Jika AS dan Cina Perang, Apa Kata HARARI?


ilustrasi

Tak ada peristiwa sehangat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dalam dua pekan terakhir. Berawal dari pelarangan Huawei di AS, berlanjut ke isu perlombaan siapa tercepat dalam teknologi 5G, teknologi yang diyakini akan mengubah lanskap bisnis masa depan. 

Saat ini, AS dan Cina sedang terlibat perang dagang. Namun, ada pula yang memanas-manasi adanya perang beneran. Apakah mungkin di abad yang serba digital ini perang akan terjadi antar dua negara besar? Apakah mungkin peristiwa perang dunia kedua akan terulang?

Saya membaca artikel tentang perang yang ditulis sejarawan terkemuka Yuval Noah Harari di Time (Baca DI SINI). Dalam buku 21 Lesson for 21st Century, sejarawan Israel yang bukunya dibahas di seluruh dunia ini juga menjelaskan tentang perang. Saya tertarik untuk menarasikan ulang gagasan Harari demi melihat pertautannya dengan persaingan antara Amerika Serikat dan Cina.

Dulu, negara-negara seperti Amerika Serikat bisa memiliki wilayah luas karena perang dan penaklukan. Setiap jengkal wilayah didapatkan dari peperangan serta kehilangan ratusan ribu jiwa. Tapi di abad ke-21, perang bukan lagi jalan yang dipilih oleh negara-negara besar. 

Malah, hampir tidak mungkin dua kekuatan besar akan berhadapan. Ada beberapa sebab yang bisa diuraikan.

Pertama, adanya perubahan sifat ekonomi. Dulu, aset ekonomi adalah material sehingga perang bertujuan untuk mempermudah penaklukan dan penguasaan semua aset material. Pihak yang menang akan leluasa mencaplok semua kekayaan pihak yang kalah, mulai dari ladang gandum, ladang minyak, lumbung pangan, hingga cadangan emas.

Pada zaman dulu, pemenang perang akan merampas semua harta, aset material, serta menjual penduduk sipil sebagai budak. Perang membuat satu bangsa bisa kaya raya melalui pencaplokan.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, Hingga Kediktatoran Digital

Pada era kekinian, hal seperti itu tidak mungkin dilakukan. Aset ekonomi hari ini bukan lagi material, melainkan pengetahuan teknis dan kelembagaan. Kita bisa mencaplok wilayah, tapi tidak bisa menguasai sumber-sumber pengetahuan. 

Anda bisa mencaplok Google, tapi yang Anda dapatkan hanya kantor dan semua peralatan kerja. Padahal, kekuatan Google bukan di situ, melainkan pada pengetahuan, penguasaan teknologi, kerja sama kolektif dan berjejaring, kemampuan mencipta hal baru, kepandaian bisnis, hingga ekosistem kerja yang menjadikannya sebagai perusahaan hebat.

Kedua, perang bukanlah hal yang secara bisnis menguntungkan. Perubahan sifat ekonomi ini hanya membuat perang menjadi sia-sia belaka. Tak akan banyak kentungan yang didapat, sebab kerugian akan lebih besar. Mengingat hal ini, negara-negara besar akan saling menahan diri dan menghindari perang.

Iran sama sekali tidak mendapat keuntungan signifikan dengan perang Iran-Irak. Dulu, Jepang mengira bahwa invasi Korea, Manchuria, hingga Cina daratan akan membuat ekonominya melejit. Jepang mengira, tanpa invasi, ekonominya akan makin hancur. Ternyata, justru invasi itu yang membuat ekonominya makin terpuruk dan luluh-lantak.

Perang itu membuat mereka bangkrut dan kehilangan ratusan ribu jiwa, khususnya ketika bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Ajaibnya, ekonomi Jepang malah bangkit setelah kalah perang. Negeri itu bisa membangkitkan hasrat dan motivasi kuat dalam hal ekonomi. Mereka ingin membayar lunas semua rasa malu atas kekalahan itu dengan kegemilangan ekonomi. Mereka berhasil.

tiga buku yang ditulis Harari

Hari ini kita melihat Cina dengan kekuatan ekonomi yang sangat hebat. Tapi Cina akan berpikir seribu kali untuk menyerang Amerika. Kalkulasi biaya perang akan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapatkan. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang akan dihadapi Cina. Banyak negara akan memblokade, produk negeri itu tidak masuk dalam rantai perdagangan global, hingga hilangnya pasar.

Di abad ini, senjata-senjata punya kemampuan merusak yang sangat hebat. Ledakan nuklir bisa membuat satu negara lenyap. Tapi jika dihitung dari sisi keuntungan ekonomi, maka tak banyak yang bisa diraup. Kata Harari, sejak bom atom jatuh di Hirshima dan Nagasaki, kita nyaris tak pernah lagi mendengar ada negara yang dijatuhi bom atom. 

