Ironi Jusuf Kalla

SEDIH juga melihat posisi Jusuf Kalla (JK) belakangan ini. Gimana nggak sedih, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seolah tidak mau melirik namanya lagi sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang diajukan Golkar. Padahal, Kalla adalah aktor paling penting dari keberhasilan citra pemerintahan. Kalla bekerja dengan sepenuh hati agar pemerintahan ini berjalan efektif. Sayangnya, kerja kerasnya hanya ditunai oleh Presiden SBY. Kerja keras Kalla itu hanya menguntungkan Partai Demokrat.

Justru Kalla yang menjelma jadi aktor antagonis. Seorang ibu di Kompelks Duren Tiga menyimpan geram kepadanya. Katanya, Kalla yang selama ini menaikkan BBM, kemudian semena-mena terhadap presiden. “Semua kebijakan yang jelek-jelek itu dari Jusuf Kalla. Kasihan Sby selalu jadi bulan-bulanan Kalla,” katanya dengan geram. Saya hanya diam saja. Kita memang berada pada suatu era di mana kita kabur dalam memandang kenyataan. Batas antara pahlawan dan pecundang kian samar hingga kita semaput dan tak berdaya.

Namun, berapa banyak rakyat Indonesia yang paham fakta ini? Berapa banyak yang mengerti bahwa Kalla adalah arsitek utama di belakang pemerintahan? Berapa banyak yang mengerti, sebagaimana mengertinya Ahmad Syafii Ma’arif bahwa Kalla dalah the real president? Lantas, apakah posisi Kalla memang hanya untuk melayani serta menghamba demi langgengnya kekuasaan sang presiden?



0 komentar:

Posting Komentar