Apakah Quraish Shihab Seorang Syi’ah?


SERU juga menyaksikan adu argumentasi di bedah buku Sunnah – Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? karya Prof Dr Quraish Shihab yang digelar di Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas, hari ini (26/10). Meski terlambat datang, saya cukup beruntung karena bisa menyaksikan langsung bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.

Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam.

Yang menarik karena Quraish Shihab adalah seorang sunni. Namun ke-sunni-an itu tidak menghalangi pandangannya untuk meneropong isu Islam secara proporsional. Ia tidak mau mengkafirkan para penganut syi’ah. Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain.

Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya. Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya.

Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia tetap sunni yang mencintai keluarga Rasul dan juga bersikap kritis pada masa silam. Ia menolak disebut syi’ah, sebab ia adalah penganut sunni. Tetapi ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip. “Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“

Sayangnya, kata Quraish, banyak di antara umat yang terjebak pada sikap yang picik, tanpa wawasan akal yang memadai. Tanpa menelaah kitab-kitab secara benar, banyak yang merasa dirinya paling benar dan tiba-tiba saja mengkafirkan yang lain. Ia tidak menampik fakta banyak ulama masa silam yang juga terjebak kebodohan, sehingga mempengaruhi umat di masa kini. Makanya, sikap kritis mesti diperlukan untuk menelaah kembali semua pemikiran di masa silam demi menemukan titik-titik kesamaan di masa kini.

“Kalau kita mau cari perbedaan supaya kita konflik, akan banyak sekali ditemukan. Namun, apa tujuannya kita berkonflik? Kita semakin membatasi diri kita. Lebih baik kita mencari titik kesamaan supaya kita bersatu sebagai sesama umat Islam,“ katanya.

Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.

Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.

Saya menikmati diskusi ini. Saya rasa akan sulit mendebat seorang profesor bidang hadis yang sudah menulis banyak buku tentang tafsir. Mendebat Quraish tentang hadis adalah mengajaknya berduel di sebuah arena yang amat dihapalnya. Ia menghabiskan hidupnya untuk menelaah kitab-kitab sehingga pengetahuannya membukit. Makanya, saya tak mau ikut-ikutan latah. Saya lebih memilih belajar kearifan darinya, belajar pada keikhlasannya untuk menyampaikan kebenaran, apapun resikonya.(*)

Comments
22 Comments

22 komentar:

Anonymous said...

ha,ha, itu sikap yang arif

sofia said...

Pak Quraish memang selalu berkata dengan dasar-dasar yang valid. Beragama namun tidak picik. Semoga Allah SWT selalu merahmati beliau. Amien.

Anonymous said...

pak qiraish membolehkan tidak berjilbab, apa ulama seperti itu yg jadi acuan? dia memang pinter memainkan ayat2 qur'an yg tidak pada tempatnya, dia menafsirkan dengan hawa nafsunya...
sesuatu yg mendasar saja dia sudah salah kaprah, apalagi membahas sesuatu yg orang awam banyak tidak mengetahuinya.
mudah2an dia mendapatkan hidayah Allah ke jalan yg diridhoi Allah dan mengikuti ajaran nabi muhammad SAW, karena banyak umat islam yg terpesona dengannya...

Anonymous said...

orang yang baru belajar fiqih memang omongnya suka sok pintar dan sok benar sendiri. mudah-mudahan mereka dapat hidayah dari Allah SWT, sehingga perilaku mereka yang justru memberi kesan negatif terhadap keindahan ajaran dan praktek berislam,bisa berubah sebagaimana akhlakul karimah yang diajarkan Rasulullah SAW.

randi dinanta said...

semoga orang yg menulis komen menjelek-jelekkan Quraish Sihab di atas mendapat hidayah Allah

Yayan said...

Bagiku, tidak ada bedanya shalat dibelakang imam yahudi, nashrani atau syiah.
(imam bukhari)

ad said...

ada baiknya baca ulasan berikut...

http://nahimunkar.com/quraish-shihab-syiah-dan-jilbab/

wallahua'lam bis showab....

Anonymous said...

menurut saya jangan sampai orang awam mudah menyalahkan Ulama, karena haknya orang awam adalah benyak belajar, bukan mencari kesalahan para Ulama. Wallahu A'lam.

Anonymous said...

berbeda-beda tapi tetap satu jua..
berpegang teguh pada Al-Qur'an dan hadist..

Synagog Iran said...

