Roda Zaman Menggilas Media Kita, Terseret Tertatih-Tatih
![]() |
| saat di ruang redaksi CNN Indonesia |
Beberapa hari terakhir saya agak sedih mendengar kabar tentang sejumlah media di Makassar yang berhenti atau segera mengakhiri operasinya. Ada media cetak, media online, juga televisi lokal.
Sebagian sudah cukup lama hadir dan menjadi bagian dari kehidupan kota ini. Kita mengenal nama medianya, mengenal wartawannya, bahkan kadang mengenal orang-orang yang bekerja di balik layar.
Menjelang akhir bulan, kabar itu datang hampir bersamaan. Beberapa media memilih berhenti.
Entah mengapa saya teringat Ebiet G. Ade. Ada satu penggalan lagunya yang sejak dulu saya suka: “Roda zaman menggilas kita. Terseret tertatih-tatih.” Dulu saya mendengarnya sebagai lirik lagu yang bagus. Sekarang rasanya lain.
Mungkin memang begitulah zaman bekerja. Ia tidak selalu datang dengan tanda-tanda yang jelas. Tahu-tahu kebiasaan orang berubah, teknologi berganti, pasar berpindah, dan sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap mapan perlahan kehilangan tempat.
Media sedang berada dalam pusaran itu.
Saya masih ingat masa ketika koran menjadi benda yang dicari setiap pagi. Di Makassar, koran ada di meja-meja warung kopi. Kadang satu koran dibaca bergantian oleh beberapa orang. Berita politik diperdebatkan, hasil pertandingan sepak bola dibicarakan, kolom opini diberi garis dengan pulpen. Satu judul besar di halaman depan bisa menjadi percakapan sepanjang hari.
Saya masih ingat masa-masa ketika semua orang penting dan merasa penting berebut ingin tampil di media. Sebagai wartawan, setiap hari saya diajak bertemu di kafe-kafe mahal, restoran, bahkan bar-bar yang menyajikan wine mahal. Di masa itu, wartawan adalah sahabat yang selalu dicari. Berteman dengan wartawan adalah aset politik, juga aset bisnis.
Televisi pernah mengalami masa yang kurang lebih sama. Ada masa ketika berita malam ditunggu. Wartawan televisi datang membawa kamera besar ke sebuah peristiwa dan orang-orang memberi jalan. Kehadiran kamera menandakan bahwa sesuatu dianggap penting untuk diketahui publik.
Mengingat masa seperti itu memang mudah membuat kita romantis.
Ben Bradlee, editor legendaris The Washington Post pada masa Pentagon Papers dan Watergate, pernah menyebut jurnalisme harian sebagai pekerjaan terbaik di dunia. Ketika usianya semakin tua dan industri media sudah banyak berubah, Bradlee tetap mengenang masa-masa itu dengan penuh kasih.
Tetapi menariknya, ia tidak mengatakan bahwa generasi sesudahnya lebih buruk. Dunia berubah dan jurnalisme ikut berubah.
Saya suka cara Bradlee memandang masa lalu. Kita boleh merindukannya tanpa harus menganggap semua yang datang kemudian sebagai kemunduran.
Sebab kenyataannya memang sudah jauh berbeda.
Sekarang sebuah peristiwa bisa diketahui publik bahkan sebelum wartawan tiba. Seseorang mengeluarkan telepon genggam, merekam beberapa detik, mengunggahnya, lalu dalam hitungan menit video itu sudah beredar ke mana-mana. Kita tidak perlu menunggu koran besok pagi. Kita bahkan tidak perlu menunggu berita malam.
David Simon, mantan wartawan The Baltimore Sun yang kemudian dikenal lewat serial The Wire, pernah menulis tentang generasinya. Ia mengenang akhir 1970-an ketika sekolah-sekolah jurnalistik dipenuhi anak muda yang terpesona oleh Watergate.
Mereka membaca kisah para reporter, membayangkan nama mereka tercetak sebagai byline, lalu masuk ke ruang redaksi dengan keyakinan bahwa jurnalisme adalah pekerjaan yang penting.
Setelah mengenang semua kegairahan itu, Simon mengajukan pertanyaan yang sangat pendek: “What the hell happened?”
Saya tersenyum pahit membaca kalimat itu. Pertanyaan yang sama rasanya bisa diajukan di Makassar hari-hari ini. Apa sebenarnya yang terjadi?
Jawabannya tentu panjang. Internet datang. Media sosial mengambil perhatian orang. Algoritma menentukan apa yang muncul di layar kita. Belanja iklan berpindah. Ongkos produksi tetap berjalan, sementara sumber pendapatan lama semakin mengecil. Kebiasaan membaca juga berubah. Orang menginginkan informasi yang cepat, pendek, dan kalau bisa gratis.
Kita bisa menjelaskannya dengan grafik dan angka. Tetapi angka selalu terasa berbeda ketika yang dibicarakan adalah orang yang kita kenal.
Beberapa hari ini saya mendengar cerita tentang pekerja media yang mulai menghubungi teman-temannya. Ada yang bertanya apakah ada lowongan. Ada yang menitipkan CV. Ada pula yang berharap masih bisa bekerja di bidang yang telah ditekuninya bertahun-tahun.
Di situ saya merasa penjelasan tentang disrupsi digital tiba-tiba terdengar sangat dingin.
Sebab orang yang kehilangan pekerjaan itu bukan angka dalam laporan industri media. Bisa jadi ia wartawan yang belasan tahun berpindah dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Bisa jadi kamerawan yang sudah merekam ribuan kejadian.