Perang akan berhasil membangkitkan ekonomi apabila pemenangnya bisa memiliki kendali atas perdagangan global yang sedang berlangsung. Itu dialami Inggris ketika mengalahkan Napoleon. Juga dirasakan Amerika Serikat ketika berhasil menjatuhkan Hitler.  Tapi di abad ke-21, kita tidak akan melihat hal seperti itu lagi.

Ketiga, perang yang paling berbahaya bukan lagi perang berhadap-hadapan dengan senjata canggih yang punya daya rusak hebat. Bukan lagi seperti perang yang dilihat dalam film Rambo. Perang yang lebih menakutkan adalah perang siber. Makanya, negara-negara yang sama-sama maju akan memilih untuk tidak terlibat perang mengingat dampak perang siber yang sangat besar.

Di era George W Bush, Amerika Serikat bisa dengan mudahnya menjatuhkan bom di Fallujah, Irak, sebab meyakini Irak tidak akan memberikan perlawanan yang sama pada kota-kota di Amerika seperti New York dan San Francisco. Demikian pula Rusia begitu pede saat menganeksasi Krimea, sebab militer Ukraina sengaja tidak memberikan perlawanan.

Namun dalam perang siber, Amerika akan sangat berhitung siapa yang dihadapi. Dia tidak akan berani menghadapi negara dengan kemampuan siber dan IT yang tangguh. Amerika berani berperang di Irak dan Afganistan, namun akan berhitung seribu kali jika menghadapi negara yang punya infrastruktur teknologi.

Mengapa? Sebab dalam perang siber, seorang remaja di Cina bisa saja merancang sistem informasi agar kereta saling tubruk di Boston dan New York. Bisa saja seorang anak muda di sudut Asia membuat pesawat-pesawat yang ada di Bandara John F Kennedy saling bertabrakan di udara. Semuanya bisa dimungkinkan sebab manusia amat tergantung pada kendali dunia digital. Sekali kenop ditekan, maka sistem bisa menghancurkan diri sendiri.

Meskipun semua analis menyatakan tidak mungkin, perang fisik bisa saja terjadi. Kita tak boleh mengabaikan kemungkinan itu. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kekuatan terpenting yang menyebabkan perang adalah kebodohan manusia.

Beberapa pemimpin dan jenderal melihat dunia seperti permainan catur, di mana ada gengsi dan harga diri. Mereka sesukanya menggerakkan pion, meskipun disebut telah melakukan kalkulasi matang. Mereka bisa mengabaikan banyak hal, termasuk bagaimana ekonomi satu negara, serta orang-orang biasa yang akan menjadi korban dari gerakan pion itu.

Hari ini pun kita melihat semua negara memperkuat persenjataan untuk menghadapi bangsa lain. Dunia bisa terjerembab dalam lubang yang sama ketika sejumlah orang marah dan bodoh memimpin lalu seenaknya menggerakkan pion dengan dalih harga diri dan kalkulasi rasional. Sejarah punya banyak catatan.

***

Beberapa pekan terakhir, kita sedang menyaksikan perang siber antara Amerika Serikat dan Cina. Amerika menuduh perusahaan teknologi Cina yakni Huawei telah menganggu keamanan nasional negara itu sebab ada dugaan spionase dalam produknya. Perusahaan raksasa Amerika yakni Google dan Facebook dilarang untuk bekerja sama dengan Huawei.

Cina tak lantas diam. Negara itu juga mengancam akan melawan tindakan Amerika dengan pembatasan beberapa ekspor teknologi mereka. Huawei diam-diam sedang mematangkan sistem operasi mereka sehingga tidak tergantung pada android yang dimiliki Google.

Tapi beberapa analis menyebutkan kalau konflik itu berpangkal pada kian majunya riset Cina mengenai teknologi 5G. Huawei perlahan mengungguli perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dalam hal riset teknologi 5G. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi di masa depan. Sebab kemajuan teknologi selalu diiringi perubahan lanskap bisnis dan kekuatan dunia.

Dahulu, teknologi 4G telah mengubah dunia menjadi lebih interaktif sehingga memungkinkan munculnya banyak startup seperti bukalapak, tokopedia, dan Gojek. Anda mungkin masih punya memori bagaimana teknologi 1G membuat Anda bisa punya HP, yang layarnya hanya memuat satu baris teks. Tiba-tiba di era 4G, Anda sudah bisa video call dengan siapa pun di belahan bumi mana pun.

