Pemadaman Listrik Akibat Trans Studio World

ADA dinamika arus informasi yang menarik kala membahas pemadaman listrik di Makassar. Hampir warga yang menghuni semua situs pertemanan seperti facebook dan friendster, menyalahkan beroperasinya Trans Studio World --yang konon katanya—membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar sehingga menyedot listrik rumah tangga. Sementara para bos PLN sibuk menyalahkan pembangkit listrik tenaga air di Sulsel yang tidak bisa beroperasi maksimal karena debit airnya terbatas.

Saya agak skeptis dengan pernyataan para bos PLN tersebut. Kalau persoalan debit air, kenapa nanti tahun ini terjadi pemadaman listrik dalam waktu lama? Bukankah kemarau dan krisis air terjadi setiap tahun. Lantas, kenapa sampai harus tahun ini kita memelihara masalah yang sama. Apakah ini cuma akal-akalan saja dari PLN agar terjadi penggantian biaya instalasi pembangkit listrik, dan setiap penggantian itu, pasti banyak biaya yang masuk kantong pribadi. Apakah demikian? Saya tidak tahu.

Selama beberapa minggu para bos PLN menggelar konferensi pers, tetap saja tidak memadamkan rumor yang beredar tentang keberadaan Trans Studio World sebagai biang krisis listrik. Susahnya karena banyak pegawai PLN yang juga mengiayakan hal tersebut. Mereka juga mengatakan hal itu sehingga semakin kuatlah keraguan yang ada di benak masyarakat. Di sini ada dua arus besar informasi. Dari sisi bos PLN, mereka mereproduksi kebenaran sendiri, yang pada saat bersamaan juga dibantah para karyawan PLN dengan kebenarannya masing-masing.

Jika para bos PLN memanfaatkan media massa sebagai sarana untuk mengemukakan kebenarannya, maka para karyawan itu justru menyebarkan kebenarannya melalui rumor dan gosip yang menyebar seperti rumput liar yang disulut api.(*)


Makassar, 19 Oktober 2009

0 komentar:

Posting Komentar