Bahasa Tinggi




Saya sedang membaca satu buku yang ditulis seorang doktor bidang ilmu komunikasi dari satu PTN di Jakarta. Saya cukup terganggu dengan begitu banyak istilah asing serta kutipan di buku itu.

Tampaknya, di ruang akademis kita, amat banyak orang yang suka pakai bahasa tinggi. Yang dimaksud dengan bahasa tinggi di sini adalah penggunaan kata-kata yang diserap dari bahasa lain, penggunaan istilah-istilah bertaburan dalam teks dan kalimat, yang tak bisa dipahami semua orang.

Yang saya amati, beberapa orang suka menyebut bahasa tinggi bukan untuk menyampaikan maksud. Banyak di antaranya yang hendak mengesankan dirinya pintar, serta mendapatkan respek dari orang banyak.

Maklum saja, posisi sebagai kaum terpelajar dianggapnya lebih tinggi sehingga pantas mendapatkan penghormatan dari masyarakat biasa.

Coba saja hidupkan pesawat televisi. Amati dialog-dialog di situ. Pastilah Anda akan menemukan begitu banyak istilah dan bahasa tinggi yang hanya dipahami oleh segelintir orang.

Virus penggunaan bahasa tinggi bukan hanya melanda para akademisi dan pengamat di media, tapi juga merambah para politisi, kaum profesional, hingga para pekerja media. Yang sering terjadi adalah sering kali istilah yang digunakan justru tidak nyambung, serta membuat jarak dengan masyarakat awam.

Selain bahasa tinggi, sering pula kita lihat orang mengutip kosa kata bahasa Inggris. Saya kenal seorang kolega yang amat sering menggunakan istilah bahasa Inggris. Dia suka menyebut kata dignity, paradigm, dan science. Padahal saya tahu persis dia tidak pernah bisa melalui tes Toefl dengan nilai baik.

Saat membaca banyak buku yang ditulis akademisi dalam bahasa Indonesia, saya terkejut melihat begitu banyak kosa kata bahasa Inggris dalam teks. Demikian pula, saat membaca jurnal berbahasa Indonesia, saya juga menemukan hal yang sama. Padahal semua kata yang disebut sudah punya padanan dalam bahasa Indonesia.

Apakah istilah tinggi identik dengan ketinggian ilmu? Saya rasa tidak. Buktinya, buku-buku yang ditulis para profesor di luar negeri, seperti Jared Diamond, Steven Pinker, Carl Sagan, bahkan Carl Gustav Jung justru amat renyah dan ringan. Padahal mereka kaliber di bidangnya. Kurang cerdas apa mereka?

Saya tak mengerti sejak kapan tren penggunaan bahasa Inggris ini masuk dalam beberapa buku teks yang diterbitkan di tanah air. Bisa jadi, beberapa istilah sengaja ditampilkan dalam bahasa aslinya agar tidak terjadi pergeseran makna dari teks aslinya yang berbahasa asing.

Tapi persoalannya, penggunaan istilah-istilah itu menjadi kebablasan saat hal-hal sederhana disampaikan dalam bahasa yang sulit dipahami awam.

Mengapa kita suka menggunakan bahasa tinggi dan istilah-istilah bahasa Inggris? Sebab penggunaan kata itu akan dianggap keren, berkelas, serta punya cita rasa kaum terpelajar. Bisa saja menggantinya dengan kosa kata bahasa Indonesia. Namun kata itu akan kehilangan greget. Seolah-olah tidak ilmiah.

Saya juga menemukan hal lain. Saat membaca buku yang ditulis beberapa akademisi kita, saya terlampau banyak kutipan-kutipan serta nama-nama ilmuwan dari berbagai belahan bumi.
Saya bisa memahami kalau kutipan dan nama itu bertujuan untuk membentangkan peta permasalahan, mendiskusikan satu soalan secara luas dan mengetahui pendapat dan teori dari banyak orang yang pernah memikirkan hal yang sama, lalu menemukan celah-celah yang menunjukkan kebaruan dari perspektif yang ditawarkan.

Tapi dalam banyak kasus, sering kali kutipan dan nama ahli itu sengaja diperbanyak, lalu pendapat pribadi sang penulis tak banyak muncul di teks yang sedang dibaca. Yang kita temukan adalah parade kutipan, tanpa melihat bagaimana seseorang mendemonstrasikan gagasannya sendiri. Seakan-akan penulis hendak menunjukkan betapa mewahnya bacaannya.

Bagi saya sih, yang terpenting adalah pendapat orisinal seseorang, sesederhana apa pun itu. Setelah itu bagaimana dia mendialogkan ide-idenya dengan kenyataan di sekitarnya, termasuk melihatnya dari perspektif teori.

Jangan2 kita terlampau lama dijajah orang barat sehingga segala hal yang identik dengan barat akan dianggap keren, berkelas, dan oke punya. Makanya, kita berusaha memirip-miripkan gaya dan cara bertutur demi mengesankan diri kita go international dan berkelas.

Padahal yang terjadi adalah kita sedang mendemonstrasikan ketidakmampuan kita dalam berbahasa dan memilih diksi yang tepat. Kita berlindung di balik istilah yang kita sendiri tidak paham maknanya.

Padahal semakin tinggi intelektualitas seseorang, maka dia semakin bisa menyederhanakan sesuatu yang rumit. Semakin tinggi pengetahuan, maka seseorang akan semakin mampu menaklukkan kata.. Pengetahuan berguna untuk mencerahkan dunia, memisah terang dari gelap, serta memberikan arah bagi orang lain.

Saat mengakhiri tulisan ini, saya baru saja mendengar percakapan seorang terpelajar dan seorang masyarakat awam.

“Brother, apakah bisa kita melakukan sharing resources sehingga bisa tercipta landasan hidup yang lebih equal di antara kita? tanya seorang terpelajar kepada kawannya.
“Maksudmu?” kata kawannya.
“Maksud saya, resources harus dibagi rata biar tidak terjadi instabilitas sosial yang memicu konflik sebagai akibat dari segregasi sosial,”
“Saya tak ngerti,”
“Maksud saya, apakah rokok itu bisa dibagikan?”
“Ah, sialan kau, Ternyata kau hendak minta rokok. Ngapain pula memulainya dengan berbagai istilah-istilah tinggi!”

4 komentar:

Post a Comment