Mengapa Golkar Sangat Membutuhkan Fahd A Rafiq?



Berita itu datang cepat dan mengejutkan banyak orang. Fahd A Rafiq, salah seorang pengurus DPP Partai Golkar, kembali ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi. Media segera membuka kembali arsip lama dan menemukan angka yang membuat ceritanya semakin dramatis: ini kali ketiga Fahd berurusan dengan KPK. Ini hattrick!

Media berspekulasi akan ada menteri dari Golkar yang bakal jadi tersangka. Namun lebih menarik saat melihat respon petinggi Golkar. Ada yang mengecam, ada pula mencaci. Ada yang mulai bertanya apakah Golkar sedang menjadi sasaran, apakah kasus ini akan merembet ke elite lain, bahkan muncul kecurigaan bahwa pohon beringin sedang “digergaji”. 

Spekulasi semacam itu tentu tidak dapat diterima begitu saja tanpa bukti. KPK sendiri menegaskan bahwa penyidikan berfokus pada dugaan perbuatan dalam perkara pengurusan HGB di Kabupaten Bogor, bukan latar belakang politik Fahd.

Namun kasus Fahd justru membuka pertanyaan yang lebih menarik. Barangkali kita terlalu sibuk mencari siapa yang sedang menggergaji beringin, sehingga lupa melihat sesuatu yang telah lama tumbuh di bawahnya. 

Faktanya, bukan cuma Fahd yang membutuhkan Golkar, namun partai itu justru membutuhkan banyak orang seperti Fahd. Mengapa? Mari kita lihat secara antropologis.

Politik Indonesia sejak lama hidup bukan hanya melalui struktur resmi partai, tetapi juga melalui jaringan, hubungan personal, perantara, dan orang-orang yang mampu menghubungkan satu kepentingan dengan kepentingan lainnya. Praktik semacam itu bukan ranting yang tiba-tiba tumbuh. Dalam banyak organisasi politik, ia telah menjadi bagian dari akar. Di titik itulah Fahd menarik untuk dibaca.

Pada 2012, Fahd divonis dua tahun enam bulan penjara dalam perkara suap Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah. Lima tahun kemudian, ia kembali berhadapan dengan KPK dalam perkara pengadaan Al-Qur'an dan laboratorium komputer Madrasah Tsanawiyah di Kementerian Agama dan kemudian divonis empat tahun penjara. 

Orang mungkin mengira perjalanan politiknya selesai, tetapi Fahd kembali. Dalam kepengurusan Golkar 2024–2029 di bawah Bahlil Lahadalia, ia bahkan dipercaya menjadi Ketua Bidang Hubungan Organisasi Kemasyarakatan.

Kemudian datang September 2026 dan perkara ketiga. Untuk kasus terbaru ini, Fahd masih berstatus tersangka. Pengadilanlah yang nantinya menentukan apakah ia bersalah atau tidak. Namun dua perkara terdahulu dan kemampuannya kembali ke jantung organisasi meninggalkan satu pertanyaan: mengapa political broker begitu sulit mati dalam organisasi politik?

Orang yang Mengenal Orang

Ilmu politik mengenal aktor yang berfungsi sebagai perantara melalui konsep political broker. Susan Stokes, Thad Dunning, Marcelo Nazareno, dan Valeria Brusco dalam Brokers, Voters, and Clientelism menjelaskan bahwa elite partai mempunyai keterbatasan untuk menjangkau seluruh jaringan sosial dan politik di bawahnya. Karena itu, mereka membutuhkan orang yang dapat menjadi jembatan antara elite dengan berbagai kelompok.

Seorang broker tidak harus menjadi politisi paling populer. Nilainya justru terletak pada siapa yang dikenalnya, jaringan yang dapat dijangkaunya, serta kemampuannya mempertemukan orang dan kepentingan. Dalam bahasa sederhana, ia tahu siapa yang harus ditelepon, pintu mana yang harus diketuk, dan siapa yang harus dipertemukan ketika organisasi membutuhkan sesuatu.

Perspektif itu membantu kita untuk membaca Fahd. Kariernya sejak lama tumbuh melalui organisasi. Ia bergerak di Gema MKGR, AMPG dan KNPI, kemudian memimpin Barisan Pemuda Nusantara atau Bapera. Ketika kembali masuk DPP Golkar, posisi yang diberikan kepadanya juga sangat sesuai dengan habitat tersebut: hubungan organisasi kemasyarakatan.

Artinya, modal politik Fahd tidak terutama berada pada panggung elektoral. Modalnya berada pada jaringan.

Ekosistem Fahd

Seorang political broker tidak pernah hidup sendirian. Nilainya muncul karena ada ekosistem yang membutuhkan fungsi penghubung. Di satu sisi terdapat elite partai, sementara di sisi lain ada ormas, organisasi pemuda, kader daerah, aktivis, pengusaha, pejabat, dan tokoh masyarakat. Mereka mempunyai kepentingan berbeda dan tidak semuanya mempunyai akses langsung satu sama lain.

Di ruang itulah seorang broker bekerja. Ormas membutuhkan akses menuju elite, sementara elite membutuhkan jalan menuju jaringan masyarakat. Kader daerah membutuhkan pintu menuju pusat, sementara pusat membutuhkan orang yang memahami struktur dan tokoh di daerah. Organisasi membutuhkan konsolidator, sementara berbagai kelompok membutuhkan seseorang yang mampu menerjemahkan kepentingan mereka ke dalam bahasa politik.