Ketika era 5G masuk, perbandingan dengan 4G bagaikan televisi layar datar dibandingkan dengan tv cembung ukuran 14 inchi. Jika 5G mulai digunakan secara massal, maka interaksi akan jauh lebih cepat, latensi (waktu tunggu) lebih rendah. Anda tak perlu khawatir akan lambat loading. Kecepatannya lebih tinggi dari kedipan mata.




Beberapa perusahaan mencanangkan teknologi 5G akan sama pentingnya dengan listrik. Salah satu output dari teknologi ini adalah mobil otonom (tanpa driver) yang bisa “berkomunikasi” dengan mobil lain di jalan raya, industri kesehatan yang memungkinkan operasi jarak jauh serta penggunaan robot.

Bisa pula diterapkan untuk hiburan yang interaktif, belanja online, serta Internet of Things (IoT) yang digunakan di rumah hingga smart city, dan pertanian. Bahkan bisa digunakan untuk keperluan militer, khususnya perang dengan menggunakan drone dan robot yang dikendalikan dari pusat komando.

Marilah kita melihat satu contoh penggunaan teknologi 5G untuk mobil otonom. Saat ini semua industri otomotif bersiap menyambut era mobil otonom yang tidak lagi butuh sopir. Berkat teknologi V2X atau Vehicle to everything, mobil bisa "berkomunikasi" dengan mobil lain, juga dengan pejalan kaki atau orang, serta jaringan.

Berkat komunikasi dengan mobil lain, mobil otonom bisa mengetahui lokasi mobil yang berada di dekatnya. Sedangkan komunikasi dengan pejalan kaki akan berguna saat berkendara. Tatkala hendak menyeberang contohnya, perangkat yang digunakan pejalan kaki bisa mengingatkan akan mobil yang sedang melaju. Sementara, berkomunikasi dengan jaringan memungkinkan jaringan memberikan informasi mengenai kondisi yang lokasinya cukup berjarak, seperti adanya kecelakaan pada 2,5 kilometer di depan.

Makanya, Cina dan Amerika tidak akan bertempur secara fisik. Tapi mereka akan bertempur di lintasan perlombaan menjadi teknologi terdepan. Cina punya riset 5G yang maju, tapi Amerika sudah lama membangun ekosistem teknologi. 

Amerika Serikat punya kekuatan untuk memaksa semua perusahaan teknologi di negaranya agar memutus kerja sama dengan Huawei sehingga mengerdilkan perusahaan itu agar kekuatan teknologi tetap menjadi kebanggaan Amerika Serikat.

Tapi, dalam beberapa hari terakhir, Huawei melawan dengan sengit. Perusahaan ini sudah lama menyiapkan Plan B jika Plan A gagal. Huawei menjalin kerja sama dengan Rusia, serta negara Eropa lainnya. Huawei sedang menyiapkan serangan balik.

Di lanskap teknologi, kita sedang menyaksikan perang antara dua pemilik kekuatan besar. Keduanya bersaing untuk memperebutkan supremasi di bidang teknologi, sekaligus siapa yang mengendalikan wajah dunia di masa datang.

Dalam buku Homo Deus, Harari pernah bilang bahwa agama masa depan adalah dataisme. Semua orang akan bergerak mengikuti ke mana algoritma data yang sangat mengenali manusia lalu mengarahkan pilihan-pilihan manusia. Data akan lebih mengontrol manusia ketimbang kitab suci dan janji penyelamatan dalam agama samawi.

Kita sudah bisa menebak siapa yang akan kendalikan dunia di masa depan, yakni negara yang punya teknologi dan algoritma paling canggih, dalam hal ini Amerika Serikat dan Cina. Keduanya punya infrastruktur teknologi serta ekosistem yang memungkinkan lahirnya banyak inovasi untuk memimpin dunia.

Lantas, di mana posisi kita sebagai bangsa Indonesia yang penduduknya setiap saat jadi mainan hoaks sehingga sibuk tengkar dan rusuh hanya karena beda pilihan politik?




9 comments:

  1. πŸ‘‹πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  2. Blum lagi aktivis yg terjebak siang malam di kedai kopi diskusi dan seakan besok negara Sudh di Tolong.... Sementara Negara negara maju sdh Bekerja sejak Pukul 24 Jam full berinovasi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul. padahal kunci sukses harus dimulai dari disiplin. tidak ada negara hebat yang tidak bangun tradisi disiplin yang kuat.

      Delete
  3. Seru sekaligus menegangkan ya perang Amerika-China ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebagai publik, kita diuntungkan dengan perlombaan teknologi ini. minimal kita bisa lebih cepat menikmati teknologi 5G nantinya. tapi, perlu juga buat kita untuk perkuat barisan biar tidak selalu jadi pengikut dan penonton.

      Delete
  4. Saya masih membaca "Homo Deus" yang cukup mencengangkan

    ReplyDelete