Banyak Mutiara di Tanah Mandar (Ekspedisi Sulbar 1)


Vokalis Letto, Noe, saat diarak dalam satu ritual budaya Mandar

Suara azan menyambut saat saya tiba di Polewali Mandar. Bersama tiga kawan, saya datang dengan mobil carteran dari Makassar. Tanah Mandar terasa basah akibat hujan deras yang mengguyur semalam. Keluar dari mobil, saya disambut semilir angin yang sepoi-sepoi.

Biarpun jarang ke sini, tanah Mandar selalu menempati ruang khusus di hati saya. Semuanya bermula dari puisi yang ditulis penyair Madura, D Zawawi Imron, berjudul Nyanyian Gadis Mandar. Saya merinding saat melihat penyairnya membaca puisi itu di Baruga AP Pettarani Unhas, lebih 10 tahun lalu.

Dalam puisi itu, ada kisah seorang gadis Mandar yang menenun di tepi pantai sembari menanti kekasihnya seorang nakhoda perahu yang menantang samudera. Tanah Mandar adalah tanahnya para pelaut yang bertualang menembus samudera, menyebar di banyak pulau. Di banyak pesisir, orang Mandar berumah dan membaur dengan warga setempat, lalu berbagi pesona budaya maritim. Laut adalah semesta bagi mereka.

Dalam puisi itu, gadis Mandar bersyair:

“Kalau matahari
nanti tak terbit lagi di Tinambung
Meski tenunanku belum selesai
Kucari mayatmu ke gunung ombak
Di sana sajadah kuhampar
Sebagai bukti: dalam diri ada Mandar”

Sejak itu, Mandar menempati ruang khusus di hati saya. Di tambah lagi, saya berkawan dengan banyak orang baik di tanah ini. Tahun 2000-an, saya beberapa kali ke sini untuk melakukan riset di pedalaman tanah ini. Setiap kedatangan selalu spesial karena ada banyak orang yang menjadi keluarga.

Hari ini saya kembali ke tanah yang magis ini. Dalam perjalanan, seorang kawan bercerita tentang grup band Letto yang sering datang ke sini. Vokalis band Letto adalah Noe, yang merupakan putra sulung budayawan Emha Ainun Nadjib. Baru saya tahu kalau Noe dan ayahnya, Emha, rajin datang ke sini untuk berguru pada banyak orang.

Di zaman Orde Baru dan reformasi, Emha adalah budayawan paling produktif yang melahirkan banyak esai-esai di semua media. Seusai reformasi, dia seakan menghilang dari panggung politik dan budaya. Kata seorang kawan, rupanya dia banyak ke tanah Mandar dan berkontemplasi dengan bimbingan beberapa ulama setempat, tokoh adat, dan orang-orang alim di tanah Mandar.

Ketika putranya, Noe, hendak membentuk band, Emha memberinya nama LETTO. Saya baru tahu kalau nama Letto berasal dari bahasa Mandar yang artinya pematahan atau pemisahan. Letto bermakna mematahkan atau memisahkan sifat-sifat buruk dalam diri guna mencapai tahap demi tahap untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Saya terkesima. Jika ada waktu lebih di sini, saya ingin bertemu banyak orang dan berbincang tentang perjalanan menuju kearifan. Jika Emha yang lahir dan besar dari subkultur pesantren Jawa Timur, merasa betah dan kerasan di tanah Mandar, berarti ada banyak hal hebat di sini. Ada banyak mutiara, berupa hal metafisis dan spiritual, yang tak banyak diungkap, namun berdenyut dan ditemukan oleh orang-orang yang datang ke tanah ini.

Sayang, saya tak bisa berlama-lama di sini. Beberapa teman mengajak saya untuk bertemu Noe yang kebetulan sedang berada di Polewali. Dalam hati, saya berdoa semoga ada waktu lebih agar bisa menyerap banyak hikmah dan hal baik di sini. 

Setidaknya, bisa bertemu orang baik yang menyerap hikmah dan ajaran baik di tanah ini. Semoga.


1 comment:

  1. Ternyata LETTO diambil dari Bahasa Mandar ya, saya baru tau

    ReplyDelete