Dipersatukan apanya sunni - syiah? aqidahnya beda? tapi saya setuju kalo Syiah agama sendiri, jadi kita yang orang awam tau walau dipersatukan tapi ada pembatasnya dan tidak terjebak, seperti halnya Islam dan Kristen bisa bersatu dalam segi sosial bukan dalam Aqidahnya...

umar said...

yayan,hadist jangan dipotong potong seenaknya donk.

adi gm said...

inilah yg terjadi dengan umat islam sekarang.. bagaimana mereka memperlakukan seorang ulama besar , Profesor dibidang agama islam...tetapi di kritik dengan pemikiran anda yang baru mengetahui sedikit tentang islam...ironis

tita said...

lebih baik kita sebagai muslim berhati-hati karena banyak sekali orang2 kafir yg ingin meruntuhkan islam dengan "kedok islam"
#semoga lebih waspada

Anonymous said...

@ Yayan, mungkin maksud Anda ini :) :
Imam Bukhari mengatakan (thd orang syi'a), "Bagiku tak ada beda
shalat di belakang Yahudi atau Nashrani dengan dibelakang Rafidlah!"
maksudnya Imam Bukhari men-sifati Rafidlah telah keluar dari millah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Beliau rahimahullah menyamakan Rafidlah Syi'a dengan yahudi dan nashara

Anonymous said...

ke ulamaan seseorang bukan hanya dari kepandaiannya memainkan ayat2 tetapi sejauh mana dia mau mengamalkan ayat2 secara maklum... jngn tertipu dng penampilan...aqidah adalah hal mendasar dlm islam kalau aqidah sudah rusak apa yg akan di bahas lagi.. syiah jelas sesat tetapi tdk mau mengatakannya ..sama saja menyembunyikan kebenaran

Anonymous said...

Pak Quraish cuma manusia. Jangan memujanya. Soal ilmu dibandingkan dengan sahabat2 nabi, semisal Umar bin Khattab-pun dia belum ada seujung kukunya Umar yg jika dikumpulkan semua ilmu semua umat di dunia belum dapat menyaingi ilmunya Umar. Jadi biasa sajalah. Coba silakan lihat orang-orang ber-ilmu tinggi lain ndak apakah dengan seenaknya mengatakan orang awam bodoh seperti pak Quraish. Dia saja tidak bisa menyuruh anak2nya memakai hijab, lalu membenarkan kelakuan anak2nya di depan umat, dan meliuk2an kewajiban hijab pagi para muslimah, ini adalah suatu hal yang paling memalukan daripada seorang ulama besar yang pernah saya lihat, apalagi semua anak beliau perempuan. Beliau memang seorang pandai berilmu tinggi agama, tapi dia tetap seorang manusia biasa yang bisa keliru. Semoga saja beliau kembali pada Islam yang kaffah, bukan hanya atas nafsu-nya sendiri, umat biarpun 'bodoh' masih bisa berpikir kok, kan ilmu gak cuma dari pak Quraish. Ulama mana yang mengatakan hijab tidak wajib????

Anonymous said...

baru belajar dari internet aja atau dari beberapa ustadz laga nya udah kayak belajar berapa tahun, setuju dengan ustadz quraishihab, jaman sekarang terlalu mudah sesama muslim di kafirkan

Anonymous said...

Pada sok jadi pendekar buta sih jaman sekarang.. Kebanyakan pada berpenyakit jiwanya, iri dengki karena kebodohan itu ngga ada manfaatnya. Masing2 pada pengen jadi Tuhan sih.. susah.

Anonymous said...

Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah disibukkan mencari-cari kesalahan orang lain! Berfikir Positif, TUHAN lebih TAHU!!!

Anonymous said...

banyak komentar anonymus bernada miring. ga jelas juga bener2 muslim atau aktivist (missionaris) non-muslim yang berpura2 kasih komentar memanas2i seolah dari seorang muslim juga.. hati2 jgn terpancing..

Bai Ruindra said...

Sejak dulu sudah ditegaskan Islam aka terpecah mnjdi 71/73 golongan. Itu tidak terbantahkan. Dan teman2 yg meremehkan Quraish Shihab seprt sedang makan kerupuk, bunyi saja tp tak bisa kenyang. Beliau jg tdk mengatakan larangan jilbab, org2 yg awam agama lantas melihat Najwa ta berjilbab lalu beliau disalahkan. Bukankah tanggung jawab org tua selesai saat anak aqil balig dn sdh menikah?
Saya suka kutipan ini "Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“
Sebaiknya kita belajar Islam lbih dalam lagi, yg debat di atas mngkn saja Tafsir AlMisbah hny dibaca kulitnya saja.

Anonymous said...

Pembelaan seperti ini yang ingin saya baca... InsyaAlloh beliau-Quraish Shihab bukan spt tuduhan syiah org2.. He still d best one Ulama dat indonesian have

Post a Comment

Terpopuler Bulan Ini

...

...