Menulis adalah Sebuah Perjalanan


LEBIH dua minggu saya mengisi waktu dengan mengumpulkan buku-buku tertentu lalu membacanya satu per satu. Beberapa hari ini, saya mulai menyicil proses penulisan makalah. Memang tidak mudah. Tapi semuanya harus dimulai. Jika tidak, saya bisa kewalahan untuk menuntaskannya, atau malah terancam tidak tuntas.

Saat membaca beberapa buku dan jurnal, saya melihat bahwa tidak semua ilmuwan memiliki kemampuan menulis yang bisa membuat kita lebih jernih melihat. Banyak di antara mereka yang malah gagal menghadirkan sensasi atau keterkejutan atas apa yang sedang dibahas. Namun ada pula yang bernas dan menulis dengan penuh daya ledak.

ilustrasi

Saya berkesimpulan bahwa artikel ilmiah yang baik bukanlah artikel yang penuh dengan kutipan atas tulisan banyak orang. Artikel yang baik adalah sebuah dialog yang dilakukan secara kontinyu antara seorang penulis dengan teks yang sedang diakrabinya. Demi menyusun peta jalan sesuatu yang dituliskannya, seorang penulis akan mengolah beragam material, mulai dari pengalamannya sendiri, bacaan-bacaan, fiksi, komentar seseorang di tepi jalan, hingga puisi atau syair yang berisi petunjuk atas apa yang hendak ditujunya.

Artikel yang baik adalah artikel yang menyisipkan banyak pertanyaan-pertanyaan, keraguan atas kebenaran yang bersarang di benak, serta berisikan kisah perjalanan untuk menemukan kebenaran. Pada kisah itu, terselip kejujuran seseorang untuk mengakui bahwa apa yang sebelumnya diyakini benar, tidak selalu benar pada akhirnya. Pada kisah itu, terselip sebuah pengharapan bahwa sejauh-jauhnya pengelanaan menuju jantung pengetahuan, senantiasa akan terbuka lapis-lapis misteri baru di jagad sains.

Maka seorang penulis atau peneliti adalah mereka yang merintis jalan untuk menemukan kenyataan sejati. Mereka tak pernah memberikan jawaban final, namun selalu memberikan isyarat, tanda, petunjuk, ataupun arah ke mana proses penumbuhan pengetahuan itu bergerak. Maka proses ilmiah menjadi proses perjalanan bagi seorang penulis atau peneliti untuk menemukan dirinya, serta momen untuk belajar dari setiap jengkal langkah kaki di belantara pengetahuan.

Sungguh teramat sayang, karena diri ini masih amat jauh dari proses tersebut. Saya ibarat berpijak di pasir pantai, dan hanya bisa melihat mereka yang sudah menyelam pada lapis-lapis terdalam samudera pengetahuan. Entah kapan bisa beranjak ke sana.


Athens, 20 Juli 2012

0 komentar:

Posting Komentar