikejar.

Ketiga, jejak digital selalu penting. Jejak digital adalah saksi dari apa yang pernah kita pikirkan dan lakukan di satu masa. Sekali kita lancung, maka seumur hidup jejak digital akan diungkap dan menjadi fakta-fakta tentang siapa kita. 

Media dan netizen kita kejam. Mereka akan memandang seseorang bukan hanya dari satu tindakan, tetapi segala hal akan ditelusuri dan dikuliti. Di medsos, masa lalu perempuan itu dibahas. Teman-teman kuliahnya bersaksi. Hanya menunggu waktu, keluarga perempuan cerdas itu akan dibahas media. Dia seakan sudah divonis.

ilustrasi jejak digital

Keempat, berhati-hatilah menggunakan situs kencan online. Kata seorang petualang lendir yang wara-wiri di dunia hiburan malam, jauh lebih aman jika menggunakan jalur resmi. Datang ke panti pijat atau sauna. Lakukan transaksi. Cash and carry.

Di dunia digital, orang bisa berperan sebagai apa saja. Seseorang berwawasan yang paham bagaimana psikologi digital adalah penembak jitu yang bisa menjadikan Anda sebagai domba tak berdaya dan terseret mengikuti telunjuk. Kita semua adalah korban dari permainan wacana dan kalimat yang membuat kita sesaat kehilangan nalar.

Banyak orang yang tertipu di situs kencan digital. Seorang teman kenalan dengan perempuan yang fotonya sekelas Luna Maya dengan barisan pose menantang. Dia mentransfer duit, setelah itu gigit jari ketika diblokir. Tak mungkin lapor polisi sebab itu sama dengan membuka aib.

Kelima, ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja di masa pandemi ini. Meningkatnya kasus kriminalitas adalah alarm kalau semua program jaringan pengaman sosial sedang tidak bekerja. Pemerintah terlalu sibuk dengan retorika bantuan sosial, sementara masyarakat kita tidak tahu bagaimana menyambung hidup.

Kita melihat sistem sosial kita kian jauh dari kata seimbang. Banyak orang hanya modal air ludah, bisa jadi kesayangan pemerintah lalu duduk di kursi direktur, pejabat, staf ahli, komisaris, hingga mengendalikan lalu lintas modal. 

Sementara pekerja profesional harus banting tulang, lalu mencari tambahan penghasilan di situs kencan online. Kita melihat betapa ekonomi hanya menguntungkan sejumlah kaum yang dekat kuasa, lalu meminggirkan mereka yang bekerja siang malam.

Keenam, tangan lembut negara harus hadir untuk memeluk warganya yang sedang kesusahan. Negara jangan melihat rakyat sebagai suara yang diperebutkan, tetapi harus dijaga dan dipertahankan hingga hayat di kandung badan.

Tangan lembut negara hanya menyentuh kelompok yang itu-itu saja. Mereka yang bekerja di dunia hiburan malam bukanlah mereka yang mendapat jaminan sosial. Mereka terabaikan dan tak berdaya. Mereka bukan cuma para pekerja seks, tetapi juga para waria, pemijat, mucikari, calo, dan pekerja salon plus yang selama ini menempati ruang abu-abu. Mereka ada tetapi eksistensi dan pekerjaannya tidak diakui.

Saatnya mengubah kebijakan. Tidak hanya menolong para bankir dan para eksportir, tetapi sentuhlah mereka yang mencari nafkah di jalan-jalan, juga mereka yang hidup di keremangan malam. Buatkan banyak skema padat karya agar banyak pihak bisa ikut menikmati indahnya kemerdekaan.

BACA: Gadis Karaoke Kota Kendari


Ketujuh, apa yang terjadi Kalibata adalah cermin dunia sosial kita. Setiap tindakan kriminal adalah puncak dari tidak bekerjanya dunia sosial kita sebagai rumah nyaman yang membelai seorang warganya.

Itu adalah cermin dari spiritualitas kita yang hanya berhenti di slogan dan dakwah, tidak merasuk pada solidaritas kita untuk bergotong-royong membantu ekonomi semua orang. Kita gagal membantu orang lain yang ekonominya sedang kepepet lalu mengincar sesama kita untuk menjadi korban. Kita hanya menyalahkan, tanpa membantu mencari jalan.

Ada butiran hikmah dari peristiwa di Kalibata. Kita harus cari dan temukan. Bukan untuk kita, tetapi untuk bangsa.



9 komentar:

Unknown said...

Dalam sekali. Pelatih kucing idolaku

Bung Asri : Sang Aspirator said...

Keren sekali bang..

Bung Asri : Sang Aspirator said...

Keren sekali bang..

Unknown said...

Luar biasa

Anonymous said...

cash and carry, hit and run...

WINARNY said...

Seperti biasa Yusran, tulisan yg keren

Rudy Rahabeat said...

wow

Unknown said...

Luar biasa...sukses dinda...

Hasan Deang said...

Terima kasih banyak atas tulisannya .... Sy terkesan dari alinea - alinea terakhirnya .... menggugah kesadaran kemanusiaan dan kehambaan kita kepada tuhan .... bahwa "mereka" (pekerja malam) adalah saudara kita juga. Secara lahirirah membutuhkan sandang, pangan dan papan. Bahwa mungkin cara mereka untuk mencari-nya yang kita tidak setuju..iya. Walaupun demikian kita harus empati kepada mereka juga, bukan membenarkan perbuatan mereka. Tetapi berusaha membantu mereka keluar dari dunia malam mereka ke dunia "Siang" yang terang benderang yang diterima oleh norma agama dan masyarakat secara umum... Wallahu a'lam bissawab

Post a Comment