IDRUS PATURUSI: Dulu Misi Berkelahi, Kini Misi Kemanusiaan




Di masa belajar di SMP Kanisius, Makassar, dia sudah dikenal sebagai orang yang suka berkelahi. Rasa percaya dirinya tumbuh kuat sejak mempelajari empat bela diri. Semasa belajar di SMA Katolik Cenderawasih, hari-harinya adalah kenakalan.

Dia mencari-cari lawan agar bakat berkelahinya tersalurkan. Dia pun pernah bentrok dengan salah satu geng yang cukup ditakuti Kota Makassar hanya gara-gara melarang anggota geng itu masuk ke acara nobar organisasi siswa sekolahnya.

Masa kecil Profesor Idrus Paturusi adalah masa kecil yang penuh gejolak. Saya membayangkan tidak ada satu pun guru sekolahnya yang mengira kelak anak yang suka berkelahi itu akan menjadi guru besar bidang kedokteran, serta Rektor Unhas dua periode.

Bahkan saat belum masuk di Fakultas Kedokteran Unhas, namanya sudah dibahas para senior.  Sebelum ikut tes masuk, dia pernah menembakkan senapan angin ke salah satu laboratorium Fakultas Kedokteran Unhas hingga kaca-kaca pecah. Semua tahu dia pelakunya.

Di hari ketika selesai ikut tes masuk Unhas, dia berlari sekencang-kencangnya ke Pelabuhan Makassar, saat kapal baru beberapa meter berlayar. Dia melempar tasnya, setelah itu melompat ke dalam kapal. Dia ingin ikut ke Jakarta, lalu Bandung, agar bisa ikut tes masuk ITB.

Sayang, takdirnya bukan di ITB. Dia tidak lulus tes masuk. Ibunya memberi kabar dirinya lulus Fakultas Kedokteran Unhas. Sebagai anak yang tidak pernah membantah kata ibunya, dia pulang dan mengubur mimpinya jadi insinyur.

Idrus Paturusi lahir dari ibu Siti Hasnah Karaeng Caya, seorang keturunan bangsawan Bantaeng. Ayahnya adalah Andi Paturusi, militer keturunan bangsawan Pinrang. Ayahnya sering pindah-pindah tugas sehingga Idrus menjalani masa sekolah dasar di enam SD berbeda yang tersebar di Jakarta dan Makassar. Sebagaimana anak pimpinan militer, semasa kecil dia dikawal seorang ajudan.

Tibalah hari dia menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas. Dia terlambat masuk sehingga tidak ikut pelonco di FK. Dia diminta ikut pelonco di FKG yang saat itu baru mulai angkatan pertama.

Dia melawan. Dia menolak di-pelonco. Para senior mengenalnya sebagai anak yang dulu memecahkan kaca laboratorium. Seorang senior emosi hingga mengeluarkan kata-kata yang membuatnya tersinggung.

Dia pulang ke rumah. Ternyata ibunya sedang balik ke Pinrang. Hatinya masih panas. Dia kumpulkan temannya di Jalan Gunung Nona dan Pasar Maricaya. Dia berkata: “Mau ko kita pergi pasimbung di Unhas nanti malam?”  Temannya siap.

Dia ingin bikin geger perpelomcoan di FKG. Malamnya, setiba di lokasi perpeloncoan dia ketemu mahasiswa senior Ardin Hutasoit yang memaki Idrus kemudian menghubungi panitia kegiatan. Datang banyak orang mengepungnya. Dia siap berkelahi.

BACA: Sepengal Kisah Idrus Paturusi

Saat itulah, seorang mahasiswa senior mendatanginya dengan tenang. Mahasiswa ini sopan menyapanya, kemudian bertanya, apa mau ikut pelonco? Idrus luluh. Dia orang Bugis yang jika dilawan akan siap bertarung hingga mati, namun jika dihadapi dengan kelembutan, akan segera luluh dan tenang.

Dia menjadi mahasiswa baik, yang ikut semua aturan. Seusai pelonco, dia bahkan menjadi aktivis mahasiswa yang menonjol. Dia pun bersahabat sangat dekat dengan Farid Husain dan Saman Kalla.

Kehidupan memang menyimpan banyak misteri. Seorang anak yang dahulu bengal dan suka berkelahi menjadi dokter yang siap siaga di segala bencana. Di sela-sela tugas sebagai Rektor Unhas, dia mendatangi semua lokasi bencana demi memenuhi panggilan nurani kemanusiaannya. Dia meletakkan kemanusiaan sebagai kompas yang menggerakkan langkah kakinya.

Saya membaca kehidupan Idrus Paturusi dalam biografi berjudul Dokter di Medan Lara yang dikirimkan Sili Suli. Pada biografi setebal 353 halaman terdapat banyak kisah inspirasi tentang seseorang yang selalu memilih hidup bergejolak, berpindah dari bencana satu ke bencana lainnya.

Saya selalu terkesan membaca kisah-kisah bagaimana seseorang menemukan ke mana dirinya hendak bergerak. Saya teringat bacaan pada biografi sejumlah tokoh besar yang juga menjalani masa kecil dengan penuh cerita-cerita kenakalan.

Saya pikir, kenakalan hanya manifestasi dari energi besar yang ada pada diri seorang anak. Orang-orang besar selalu menjalani masa kecil yang penuh gejolak, selalu berhadapan dengan masalah, sehingga ketika dewasa berani mengambil keputusan-keputusan berani.

Yang saya pelajari dari beliau adalah ada masanya seseorang memulai, dan ada masanya seseorang berhenti. Ketika dia memberontak, dia sedang menyalurkan energinya yang tidak tertampung di satu arena sosial. Namun saat dirinya menemukan fokus dan tahu apa yang hendak dituju, dia akan mengejar apa yang diimpikan tersebut.

Di masa kecil, Idrus sering menjalani misi berkelahi. Kini dia menjalani misi kemanusiaan. Dia menjadi figur yang siap ditempa semua masalah sehingga lebih tangguh dan meraih banyak hal-hal besar. Dia pun berani membuat beberapa keputusan berani, di antaranya adalah menjadi dokter di berbagai bencana. Dia menjadi setitik embun di tengah tangis dan pedih korban bencana.

Bahkan belum lama dinyatakan sembuh dari Covid-19, dia sudah sibuk dan menerjunkan dirinya dalam misi kemanusiaan. Dia ikut dalam berbagai pertemuan, merumuskan strategi mengatasi pandemi, ikut menemani lara para dokter yang berjibaku untuk menyelamatkan banyak orang.

Saya suka kutipan di akhir buku: “Sabar itu pahit. Jujur itu pahit, dan ikhlas itu sangat pahit, namun semua yang pahit menyembuhkan segala macam penyakit.



6 komentar:

kasri fapet said...

MasyaAllah, sungguh perjalanan hidup yang sangat mahal. makasih ilmunya prof

Sili Suli said...

Terima kasih untuk reviewnya yang keren ini. Sukses selalu bro Yusran

ANDI MAKKARAKA PUTRA WAJO said...

Salut buat beliau

Unknown said...

Senpai Idrus, begitu ayah saya sering menyebutnya. Kisah inspiratif.....

Faisal Burhanuddin said...

Kisah inspiratif..
Terima kasih reviewnya Kanda

Faisal Burhanuddin said...

Terima kasih reviewnya Kanda..

Post a Comment