Jejak Fahd memperlihatkan pergerakannya di beberapa dunia tersebut. KNPI memberinya jaringan kepemudaan, Gema MKGR dan AMPG membawanya ke dalam ekosistem Golkar, Bapera memperluas jaringan organisasinya, sementara posisi Ketua Bidang Hubungan Ormas menempatkannya tepat pada persimpangan antara struktur partai dan organisasi di luarnya.

Di sinilah ekosistem memperoleh manfaat dari seorang broker. Bukan karena broker selalu mempunyai kekuasaan formal yang besar, tetapi karena ia memperpendek jarak antarsimpul kekuasaan.

Gretchen Helmke dan Steven Levitsky menyebut pentingnya informal institutions untuk memahami politik. Di samping jabatan dan aturan resmi, terdapat hubungan serta aturan tidak tertulis yang ikut menentukan bagaimana kekuasaan bekerja. Karena itu, bagan organisasi tidak pernah mampu menjelaskan seluruh kekuatan dalam sebuah partai.

Bagan dapat menunjukkan siapa ketua umum dan siapa ketua bidang, tetapi tidak menunjukkan telepon siapa yang akan diangkat ketika ada persoalan. Struktur tidak memperlihatkan siapa yang dipercaya menjadi perantara, siapa yang dapat mempertemukan dua kelompok yang bertikai, atau siapa yang mampu membuka pintu menuju lingkaran tertentu.

Mengapa Partai Masih Membutuhkannya?

Dari sini, pertanyaan mengenai Fahd menjadi berbeda. Bukan lagi sekadar mengapa Golkar menerima kembali seseorang yang pernah dua kali menjalani hukuman, tetapi apa yang membuat Fahd tetap mempunyai nilai bagi organisasi.

Partai politik membutuhkan banyak jenis manusia. Ada figur populer untuk memenangkan suara, intelektual untuk menghasilkan gagasan, organisator untuk menggerakkan struktur, negosiator untuk menyelesaikan konflik, dan penghubung untuk menjaga jaringan. Fahd tampaknya mempunyai modal kuat pada wilayah terakhir.

Karena itu, mungkin partai tidak perlu terlalu ambivalen ketika menjelaskan orang seperti Fahd. Ketika seorang kader menghasilkan sesuatu yang menguntungkan organisasi, partai dengan bangga menyebutnya sebagai kader. 

Namun ketika kader yang sama menghadapi perkara hukum, persoalan itu segera disebut sebagai tindakan pribadi. Secara hukum, pemisahan tersebut benar karena pertanggungjawaban pidana memang individual. Tetapi secara politik, hubungan kader dan organisasi jauh lebih rumit.

Jika jaringan seorang kader memang berguna, akui bahwa jaringan itu berguna. Jika kemampuan konsolidasinya dibutuhkan, katakan bahwa ia dibutuhkan. Pengakuan tersebut tidak berarti membenarkan pelanggaran hukum. Justru dari sanalah pertanyaan yang lebih serius dapat diajukan: bagaimana sebuah partai mengontrol orang yang mempunyai jaringan begitu besar sehingga organisasi merasa sulit melepaskannya?

Akar Beringin

Barangkali di situlah kita bisa kembali kepada kegaduhan ketika Fahd ditangkap. Orang boleh berspekulasi bahwa beringin sedang digergaji. Namun kasus Fahd mengajak kita melihat bukan hanya siapa yang berdiri membawa gergaji, melainkan apa yang selama ini tumbuh di bawah pohon tersebut.

Political broker sulit mati karena kekuatannya tidak sepenuhnya berasal dari jabatan. Kekuatannya tersimpan dalam hubungan. Ketua umum bisa berganti, menteri bisa di-reshuffle, pengurus partai bisa diganti dalam satu surat keputusan, tetapi jaringan manusia mempunyai umur yang berbeda. 

Selama seseorang masih dipercaya oleh jaringan tertentu, masih mengetahui cara menggerakkan organisasi, dan masih mampu membuka pintu yang sulit dibuka orang lain, ia tetap mempunyai nilai politik.

Fahd A Rafiq membuat kita melihat sisi politik tersebut dengan lebih jelas. Perkara terbarunya harus diserahkan kepada proses hukum, tetapi perjalanan politiknya menunjukkan bahwa penjara tidak otomatis menghapus jaringan. Seseorang bisa kehilangan jabatan dan kebebasan, tetapi hubungan yang dibangunnya selama bertahun-tahun dapat tetap bertahan.

Maka pertanyaan mengenai Fahd sesungguhnya bukan sekadar mengapa ia selalu bisa kembali. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa organisasi politik masih membutuhkan orang seperti dirinya.

Jawabannya mungkin terletak jauh di bawah panggung politik, di tempat yang tidak terlihat oleh kamera dan tidak tercantum dalam struktur resmi: pada jaringan, hubungan personal, dan orang-orang yang hidup dengan menghubungkan satu kepentingan dengan kepentingan lainnya.

Pada akhirnya, barangkali politik memang menyerupai pohon tua. Kita melihat batangnya, mengenali daun dan buahnya, serta mengetahui siapa yang sedang duduk di bawah rindangnya. Namun kita jarang mengetahui ke mana akar-akarnya menjalar dan dengan akar mana ia saling bertaut.

Karena itu, ketika suatu hari terdengar suara gergaji di sekitar pohon, jangan hanya melihat siapa yang memegang gergaji. Sesekali lihatlah ke bawah tanah. Di sanalah jaringan tumbuh, kepentingan bertemu, dan orang-orang seperti Fahd memperoleh daya hidupnya.

Sebab dalam politik, jabatan bisa dicabut, kekuasaan bisa berpindah, dan pintu penjara bisa tertutup kembali. Tetapi selama jaringan masih hidup, seorang broker selalu tahu jalan pulang.