Atau editor yang terbiasa pulang larut karena halaman harus naik cetak atau berita harus segera tayang. Di belakang mereka masih ada tenaga pemasaran, administrasi, teknisi, pengemudi, dan banyak orang yang namanya tidak pernah muncul dalam berita.
Mereka datang setiap pagi, mengerjakan bagian masing-masing, lalu tanpa terasa sepuluh atau lima belas tahun berlalu.
Kemudian suatu hari diberi tahu kalau bulan ini adalah bulan terakhir.
Saya mencoba membayangkan suasananya. Membereskan meja kerja, membawa pulang buku-buku yang selama ini dibiarkan bertumpuk, mug kopi, kartu pers lama, atau foto bersama kawan-kawan kantor. Mungkin ada sedikit bercanda agar suasana tidak terlalu muram. Setelah itu komputer dimatikan dan pintu kantor ditutup.
Besok pagi, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak perlu lagi datang ke sana. Dan mencari tempat baru sekarang tidak mudah.
Media lain pun sedang berhitung. Berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan, berapa pemasukan yang masih bisa diharapkan, berapa orang yang benar-benar dibutuhkan. Ada keinginan membantu sesama pekerja media, tetapi ada pula kenyataan bisnis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan niat baik.
David Simon pernah mengingatkan bahwa jurnalisme adalah profesi. Profesi membutuhkan karier, dan karier pada akhirnya membutuhkan penghasilan yang memungkinkan seseorang menjalani hidup dengan layak. Pertanyaan besar jurnalisme hari ini karena itu bukan cuma bagaimana berita dibuat, melainkan siapa yang akan membiayai pekerjaan membuat berita tersebut.
Saya kira di situlah salah satu persoalan terbesar kita.
Bukan karena orang tidak lagi membutuhkan informasi. Setiap hari kita justru mengonsumsi informasi lebih banyak daripada sebelumnya. Masalahnya, kita belum sepenuhnya menemukan cara baru untuk membiayai pekerjaan jurnalistik setelah model lama perlahan kehilangan kekuatannya.
Bagi media lokal, persoalannya terasa lebih dekat. Wartawan lokal mengenali kota dengan cara yang berbeda. Mereka tahu lorong-lorongnya, mengenal aktivis mahasiswa, pejabat, seniman, pedagang pasar, pengusaha, juga orang-orang biasa yang barangkali tidak pernah dianggap cukup penting untuk muncul di media nasional.
Ketika banjir datang, mereka tahu wilayah mana yang biasanya lebih dahulu terendam. Ketika terjadi sesuatu di kampus, mereka tahu siapa yang harus dihubungi. Mereka merekam Makassar dari jarak dekat.
Itulah yang membuat saya merasa kehilangan ketika sebuah media lokal berhenti. Yang hilang sebenarnya bukan cuma satu perusahaan. Kota ini kehilangan satu pasang mata yang selama bertahun-tahun mengamatinya.
Dan mungkin juga kehilangan sebagian ingatannya.
Cobalah membuka koran dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Berita yang ketika ditulis mungkin terasa biasa sekarang menjadi dokumen sejarah. Kita melihat wajah kota yang berbeda, jalan yang belum selebar sekarang, pasar yang sudah tidak ada, nama-nama yang dahulu sangat terkenal tetapi perlahan terlupakan.
Begitu pula arsip televisi. Di sana tersimpan wajah orang, suara, gedung, jalan, demonstrasi mahasiswa, pertandingan sepak bola, banjir, kebakaran, pemilu, wisuda, dan berbagai kejadian yang pada masanya dianggap hanya berita hari itu.
Ternyata berita mempunyai umur yang lebih panjang daripada yang kita bayangkan.
Karena itu saya sulit melihat tutupnya media hanya sebagai cerita tentang sebuah perusahaan yang kalah bersaing. Rasanya ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Satu cara hidup sedang berubah, mungkin juga satu zaman sedang pelan-pelan meninggalkan kita.
Saya tentu tidak ingin mengatakan bahwa masa lalu selalu lebih baik. Bradlee sendiri tidak melihatnya begitu. Teknologi akan terus berubah. Bentuk media juga akan berubah. Generasi baru mungkin menemukan cara kerja yang bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Mungkin media memang tidak mati. Yang sedang berakhir adalah satu cara lama untuk menghidupinya.
Tetapi pengetahuan semacam itu tidak serta-merta menghilangkan kesedihan ketika melihat orang-orang yang kita kenal mulai mencari pekerjaan baru.
Hari-hari ini saya kembali mendengar Ebiet. “Roda zaman menggilas kita. Terseret tertatih-tatih. Sungguh hidup terus diburu. Berpacu dengan waktu”
Dulu saya mendengarnya sebagai lagu. Sekarang saya teringat wajah kawan-kawan yang bertahun-tahun hidup di ruang redaksi. Ada yang masih ingin menulis, masih ingin memegang kamera, masih senang mengejar berita, tetapi mendapati dunia tempat mereka bekerja berubah jauh lebih cepat daripada yang pernah mereka bayangkan.
Roda zaman memang tidak punya kewajiban menunggu kita. Ia terus berputar. Ia bergerak.
Yang membuat saya sedih bukan karena sebuah koran tidak lagi terbit atau sebuah layar televisi menjadi gelap. Saya sedih karena tahu, di balik semua itu, ada orang-orang yang besok pagi terbangun dan untuk pertama kalinya tidak tahu harus berangkat kerja ke mana.
Sebagian dari mereka adalah orang yang kita kenal. Sebagian lagi adalah kawan-kawan kita sendiri. Bahkan kita adalah bagian dari mereka.
